90 Penderita HIV/AIDS Baru Ditemukan di Pati Selama 2016

Anggota Komisi D DPRD Pati Endah Sri Wahyuningati (tengah) bersama dengan pegiat HIV/AIDS di Pati, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota Komisi D DPRD Pati Endah Sri Wahyuningati (tengah) bersama dengan pegiat HIV/AIDS di Pati, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 90 penderita HIV/AIDS baru ditemukan di Kabupaten Pati sepanjang 2016. Meningkatnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di tahun 2016 menambah jumlah ODHA di Pati yang mencapai 1.019 orang dari 1996 hingga Oktober 2016.

“Kami menyatakan, ada 90 orang warga Pati yang positif terkena HIV/AIDS pada 2016. Dengan terdeteksinya 90 ODHA pada 2016, jumlah ODHA di Pati menjadi 1.019 orang sejak 1996. Dari jumlah itu, 105 orang di antaranya meninggal dunia,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati, Edi Sulistiyono.

Menurutnya, jumlah temuan ODHA baru di Pati cukup signifikan. Namun, jumlah itu ternyata masih rendah dibandingkan sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Grobogan, Semarang dan lain sebagainya. Kendati begitu, dia mengimbau kepada warga Pati untuk tidak melakukan perbuatan yang berpotensi menyebabkan tertular penyakit HIV/AIDS.

Koordinator Lapangan Penjangkauan Komunitas Populasi Kunci HIV/AIDS Pati, Adiningtyas Prima mengatakan, 90 persen ODHA yang ditemukan di Pati merupakan warga asli dan 10 persen merupakan warga pendatang yang tinggal di Pati, seperti Kudus, Jepara, dan Rembang. “Dari total temuan yang ada, 90 persen warga Pati sendiri, sedangkan 10 persen merupakan warga dari luar daerah yang tinggal di Pati,” ucap Dining.

Sayangnya, tidak semua ODHA terbuka dengan petugas atau pendamping HIV/AIDS. Mereka ada yang malu dan tertutup, sehingga menyulitkan pendamping untuk membantu dalam hal pendampingan atau pengobatan. Padahal, mereka mestinya terbuka dengan pendamping HIV/AIDS supaya sejumlah polemik bisa diselesaikan bersama.

“Hanya ada sekitar 300 ODHA saja yang kita dampingi untuk pengobatan. Selebihnya, mereka masih menutup diri. Padahal, mereka mestinya mendapatkan pendampingan dan pengobatan. Ini yang menjadi tugas kami untuk terus menyosialisasikan dan mendekatkan diri kepada mereka,” tandas Dining.

Editor : Kholistiono