Budi Setyo Utomo, Perangkat Desa Banjarejo yang Jago Menemukan Benda Purbakala

 

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Melihat penampilannya yang sederhana dan bersahaja memang terkesan biasa saja. Tetapi, siapa sangka di balik kesederhanaannya, pria ini ternyata punya talenta luar biasa. Yakni, mampu mendeteksi keberadaan benda purbakala yang ada di desanya.

Ya, pria ini adalah Budi Setyo Utomo yang sehari-harinya menjabat sebagai Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Banyaknya temuan benda purbakala di Banjarejo tidak bisa dipisahkan dengan sosok pria berusia 37 tahun itu.

Dari cerita warga setempat, Budi memang sudah lama dikenal mahir untuk mendeteksi keberadaan fosil yang terpendam dalam tanah.

Selain yang berukuran kecil, beberapa fosil berukuran besar juga sudah ditemukan yang akrab dipanggil Mbah Modin itu. Antara lain, penemuan fosil kepala kerbau raksasa pada bulan September 2015. Kemudian, beberapa bulan berikutnya, Budi

berhasil mengendus keberadaan fosil gading gajah purba dan bagian tempurung kepala banteng purba. Beberapa waktu sebelumnya, beragam potongan fosil juga bisa ditemukan di lokasi yang berbeda tetapi masih di kawasan Desa Banjarejo.

Temuan terbaru adalah fosil kepala banteng purba yang berusia hampir 1 juta tahun. Fosil ini sempat diperlihatkan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meresmikan Desa Wisata Banjarejo akhir Oktober lalu.

“Kehebatan Pak Budi dalam urusan fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan julukan Profesor Fosil padanya,” ungkap beberapa warga Banjarejo.

Meski bukti hasil penemuannya sudah tidak terhitung banyaknya namun saat dikonfirmasi masalah ini, Budi selalu bersikap merendah. Ia selalu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting. Saya tidak punya ilmu khusus apalagi japa mantra buat mendapatkan fosil,” kata lulusan MTs itu.

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya saja, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Bapak dua anak itu mengaku bangga karena selama ini, sudah ribuan orang yang berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya. Dia juga merasa bangga karena berhasil bertemu dengan salah satu pengunjung ternama. Yakni,  ahli arkeologi ternama di dunia dari Perancis, Profesor Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016).

“Saat kesini saya sempat bertemu dan berharap mereka mau melakukan penelitian kesini. Mereka menjajikan akan datang tahun depan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika jasa perangkatnya dalam penemuan fosil purbakala itu sangat besar. Dia berharap, agar dalam waktu mendatang bisa ditemukan lagi benda purbakala untuk menambah koleksi yang saat ini masih tersimpan di rumahnya.

Editor : Akrom Hazami