Fotografer di Area Menara Kudus Raih Pendapatan yang Wow!

Seorang fotografer menata gaya kliennya di Menara Kudus, sebelum kegiatan berfoto dilakukan, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang fotografer menata gaya kliennya di Menara Kudus, sebelum kegiatan berfoto dilakukan, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Fotografer di kawasan Menara Kudus ternyata mendapatkan penghasilan yang tidak bisa dianggap remeh. Di hari libur khususnya, seorang fotografer bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp 400 ribu. Sedangkan di hari biasa, pendapatan mereka sekitar Rp 100 ribu per hari.

Mashud, salah seorang fotografer kawasan Menara Kudus, mengatakan, saat tanggal merah atau hari libur, dia bisa mengantongi uang hingga Rp 400 ribu.

“Itu rata-rata saat hari libur. Banyak peziarah yang datang dan mengabadikan berfoto bareng. Sedangkan saat hari biasanya hanya sekitar Rp 100 ribu saja,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi Menara Kudus, Kamis (8/12/2016).

Menurutnya, Rp 100 ribu dalam sehari itu merupakan saat sepi. Sebab, jumlah tersebut merupakan pemasukan yang belum dibagi dengan pemilik Fotografer Menara. Model pembagian yang dilakukan, yakni 60 persen untuk pemilik usaha, termasuk biaya cetak dan kamera DSLR. Sedangkan untuk jasa fotografer, diberikan imbalan 40 persen.

Untuk sekali foto, peziarah akan ditarik Rp 10 ribu dengan mendapatkan foto berukuran 5 R. Jumlah tersebut, fotografer mendapat Rp 4 ribu, dan pemiliknya sejumlah Rp 6 ribu.

“Kalau pas ramai itu saat musim peziarah. Seperti sebelum puasa, dan saat Asyura. Biasanya saat hari ramai, dalam sehari mampu meraih 60 jepretan dengan jumlah Rp 600 ribu. Dari jumlah itu komisi saya sejumlah Rp 240 ribu,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman pahit tentu pernah dirasakan olehnya. Pernah satu hari penuh, dia tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Bahkan pada bulan puasa, dipastikan libur total lantaran tidak ada peziarah sama sekali.

Alasan lain sepinya peziarah adalah karena teknologi. Hal itu karena para peziarah sudah menggunakan kamera sendiri, baik dengan HP maupun digital.

“Kalau saingannya ya memang menggunakan HP. Sekitar 80 persen peziarah foto dengan Hp, dan sisanya baru menggunakan jasa kami,” imbuhnya.

Dijelaskannya, peziarah yang paling mudah dibujuk untuk foto adalah dari Jawa Barat, Madura dan Depok. Jika satu anggota mau berfoto, maka anggota lainnya besar kemungkinan bersedia foto juga.

Sedangkan wilayah lain yang lumayan mudah adalah Jawa Timur. Dan daerah yang hampir dipastikan menolak adalah peziarah yang berasal dari Jawa Tengah.

Editor : Akrom Hazami