Keren! PNS di Grobogan Ini Ternyata Lihai jadi Dalang

 Marwoto (kanan) sedang bersiap untuk pentas wayang kulit di Desa Termas, Kecamatan Karangrayung beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Marwoto (kanan) sedang bersiap untuk pentas wayang kulit di Desa Termas, Kecamatan Karangrayung beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Salah satu pejabat di Grobogan ternyata ada yang punya talenta dalam bidang kesenian tradisional. Pejabat ini ternyata punya kemampuan memainkan hampir semua peralatan gamelan. Sosok pejabat langka ini adalah Marwoto yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan di Kantor Disporabudpar Grobogan.

“Di rumah orang tua di Klaten memang dijadikan tempat latihan karawitan. Makanya, sejak kecil saya sudah akrab dengan gamelan. Hampir semua alat musik gamelan bisa saya mainkan. Namun, yang paling saya suka adalah menabuh gendang,” jelas Marwoto saat ditemui di kantornya.

Tidak hanya itu, pria kelahiran Klaten itu ternyata juga dikenal sebagai seorang dalang yang cukup mumpuni. Sejauh ini, sudah puluhan kali, Marwoto tampil jadi dalang di berbagai tempat.

Kebanyakan, pentas wayang itu masih di sekitar wilayah Grobogan saja. Namun, beberapa kali ia sempat diminta pentas di Salatiga, Demak, dan Semarang. Seringkali, ia juga tampil jadi dalang dalam acara pagelaran wayang kulit di Pendapa Kabupaten yang dilangsungkan tiap malam Jumat Kliwon.

“Saya sudah mulai jadi dalang kira-kira 20 tahun lalu. Saya pertama kali pentas di Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus. Pentas perdana ini tidak bayaran alias gratis,” kata bapak tiga anak itu sembari tertawa.

Keahliannya menjadi dalang itu didapat Marwoto secara otodidak alias belajar sendiri. Sebab, sebelumnya ia merasa sudah punya beberapa bekal untuk bisa mendalang. Misalnya, bisa memainkan gamelan, nembang, serta bekal ngomong atau bicara. Soalnya, sudah cukup lama pula ia sering diminta tolong untuk jadi pranotocoro atau pembawa acara dalam momen hajatan pernikahan.

Berbekal beberapa modal itulah Marwoto mulai belajar jadi dalang. Ternyata, banyak hal yang harus dipelajari lebih lanjut. Termasuk yang dianggap sepele, seperti cara memegang wayang dengan benar.

“Ternyata banyak ilmu yang harus dikuasai supaya bisa jadi dalang. Sampai beberapa tahun lamanya saya belajar ilmu pedalangan ini karena dilakukan otodidak. Kalau sekarang mungkin agak mudah karena bisa lewat internet,” kata PNS yang sudah berusia 54 tahun itu.

Salah satu kesulitan yang didapat setelah berhasil menjadi dalang adalah soal perangkat wayang. Selama beberapa tahun pentas, dia terpaksa pinjam wayang dari temannya.

Namun, kesulitan ini akhirnya bisa teratasi. Dari honor pentas yang dikumpulkan selama beberapa tahun, Marwoto akhirnya bisa membeli satu set wayang seharga Rp 51 juta. Satu set ini berisikan sekitar 165 wayang.

Di samping mahir memainkan gamelan dan mendalang, Marwoto ternyata juga punya kemampuan menciptakan lagu. Bahkan, lagu kemasan campursari ciptaannya berjudul ‘Warisan Mutiara’ sempat meraih juara I dalam lomba cipta lagu daerah yang digelar di Jakarta tahun 2011 lalu.“Ada beberapa lagu yang sudah sempat saya bikin. Salah satunya lagi Warisan Mutiara yang sempat jadi juara nasional dalam ajang lomba cipta lagu daerah,” katanya.

Meski punya kemampuan dalam dunia kesenian tradisional, latar belakang pendidikan Marwoto ternyata tidak dari bidang seni. Marwoto ternyata lulusan S1 IKIP PGRI Semarang jurusan keguruan PMP (sekarang PPKN). Kemudian, tilel S2 nya yang didapat dari Unisri Surakarta justru dari jurusan hukum.

Saat awal-awal jadi PNS, Marwoto ternyata pernah bertugas jadi guru SD. Tepatnya, di SDN 02 Jipang, Kecamatan Penawangan. Semasa jadi guru inilah, kemampuannya di bidang kesenian terlihat banyak orang. Sebab, seringkali dia mendampingi anak didiknya pentas kesenian di kabupaten.

Sekitar empat tahun lamanya, Marwoto bertugas jadi guru. Selanjutnya, dia ditarik jadi staff di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Grobogan. Setelah itu hingga sekarang, pindah ke Disporabudar setelah bidang kebudayaan tidak lagi digabung dengan pendidikan.

 Editor : Kholistiono