Aksi Dodit Mulyanto di Kudus Bikin Penonton Terbius

iklan-dodit-mulyanto (e)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aksi komika Dodit Mulyanto memang kerap membuat penonton terbius.

Mereka hanyut dalam banyolan segar Dodit. Seperti saat Dodit di acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Muria Kudus (UMK) yang digelar W Mld bersama BEM FE UMK, Sabtu (4/6/2016) lalu.

PR Sukun telah mengabadikan momen tersebut dengan mengunggah aksi kocak komika asal Surabaya itu ke YouTube. Di dalam video berdurasi 41:59 detik tersebut ratusan penonton bahkan larut dan tak henti-hentinya tertawa mendengarkan banyolan yang dilakukan Dodit saat Stand up.

Maklum saja, Dodit Mulyanto yang kini merambah dunia akting di salah satu televisi swasta tersebut sudah mendapat hati di kalangan masyarakat Kudus. Buktinya, ia sudah tiga kali menapakkan kaki di Kota Kretek.

Berikut kami suguhkan video Dodit Mulyanto saat di UMK:

Editor : Akrom Hazami

 

Catat! Pedagang Pasar Pengkol Jepara Bakal Ditempatkan di Lokasi Lama

Desain Pasar Pengkol dipasang di dinding penutup proyek di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Desain Pasar Pengkol dipasang di dinding penutup proyek di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar berjanji akan menempatkan pedagang pasar Pengkol sesuai lokasi tempat jualan mereka sebelum direnovasi.

Untuk itu, para pedagang diimbau tidak perlu khawatir akan ditempatkan ke lokasi yang tidak sesuai dengan lokasi lama.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar, Dwi Riyanto mengatakan, meski pembangunan dan sumber dana bukan dari instansinya. Untuk pengelolaan pasar masih tetap bakal menjadi wewenang dan tanggung jawab instansinya.

“Nanti kami yang mengelola. Kami pastikan pedagang lama tetap bakal ditempatkan di lokasi lama. Ya akan kembali ke tempat yang sesuai dengan posisi sebelumnya,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/7/2016).

Pihaknya saat ini tengah menginventarisasi jumlah pedagang yang ada di Pasar Pengkol. Untuk sementara, data yang dia miliki, pedagang di pasar tersebut hanya ada sekitar 36 saja. Itu sesuai dengan skema kios utama yang saat ini mulai dibangun oleh Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Jepara.

“Data sementara hanya ada 36 saja. Itu termasuk yang jualan ikan di bagian belakang. Mereka ada tiga pedagang yang jualan di los pasar,” katanya.

Dia mengungkapkan, rencananya pasar Pengkol yang tengah dibangun tersebut bakal menjadi pasar percontohan di Kabupaten Jepara. Percontohan yang dimaksud adalah pasar yang memiliki keunggulan yakni bersih, nyaman dan aman.

“Peran semua pedagang untuk mewujudkan pasar percontohan sangat penting, melalui paguyuban pedagang. Kami harapkan turut membantu dan mewujudkannya,” terangnya.

Diamenambahkan, saat ini proses pembangunan tengah berjalan. Para pedagang yang sebelumnya diimbau untuk sementara pindah di pasar Jepara Satu tidak bersedia. Mereka lebih memilih membuka lapak di lahan-lahan yang ada di sekitar pasar yang tengah dibangun.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Waspadai Titik Rawan Kemacetan di Grobogan

Kemacetan panjang terjadi di ruas jalan Purwodadi-Solo akibat adanya proyek perbaikan jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kemacetan panjang terjadi di ruas jalan Purwodadi-Solo akibat adanya proyek perbaikan jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Perhatian bagi pengguna jalan yang melintasi wilayah Grobogan, khususnya menuju Solo dan Blora. Sebab, di ruas jalur tersebut ada beberapa titik kemacetan akibat adanya proyek perbaikan jalan milik Provinsi Jawa Tengah.

Adanya titik macet itu disebabkan arus lalu lintas harus dilakukan bergantian dari kedua arah. Karena jalur tersebut ramai kendaraan, terkadang pengendara kendaraan roda empat atau lebih bisa terjebak macet sampai 2 jam lamanya. “Hari ini tadi saya kejebak macet di Kecamatan Toroh lama sekali. Macetnya parah banget sampai beberapa kilometer,” kata Juliyanto, warga Purwodadi yang baru datang dari Solo.

Beberapa warga menyatakan, kemacetan itu terjadi sejak beberapa hari lalu. Tepatnya, saat proyek perbaikan jalan kembali dilanjutkan setelah berhenti selama momen Lebaran lalu. “Proyek perbaikan jalan ini memang menimbulkan dampak bagi pengguna jalan, yakni adanya kemacetan. Sebab, kendaraan dari kedua arah harus jalan bergantian. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” kata Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Provinsi Jateng Wilayah Purwodadi Ali Huda.

Menurutnya, perbaikan jalan milik Provinsi Jawa Tengah yang berada di wilayah Grobogan sudah dimulai per 17 Februari lalu. Saat Lebaran lalu, semua proyek dihentikan dan baru dilanjutkan beberapa hari lalu. Sampai saat ini, progres perbaikan jalan sudah mencapai 85 persen. Sesuai kontrak, perbaikan jalan  akan selesai pertengahan Oktober mendatang.

Ali menjelaskan, untuk tahun 2016 ini, ada perbaikan jalan di wilayah Grobogan dengan sistem rigid beton sepanjang 24,4 km yang terbagi dalam 7 paket. Yakni, ruas jalan Geyer-Purwodadi sepanjang 4 km, Purwodadi-Wirosari 3 km, Wirosari-Kunduran 4 km, Wirosari-Sulur 8 km, Kuwu-Galeh 3 km, Jalan A Yani Purwodadi 1,2 km dan Grobogan-batas Pati 1,1 km. Alokasi dana untuk perbaikan jalan ini sekitar Rp 150 miliar.

Ditambahkan, panjang jalan provinsi di Grobogan yang masuk kewenangan BPT Bina Marga Jateng Wilayah Purwodadi sekitar 152 km. Sejak beberapa tahun lalu hingga akhir 2016 nanti, ruas jalan yang selesai diperbaiki panjangnya mencapai 113 km. Sedangkan, sisanya sekitar 39 km akan dituntaskan pada tahun 2017.

 Editor : Kholistiono

Biar Tak Gegabah Gunakan Senpi, Ratusan Polisi di Grobogan Dites Psikologi

Kapolres AKBP Agusman Gurning memberikan pengarahan sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres AKBP Agusman Gurning memberikan pengarahan sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan anggota Polres Grobogan mendapat pengarahan dari Kapolres AKBP Agusman Gurning, Jumat (29/7/2017). Pengarahan itu dilakukan kapolres sebelum anggotanya mengikuti tes psikologi yang dilangsungkan di Aula Stikes Annur Purwodadi.

Jumlah personel yang ikut tes sebanyak 145 orang. Mereka yang ikut tes khusus anggota yang selama ini dibekali dengan senjata api. Selain anggota yang bertugas di mapolres, pemegang senpi di jajaran polsek juga ikut dites. Pelaksanaan tes dilakukan oleh Bagian Sumber Daya Manusia (Sumda) Polres Grobogan bersama Bagian Psikologi Polda Jawa Tengah.

Agusman Gurning menyatakan, pemeriksaan atau tes psikologi merupakan prosedur tetap (protap) kepada anggota yang saat ini memengang senjata api. Selain itu, tes ini juga menjadi sebuah syarat utama yang harus dilalui sebelum petugas mendapatkan izin resmi.

“Tes psikologi itu sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi penyalahgunaan senjata api saat bertugas. Bagi yang tidak lulus tes maka kita tidak akan segan untuk menarik senjata dari tangan anggota pemegang senpi tersebut,” tegasnya.

Tes psikologi sebagai kontrol dalam mengetahui layak atau tidak seorang anggota Polri memegang senjata api. Sebab, tidak semua anggota yang sudah mengikuti tes psikologi dan lulus berhak memegang senjata api. Sebab, masih ada penilaian terhadap mental kepribadian dan emosi sehari-hari.

Menurut Agusman, dalam Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2007, anggota Polri yang memegang senjata api, sesuai dengan hasil psikotes harus memiliki beberapa kriteria. Yakni, penyesuaian dan penguasaan diri, pengendalian emosi, serta daya tahan pikiran, dan stres atau kematangan mental.

“Diharapkan dengan kriteria itu, anggota Polri yang memegang senjata api dapat mengontrol emosi, sehingga tidak cepat mengambil keputusan menggunakannya. Sebab senjata api merupakan pendukung tugas, bukan untuk gagah-gagahan dan menakut-nakuti masyarakat,” sambungnya.

Editor : Kholistiono

Kangen Aksi KLa Project Saat Konser?  Ini Lho Aksinya

kla

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penggemar KLa Project, tentu tak akan bisa melupakan momen idolanya saat tampil.

Seperti halnya saat tampil di Executive Live Concert Amazing Night with KLa Project yang disupport Sukun Executive Sabtu (21/5/2016) lalu.

Ya, silakan menikmati aksinya di  akun YouTube PR Sukun.

Hanya, video berdurasi 1:20:42 detik tersebut memang tak bisa menggantikan momen yang terlewatkan. Namun, kerinduan para Klanese (sebutan bagi penggemar KLa project) yang tak sempat hadir, diyakini akan sedikit terobati dengan video tersebut.

Apalagi tak satupun aksi KLa Project yang membawakan 15 lagu andalan mereka terlewatkan. Selama satu jam lebih para pengunjung pun bernostalgia dengan menyanyikan lagu-lagu KLa Project dari awal sampai akhir konser berlangsung.

Berikut kami suguhkan videonya:

 

Editor : Akrom Hazami

 

Dintanhut Rembang Ancam Berikan Sanksi untuk Kelompok Tani yang Berani Menjual Alsintan Bantuan

Beberapa alat mesin pertanian yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk petani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa alat mesin pertanian yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk petani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Hingga saat ini, pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang sudah mendapatkan 11 laporan terkait hilangnya alat mesin pertanian (Alsintan) yang merupakan bantuan untuk kelompok tani.

Menyikapi hal in, pihak Dintanhut menegaskan akan melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Diharapkan dengan hal itu, nantinya terungkap, apakah memang alat-alat bantuan tersebut hilang karena kesengajaan ataukah tidak.

Kasi Usaha Tanaman Pangan dan Holtikiltura pada Dintanhut Rembang Ika H Affandi mengatakan, jika nantinya ditemukan unsur kesengajaan dalam kehilangan tersebut, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas.

“Kesengajaan yang kami maksud di sini yaitu, alat-alat bantuan tersebut sengaja dijual. Karena, tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi. Jika memang demikian, kami akan melakukan tindakan tegas, apakah nanti akan kami serahkan ke pihak berwajib atau sanksi lain,” ujarnya.

Hal seperti itu, menurutnya perlu dilakukan, sebab, alat pertanian tersebut diberikan kepada kelompok tani, agar nantinya dapat mempermudah kinerja petani, dan bukan justru memberikan keuntungan kepada oknum tertentu dengan cara alat tersebut dijual kembali.

Baca juga : Duh…Ada Kelompok Tani di Rembang yang Dapat Bantuan Alsintan Malah Dijual

Editor : Kholistiono

Ini Rahasia di Balik Kenikmatan Wedang Cemue Khas Pati

 

 Tampak irisan kelapa mengambang dalam segelas wedang cemue yang memiliki rasa manis bercampur pedas. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Tampak irisan kelapa mengambang dalam segelas wedang cemue yang memiliki rasa manis bercampur pedas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Di balik kenikmatan wedang cemue sebagai minuman tradisional khas Pati, selalu ada resep rahasia. Marsono (50), penjual wedang cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9 membeberkannya.

“Banyak orang bilang, wedang cemue buatan saya punya rasa yang berbeda dengan wedang cemue lainnya. Memang, ada ramuan khusus dalam wedang buatan saya. Ramuan itu berasal dari rempah-rempah hasil kekayaan Nusantara,” ujar Marsono.

Secara keseluruhan, wedang cemue dibuat dari gula Jawa, santan, irisan kelapa, dan merica. Dalam meramu, komposisi harus tepat, sehingga rasanya bisa pas antara manis dan pedas. Bila terlalu banyak merica, maka rasanya terlalu pedas dan aneh.

Marsono mengaku sudah jualan wedang cemue sejak enam tahun yang lalu. Berhubung wedang cemue masih sedikit yang menjual, ia terpanggil untuk melestarikan minuman wedang cemue sebagai warisan kekayaan kuliner leluhur.

Upaya untuk melestarikan cemue yang dilakukan Marsono mendapatkan perhatian dari Pemkab Pati. Dia mendapatkan bantuan berupa gerobak dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pati.

Sebagian besar pelanggan minum di tempat dan beberapa di antaranya membungkusnya sebagai oleh-oleh di rumah. Buka dari pukul 17.00 WIB, wedang cemue buatan Marsono biasa habis sekitar pukul 22.00 WIB sampai 23.00 WIB.

Baca juga : Berburu Wedang Cemue di Kawasan Wedarijaksa Pati

 Editor : Kholistiono

 

 

Ribuan Tiket Last Child dan Souljah di Kudus Laris Manis

sukun e

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan konser yang mendatangkan bintang tamu Last Child dan Souljah yang diselenggarakan KNPI bersama WMld, bakal meraih. Hal itu terlihat dari penjualan tiket awal konser, yang sudah terbeli hingga 1500 lembar

Panitia kegiatan Ahmad Amir Faishol mengatakan, awal pembukaan penjualan tiket hingga kemarin sudah sekitar 1.500 terjual.

“Konser akan diselenggarakan di lapangan Hawe, Jember. Bagi yang belum memiliki tiket, dapat membelinya di lokasi” katanya saat ditemui MuriaNewsCom, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, tiket yang dibeli di tempat konser dengan sebelumnya berbeda. Jika sebelum hanya seharga Rp 20 ribu, maka saat konser berlangsung,harganya Rp 25 ribu.

Untuk berjalannya konser, panitia menyiapkan 14 ribu lembar tiket. Panitia optimistis tiket akan terjual. Meski memiliki perbedaan harga, semuanya berkesempatan mendapatkan hadiah. Sebab, panitia menyiapkan doorprize yang akan diundi saat kegiatan konser berlangsung.

Model undian,yakni dengan tiket yang dibeli. Tiket bakal disobek untuk masuk kotak undian. Kemudian, undian akan dilakukan dengan mengambil sobekan tiket yang dibeli.

“Beberapa hadiah pasti akan diundi. Jadi selain terhibur oleh band nasional, hadiah juga sudah menanti untuk dibawa pulang oleh penonton,” ujarnya.

Kegiatan konser yang berlangsung pada 31 Juli, juga termasuk dengan memperingati HUT ke-43 KNPI. Kegiatan ini dinilai bakal sukses lantaran banyaknya peminat.

Editor : Akrom Hazami

 

8 SD Negeri di Jepara Dilebur, Ada Apa?

SD

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya delapan sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Jepara dilebur atau digabung oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat. Itu dilakukan karena sekolah tersebut tidam memenuhi persyaratan berdiri sendiri.

Kepala Disdikpora Jepara Khusairi membeberkan, delapan SDN tersebut yakni SDN 4 Tahunan dan SDN 5 Tahunan digabung ahnya menjadi SDN 5 Tahunan, SDN 1 Karangrandu dan SDN 2 Karangrandu digabung menjadi SDN 1 Karangrandu, SDN 1 Pendosawalan dan SDN 3 Pendosawalan menjadi SDN 1 Pendosawalan dan SDN 4 Telukwetan dengan SDN 6 Telukwetan menjadi hanya SDN 4 Telukwetan.

“Beberapa sebab yang menjadikan SD tersebut digabung yakni jumlah siswa yang sedikit, dalam satu lokasi namun peserta didiknya sedikit serta kekurangan guru. Penggabungan ini dilakukan untuk efektivitas pengelolaannya,” kata Khusairi, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, penggabungan sekolah tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bupati Jepara Nomor 420319/2016 tertanggal 21 Juni 2016. Pasca dilebur, hal-hal yang berkaitan dengan aset sekolah yang digabungkan, sarana prasarana, kesiswaan, ketenagaan dan administrasi lainnnya menjadi tugas dan tanggungjawab kepala sekolah yang menerima penggabungan di bawah koordinasi Disdikpora.

“Dalam penggabungan ini tidak menemui masalah berarti, lantaran sebagian besar memang tidak memiliki kepala sekolah,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun depan juga sudah ada rencana untuk melakukan penggabungan beberapa sekolah yang tidak memenuhi syarat. Sebab, ada beberapa sekolah yang memang berpotensi tidak mampu berdiri sendiri lagi sehingga harus dilebur.

Editor : Akrom Hazami

 

Ada Kampung Iklim di Kudus yang Bikin Bangga

Warga berada di Kampung Iklim di Dusun Kauman, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di Kampung Iklim di Dusun Kauman, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 
MuriaNewsCom, Kudus – Kudus ikut berpartisipasi dalam ajang perlombaan tingkat nasional yang bertajuk Kampung Iklim. Meski tidak ada persiapan khusus yang dilakukan, namun ada perwakilan dari Kudus yang mampu lolos di tingkat Nasional.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Heru Subiyantoko mengatakan, perlombaan tersebut merupakan perlombaan di 2016. Sedangkan kampung yang dipilih adalah Dusun Kauman, Desa Ngembal Rejo, Kecamatan Bae.

“Kami memilih dusun tersebut karena sudah siap. Dibandingkan daerah lain, belum ada yang siap. Terbukti, dusun itu mampu lolos ke tingkat nasional, dalam perlombaan ini,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, sebelum Dusun Kauman, lokasi lain yang sedang menjadi sasaran adalah Desa Wonosoco, Undaan dan Desa Tumpang Krasak. Namun kedua desa tersebut dianggap belum siap.

Kampung Iklim, merupakan kampung yang minimal satu RW atau satu dusun yang kompak dalam perubahan iklim. Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyikapi iklim yang semakin berubah ini.

“Jadi adaptasi masyarakat sangat penting, terlebih lagi untuk wilayah yang rawan bencana, bagaimana bisa menghadapinya dan mempersiapkan,” imbuhnya

Menurutnya, pihak pemkab terus mendorong terbentuknya Kampung Iklim. Tidak hanya satu desa saja, melainkan desa lainnya juga didorong ke sana.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Kendala PKL Ketika Direlokasi di Depan Pegadaian Purwodadi

Lahan relokasi PKL di depan Kantor Pegadaian Purwodadi sudah dikapling dan dikasih nomor urut (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lahan relokasi PKL di depan Kantor Pegadaian Purwodadi sudah dikaveling dan dikasih nomor urut (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah setuju untuk direlokasi sementara ke lokasi jualan baru, namun ada beberapa kendala yang dihadapi para PKL kawasan Alun-alun Purwodadi. Hal itu terlihat setelah mereka melakukan pengecekan lokasi relokasi sementara di pinggir jalan depan Pegadaian hingga depan SDN 4 Purwodadi.

Ketua Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi Nur Wakhid menyatakan, salah satu kendala yang perlu dipikirkan adalah soal pasokan listrik. Sejauh ini, pihaknya masih belum menemukan solusi untuk mengambil aliran listrik buat penerangan tempat jualan para PKL.

Selama ini, soal listrik tidak jadi kendala ketika mereka berjualan dikawasan alun-alun. Sebab, untuk mengambil aliran listrik sudah disediakan melalui instalasi dibawah lampu kota yang ada di situ.

“Listrik ini cukup vital soalnya. Jadi, kami dan teman-teman masih mencari solusi guna mendapatkan pasokan listrik. Rencananya, kami akan berkoordinasi dengan pihak PLN,” katanya.

Kendala lain yang dialami para PKL adalah soal ukuran tenda yang harus menyesuaikan lokasi baru. Dengan jatah kaveling berukuran 3,5 x 4 meter maka sebagian besar PKL nantinya terpaksa harus membuat tenda baru. Pasalnya, tenda yang dimiliki saat ini ukurannya melebihi jatah kapling tersebut. “Tenda jualan saya ukurannya lebih besar dari luas kaveling. Nanti, saya terpaksa harus bikin tenda baru,” Heru Santoso, salah seorang PKL yang biasa jualan sate kelinci.

Sementara itu, dari pantauan di lapangan, ruas jalan yang akan dijadikan relokasi sudah mulai dikaveling. Hal ini bisa dilihat dengan adanya nomor urut dan tanda batas kaveling yang dibuat dengan cat semprot. Nomor urutnya sampai angka 54 yang disesuaikan dengan jumlah PKL.

“Lokasi relokasi PKL sudah kita kapling dan kasih nomor. Untuk teknis pembagian kaveling itu kita serahkan pada paguyuban PKL. Nanti, pembagiannya akan dilotre,” Kabid Cipta Karya Joni Sarjono.

 Editor : Kholistiono

Gagal Berkali-kali, Sri Susahid Kembali Unjuk Gigi Dalam Pencalonan Bupati Pati

 Sri Susahid (berbaju hijau), seorang mantri yang akan kembali nyalon bupati pada bursa Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sri Susahid (berbaju hijau), seorang mantri yang akan kembali nyalon bupati pada bursa Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Entah apa yang ada di benak Sri Susahid, seorang mantri asal Desa Payang, Kecamatan Pati Kota itu kembali mengajukan diri sebagai bakal calon Bupati Pati pada Pilkada 2017. Padahal, ia tercatat gagal sebanyak lima kali pada bursa pilkada dan pileg tahun-tahun sebelumnya.

Nama Sri Susahid sebetulnya tidak asing bagi masyarakat Pati. Sebab, ia selalu terlibat aktif sebagai Calon Bupati Pati sebanyak dua kali, satu di antaranya ikut pilkada  2012 lalu.

Saat ini, Sri Susahid mengklaim sudah berhasil mengumpulkan 72.000 kartu tanda penduduk (KTP). Jumlah itu diakui sudah cukup sebagai syarat untuk melaju sebagai Calon Bupati Pati. Karena, syarat dukungan minimal dari calon perseorangan 67.015 KTP yang tersebar di 11 kecamatan.

“Saya menargetkan bisa mengumpulkan sekitar 80.000 dukungan KTP. Hal itu untuk mengantisipasi bila ada KTP yang dinyatakan gugur KPU saat verifikasi. Saya yakin bisa lolos dalam verifikasi dan bisa kembali mencalon sebagai bupati,” ucap Sri Susahid, Jumat (29/7/2016).

Sri Susahid merupakan tokoh yang sudah lama malang melintang dalam bursa pemilu. Kendati seringkali gagal, tekad Sri Susahid tak pernah patah. Tercatat, dia juga pernah mencoba nyalon sebagai Gubernur Jawa Tengah, anggota legislatif, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

“Kalau misalnya tidak terpilih lagi ya tidak masalah. Ada banyak jalan untuk mengabdi kepada warga Pati. Namun, saya berharap agar kali ini berhasil. Saya akan terus berjuang untuk mengabdikan diri kepada masyarakat,” ungkap Susahid.

Editor : Kholistiono

 

22 Calon Ketua Muhammadiyah Gebog Siap Bersaing

muhammadiyah

Kegiatan Musyab Muhammadiyah di Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 22 bakal calon Ketua Muhammadiyah Gebog, siap meramaikan pemilihan ketua dalam Musyawarah Cabang (Musyab) Gebog yang didukung PR Sukun, Jumat (29/7/2016). Ke-22 calon tersebut, merupakan calon yang sudah terdaftar sebelumnya.

Ketua panitia, Sya’udin (47) mengatakan kegiatan tersebut merupakan Muktamar ke – 47 Muhammadiyah. Dalam persiapan awal, 22 calon sudah terkumpul untuk dipilih anggota.

“Pemilihan dilakukan Jumat (29/7/2016) bertempat di masjid Taqwa Desa Besito, Gebog. Kegiatan musyawarah dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dan akan berakhir pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, ke-22 Calon yang ada, nantinya bakal dipilih menjadi sembilan. Sembilan yang terpilih, otomatis menjadi formatur yang bakal langsung musyawarah guna menentukan ketua dan strukturnya.

“Kegiatan di Gebog terbilang unik, sebab biasanya Musyab dilakukan pada Minggu, dan pelaksaan biasanya sehari saja. Dan khusus ini berlangsung selama dua hari lamanya,” ungkapnya.

Ketua yang terpilih, akan mengambil kepengurusan dari sembilan nama yang muncul. Kemudian, mereka akan memimpin Muhamadiyah Gebog, selama lima tahun lamanya terhitung 2016 ini. “Untuk nama namanya nanti saja, belum bisa dibicarakan,” imbuhnya.

Kegiatan pembuka Musyab adalah kegiatan pengajian umum, yang berlangsung semalam. Kegiatan yang diisi oleh KH Tafsir, selaku ketua Muhammadiyah Jateng itu berlangsung ramai. Ratusan kader datang untuk mengaji bersama tokoh Muhamadiyah Jateng itu.

Dalam pengajian yang dilakukan, KH Tafsir mengajak warga Muhammadiyah untuk selalu kompak. Tidak usah risau mengenai adanya pendapat pendapat orang lain, sebab Muhammadiyah memiliki pedoman yang jelas dan diyakini benar.

“Pengajian dihadiri oleh ratusan kader, kalau target adalah 600, maka yang hadir lebih dari 800 kader,” imbuhnya.

Dia berharap pelaksaan musyawarah dapat berjalan lancar. Sebab, apa yang dirumuskan adalah menentukan kebijakan atau arahan selama lima tahun ke depan.

“Biasanya ramai, sebab tiap anggota pasti ingin yang terbaik. Dan itu dibawa dalam pembahasan per komisi,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

PN Kudus Tolak Seluruh Gugatan Gani Sanjaya

Petugas Satpol PP saat melakukan penyegelan beberapa kios di Kudus Plaza. (MuriaNewsCom/Merie)

Petugas Satpol PP saat melakukan penyegelan beberapa kios di Kudus Plaza. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah melalui beberapa tahapan persidangan, Pengadilan Negeri ( PN ) Kabupaten Kudus akhirnya menolak seluruh gugatan Gani Sanjaya Cs, selaku penggugat perkara Kudus Plaza.

Dengan hasil ini Bupati Kudus selaku pihak tergugat III dinyatakan tidak bersalah berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Kudus 28 Juli 2016 Nomor 65 / Pdt.G/2015/PN.Kds. Selain menolak seluruh gugatan, pihak pengadilan Negeri Kudus juga membebankan biaya perkara sebesar Rp.2.722.000 kepada penggugat.

Menurut rilis Kabag Hukum Setda Kudus Suhastuti  Jumat ( 29 /7/2016), dengan berakhirnya perkara tersebut maka keberadaan Kudus Plaza tidak lagi ada permasalahan. Dengan hasil ini pihak pemkab berharap para penggugat untuk bisa menerima dan menghormati hasil putusan pengadilan tersebut.

“Kepada para penggugat jangan lagi mempermasalahkan keberadaan Kudus Plaza karena hasil putusan pengadilan sudah jelas dan berkekuatan hukum, ” ungkapnya.

Diketahui bahwa permasalahan Kudus Plaza bisa berlanjut sampai ke pengadilan  karena Gani Sanjaya Cs. selaku penggugat menuntut diadakannya perbuatan hukum berupa pembaharuan sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun di atas tanah Hak Pengelolaan ( HPL ) milik pemerintah Kabupaten Kudus.

Para penggugat juga menuntut agar menghukum tergugat membayar ganti kerugian kepada penggugat uang sebesar Rp.5.466.000.000 ( Lima Milyar Enam Ratus Enam Puluh Enam Juta Rupiah ).

Selain itu penggugat minta agar menghukum dalam hal ini pihak tergugat untuk membayar uang paksa kepada penggugat sebesar Rp 500.000 ( Lima Ratus Ribu Rupiah ) setiap hari keterlambatan memenuhi putusan pengadilan.

Dalam perkara Kudus Plaza ini pihak penggugat yang akhirnya kalah di pengadilan mempercayakan kuasa hukum kepada Kantor Advokat Sigit Wahyudi Associates Semarang sedangkan Bupati Kudus menguasakan kepada tim kuasa Hukum Bagian Hukum dan Bagian Aset Daerah dengan koordinator Suhastuti selaku Kabag Hukum Setda Kudus.

Perkara ini bermula ketika puluhan personel Satpol PP Kabupaten Kudus, Rabu (10/2) menyegel sedikitnya 15 kios di kompleks pertokoan Kudus Plasa. Langkah tersebut dilakukan karena pedagang tidak membayar sewa sejak 2011. Meskipun diwarnai adu mulut antara petugas dan pedagang serta kuasa hukumnya, tidak ada perlawanan yang berarti. Penyegelan yang melibatkan polisi dihadiri petugas Bagian Aset Daerah, dan Asisten III Setda Kudus, Mas’ut. Satu per satu kios yang menunggak sewa didatangi petugas. Aparat sedikit mendapatkan perlawanan ketika hendak menyegel kios dan pemilik toko meminta Satpol PPtidak menyegel tokonya.

Para pemilik toko mengaku mempunyai bukti sertifikat hak milik atas satuan rumah susun. Pihaknya juga menyesalkan penyegelan tersebut. Mereka berkeyakinan, hak guna bangunan (HGB) atas kios yang ditempati bisa diperpanjang setelah 2009 berakhir masa waktunya. Sementara itu, kuasa hukum pedagang Matahari Plasa Kudus Sigit Wahyudi menyatakan, sesuai ketentuan seharusnya HGB, termasuk kios pedagang di kompleks Matahari Plaza Kudus, bisa diperpanjang.

Pihaknya juga mendengar informasi pemkab pernah menjanjikan perpanjangan HGB. Karena saat ini sedang dalam proses gugatan di pengadilan negeri, seharusnya pemkab menghormati dengan tidak menyegel kios. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan mediasi. Bila HGB tidak dapat diperpanjang, pedagang dirugikan karena tidak bisa mewariskan ke anggota keluarganya mengingat statusnya hanya sewa. ”Kalau menemui jalan buntu, katanya akan dilanjutkan proses persidangan.”

Sementara itu, Asisten III Setda Kudus, Mas’ut waktu itu menyatakan pengambilan barang di kios yang disegel ditunggu hingga 19 Februari 2016. Jika hingga batas waktu toleransi itu belum juga memperpanjang, barang di dalamnya akan dikeluarkan dan diidentifikasi. ”Kios yang sewanya tidak diperpanjang dimungkinkan ditawarkan kepada pihak lain yang berminat, ” jelasnya.

Dari 15 kios yang disegel, 8 di antaranya tidak digunakan untuk berjualan. Pemkab Kudus sudah memperingatkan pedagang yang tidak mau memperpanjang sewa untuk mengemasi barang dagangannya. Sementara itu, Kepala Satpol PP Kudus, Abdul Halil menambahkan, penyegelannya itu dalam rangka pengamanan aset pemkab.

Sesuai ketentuan, kios yang disegel tidak boleh dibuka sebelum ada upaya memperpanjang sewa. Seperti diberitakan sebelumnya, sengketa kios di kompleks Kudus Kudus berawal dari berakhirnya jangka waktu HGB nomor 15 Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus pada 5 Juni 2009. Selanjutnya, hak-hak yang ada di atasnya, seperti hak milik atas satuan rumah susun juga berakhir, sementara hak atas tanah kembali ke pemilik HPL, yakni Pemkab Kudus yang memiliki kewenangan untuk memanfaatkan tanah dan bangunan tersebut.

Bentuk pemanfaatan sesuai Permendagri 17/2007, yakni dalam bentuk sewa. Selama ini, pemkab sudah memberikan kemudahan kepada pedagang, berupa perpanjangan sewa dengan waktu lima tahun dan ada opsi perpanjangan tiga kali.Adapun tarifnya, disesuaikan Perda 12/2011 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dengan sewa Rp125 per meter persegi per bulan, sedangkan sewa tanah Rp 100 per meter persegi per bulan.

 

Editor : Akrom Hazami

Berburu Wedang Cemue di Kawasan Wedarijaksa Pati

 Seorang pengunjung tengah menikmati sensasi Wedang Cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang pengunjung tengah menikmati sensasi Wedang Cemue di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pati ternyata tak hanya memiliki kuliner Nasi Gandul dan Soto Kemiri yang sudah dikenal sebagai makanan khas Bumi Mina Tani. Di bidang minuman, ada satu jenis minuman tradisional yang banyak ditemui di berbagai daerah di Pati.

Adalah cemue. Minuman ini sudah lama dikenal warga Pati sebagai minuman tradisional yang memiliki rasa manis berpadu pedas. Rasa manis berasal dari gula Jawa, sedangkan sensasi pedas dari merica.

Uniknya, ada irisan kelapa kecil yang bercampur dalam minuman. Bukan kelapa muda yang diserut, melainkan kelapa sedang, tidak tua juga tidak muda, diiris kecil-kecil. Orang Pati menyebutnya irisan cikalan.

Minuman ini jarang ditemukan di restoran. Hanya warung-warung kecil yang menyediakan minuman tradisional warisan leluhur warga Pati ini. Harganya pun sangat murah, sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.

Marsono, misalnya. Penjual wedang cemue yang menjajakan di Jalan Pati-Tayu Km 9, Wedarijaksa ini biasa menjual satu gelas Wedang Cemue dengan Rp 2 ribu. Tak ayal, warung Marsono yang menyediakan Wedang Cemue selalu habis.

“Saya hanya berjualan cemue sekitar pukul 17.00 WIB sampai 23.00 WIB. Pembeli ternyata tidak hanya dari Pati saja, tetapi juga luar daerah seperti Jepara dan Kudus yang kebetulan singgah di Pati dan berburu wedang cemue,” tutur Marsono.

Bagi sejumlah pembeli, Wedang Cemue tidak hanya menawarkan sensasi minuman tradisional yang menyegarkan. Lebih dari itu, sebagian orang meyakini Wedang Cemue yang dibuat dari bahan rempah tradisional bisa membuat tubuh sehat.

Ahmad Muharror, pembeli asal Wedarijaksa mengaku sudah sering datang ke warung Marsono. Ia merasa lebih segar setelah minum Wedang Cemue. Selain segar di mulut dan badan, kata Ahmad, Wedang Cemue juga nyaman di kantong.

Editor : Kholistiono

 

Wabup Rembang Nyekar di Makam Pangeran Sedo Laut

Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto saat menabur bunga di Makam Pangeran Sedo Laut Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto saat menabur bunga di Makam Pangeran Sedo Laut Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dalam rangka Peringatan Hari Jadi ke-275 Kabupaten Rembang, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto melakukan ziarah ke Makam Pangeran Sedo Laut yang berada di belakang Masjid Agung Rembang, Jumat (29/7/2016).

Terlihat juga dalam kesempatan itu, Asisten III Setda Rembang Abdullah Zawawi, Kepala DPKAD Mustain, Sekretaris DPRD Rembang  Ahmad Mualif, Sekretaris Bappeda Drupodo, kepala desa setempat, pelajar pramuka dan beberapa kalangan lain.

Sebelum menabur bunga di makam,  rombongan yang dipimpin wakil bupati terlebih dahulu melakukan tahlilan atau doa bersama di makam tersebut.

Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto mengatakan, ziarah ke Makam Raden Tumenggung Pratiktoningrat atau lebih dikenal dengan julukan Adipati Sedo Laut tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya. Sebab Pangeran Sedo Laut tersebut merupakan Bupati Rembang yang pertama.

“Mudah-mudahan dengan berdoa di sini, kita juga mendapatkan berkah, dan saya yang saat ini dipercaya untuk mengemban jabatan sebagai wakil bupati juga bisa mengemban amanah tersebut dengan lancar dan sukses,” pungkasnya.

 

Editor : Kholistiono

Inilah Filosofi Lontong Tuyuhan yang Perlu Kamu Tahu

f-lontong tuyuhan (e)

Lontong Tuyuhan yang bentuknya segitiga (MuriaNewsCom/Edi Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jika berkunjung ke Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khasnya. Salah satunya adalah Lontong Tuyuhan. Ya, Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya.

Namun, tahukah Anda? Jika bentuk Lontong Tuyuhan memiliki perbedaan dengan lontong yang selama ini dijumpai. Jika pada umumnya lontong dibungkus dengan daun pisang dengan bentuk bulat dan memanjang, namun lain halnya Lontong Tuyuhan yang bentuknya segi tiga.

Di balik bentuk Lontong Tuyuhan yang segi tiga itu, ternyata memiliki makna dan filosofi tersendiri. Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, bentuk segi tiga pada Lontong Tuyuhan itu menggambarkan unsur terterntu yang saling berhubungan.

Pertama, katanya, memiliki makna Ketuhanan. Yakni, manusia sebagai hamba-Nya harus taat perintah dan menjauhi larangan atau amal makruf nahi munkar. Jika hal itu dijalankan, maka kehidupan manusia, khususnya di Rembang bisa berjalan dengan baik, dengan berpedoman pada agama.

Menurutnya, Jika dikaitkan dengan hal itu, tak heran di Rembang banyak dijumpai ratusan pondok pesantren maupun sekolah agama. Sehingga kehidupan di kota Rembang sangat kental sekali ajaran agamanya.

“Yang kedua yakni, manusia harus taat akan Rasul hingga ulama. Sebab, mereka yang membimbing kehidupan manusia akan sesusai dengan perintah agama. Dan itu nantinya akan bermuara pada makna yang pertama. Yakni taat kepada Tuhan,” paparnya.

Selanjutnya, untuk yang ketiga yaitu, taat pada pemerintah. Hal ini, supaya kehidupan warga bisa tertata dan sejahtera. “Selain itu, Lontong Tuyuhan yang dibungkus daun pisang ini, juga ada tiga lidi yang ditusukkan, yang berfungsi sebagai perekat, sehingga berasnya tidak berceceran. Tiga lidi ini juga memiliki makna tegak lurus, yaitu, ajaran agama harus benar-benar diamalkan, atau tegak lurus jangan tergoyahkan,” ujarnya.

 

Editor : Kholistiono

Disdukcapil Pati Akan Layani Pembuatan E-KTP di Desa Terpencil dengan Perekam Data Mobile

 Petugas Disdukcapil Pati tengah mengolah data E-KTP. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Petugas Disdukcapil Pati tengah mengolah data E-KTP. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pati rencananya akan melayani pembuatan E-KTP di desa-desa terpencil dengan menggunakan dua alat perekam data mobile. Pasalnya, warga yang belum terekam e-KTP sebagian besar dari desa terpencil.

“Warga yang belum terekam E-KTP sebagian besar berasal dari desa terpencil. Karena itu, saya akan jemput bola ke sejumlah pelosok desa dengan menggunakan dua alat perekam data mobile,” ujar Kepala Disdukcapil Pati Dadik Sumarji, kepada MuriaNewsCom.

Bila mereka sudah terekam E-KTP, maka kartu identitas itu akan berlaku seumur hidup. Warga tidak akan lagi dibebani untuk mengurus perpanjangan KTP seperti periode sebelumnya.

“Sekarang ini, urus sekali saja sudah berlaku seumur hidup. Kalau KTP masih tercantum masa berlaku yang sudah habis, hal itu tidak menjadi masalah jika sudah terekam E-KTP. Aturan itu sudah tercantum dalam surat edaran Kementerian Dalam Negeri,” imbuh Dadik.

Hanya saja, bila ada KTP sudah mengalami kerusakan, pihaknya menyediakan layanan untuk membuat KTP baru. Selain itu, pembuatan KTP baru berlaku untuk warga ketika ada perubahan status, alamat, pekerjaan atau perubahan lainnya.

“Khusus untuk warga yang kehilangan KTP, pengajuan pembuatan KTP baru harus dilampiri surat kehilangan dari kepolisian. Sekali lagi, warga Pati yang belum terekam E-KTP segera datang ke kantor kecamatan masing-masing,” tandasnya.

 Editor : Kholistiono

 

Mengharukan! Bocah Ini Harus Rela Pendam Cita-citanya jadi Polwan Karena Alami Kelumpuhan

Setiap hari, Suharti  harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Setiap hari, Suharti harus mengantar dan menjemput Kiki dari sekolah dengan mendorongnya menggunakan kursi roda (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk sementara, Rahma Fariski (9), warga Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan harus memendam cita-citanya menjadi seorang polwan. Hal ini setelah siswa kelas V SDN 01 Getasrejo itu mendadak terserang kelumpuhan.

Musibah yang menimpa Kiki (nama panggilannya) itu berawal saat ia bermain di rumah saudaranya, hari Minggu, 8 Mei lalu. Saat itu, Kiki yang bermain balon dengan mengenakan sandal hak tinggi tiba-tiba terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. “Ketika itu, anak saya tidak merasakan keluhan apa-apa. Jadi kami tidak merasa khawatir,” cerita Basrun, ayah kandung Kiki.

Namun, selang empat hari setelah peristiwa itu, Kiki tiba-tiba merasa nyeri di bagian punggungnya ketika masih mengikuti pelajaran di sekolah. Lantaran tidak kuat menahan sakit, Kiki sempat menangis hingga akhirnya diantarkan pulang oleh gurunya.

Sesampai di rumah, Kiki merasakan mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kedua orang tuanya kemudian langsung membawanya ke RSUD dr. Raden Soedjati Purwodadi. Kiki pun langsung diperiksa dan dilakukan rontgen pada bagian yang sakit. Namun, hasil foto tersebut tidak bisa menunjukan gejala yang menjadi penyebab kelumpuhan.

Oleh pihak rumah sakit, Kiki disarankan dirujuk ke rumah sakit yang punya peralatan medis lebih lengkap. Kedua orang tua Kiki diberi pilihan rumah sakit di Solo dan Semarang. Namun, karena terbentur biaya, saran dari pihak RSUD itu belum dilakukan.

”Kalau biaya pengobatan, mungkin bisa diatasi, karena kami sudah punya BPJS. Kami bingung, untuk bisa dibawa ke sana. Seperti biaya transportasi dan lainnya. Kami berharap bantuan dari pemerintah, agar Kiki ini bisa sembuh dan mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang polwan,” lanjut Basrun yang bekerja sebagai buruh bangunan serabutan itu.

Akibat mengalami kelumpuhan tersebut, hampir seluruh aktivitas keseharian Kiki hanya dilakukan dengan tiduran dan duduk. Saat duduk, dia harus dijaga dengan pengaman di samping kanan-kirinya agar tidak terjatuh.

Meski mengalami kelumpuhan, Kiki sampai saat ini tetap sekolah. Setiap hari, Kiki diantarkan ke sekolah oleh ibunya Suharti yang mendorongnya di kursi roda.

Kursi roda ini merupakan hasil sumbangan berbagai pihak yang digalang oleh Komunitas Wisata Grobogan. Dengan kursi roda inilah Suharti mengantarkan anak keduanya ke sekolahan yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya.

Sementara itu, menurut guru kelasnya Aji Putra, Kiki merupakan siswa yang cukup pintar. Selama ini, dia mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Namun, Kiki memang sifatnya pendiam.

”Kami ikut prihatin dengan kondisinya saat ini. Semoga Kiki lekas diberikan kesembuhan agar bisa beraktifitas seperti teman lainnya. Selama ini, Kiki nilainya bagus-bagus,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Begini Cara Bedakan Batik Tulis Lasem Asli atau Bukan

Proses penjemuran batik tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)(

Proses penjemuran batik tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ada cara yang cukup mudah untuk mengetahui dan membedakan batik tulis Lasem dengan produk lain, atau yang palsu.”Untuk mengetahuinya, batik Lasem ini bisa dilihat dari warna dan motifnya. Yakni batik Lasem ini bercirikan mempunyai warna merah darah ayam.

Menurutnya, kalau tidak dari segi warna, batik Lasem juga bisa dilihat dari motifnya. Yakni batiknya banyak bunga-bunga kecil atau biasa disebut dengan sebutan sekar jagad,” kata Fathur Rohim, Perajin Batik Lasem.

Sementara itu, dalam pembuatan batik Tulis Lasem, katanya, dirinya lebih memilih dengan mengunakan cara tradisional atau dengan cara dilukis menggunakan canting. Hal inilah yang membuat batik Lasem cenderung mahal, dibandingkan batik yang diproduksi secara modern.

“Saat ini kita masih menggunakan canting. Dan jangan heran bila saat ini batik Lasem tersebut masih dibilang mahal. Sebab harga batik juga tergantung kerumitan membatik gambar atau polanya,” ungkapnya.

Untuk harga batik Lasem sendiri masih dibilang mahal. Sebab untuk harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2.5 juta. “Untuk harganya berfariasi. Baik dari Rp 250 ribu hingga Rp 2.5 juta. Dan itu juga tergantung motifnya maupun halus kasarnya. Terlebih letak kerumitannya,”tuturnya.

Untuk membuat batik Lasem, para pekerjanya biasanya membutuhkan waktu sekitar satu pekan, untuk menyelesaikan batik dalam ukuran kain sepanjang 270 cm dan lebar 1,15 cm. Itupun sering diselesaikan dua karyawan.

“Untuk pembuatannya yakni, kain putih polos tersebut diberikan pola terlebih dahulu menggunakan pensil. Setelah itu, pola tesebut dilapisi malam yang sudah dituang di canting. Nah setelah membatik pola, maka batikan itu dikasih isen-isen (titik titik, hiasan red),” bebernya.

Dia melanjutkan, setelah itu, diulangi di bagian belakang kainnya. Supaya batik itu tidak terlihat tembus. Kemudian bisa dilapisi dengan lilin. Supaya proses pewarnaan tidak merusak batiknya. Dan setelah itu bisa diplorot atau pembersihan warna.

Editor : Kholistiono

Kisah Fathur, Perajin Batik Lasem yang Rasakan Moncernya Omzet Penjualan Batik di Era Orba

f-batik 1 (e)

Perajin tengah melukis batik Lasem menggunakan canting (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dalam dunia fashion, batik saat ini semakin moncer. Apalagi, semenjak batik bisa diakui UNESCO sebagai warisan Indonesia, batik semakin berkembang pesat. Hampir di setiap daerah muncul pengusaha-pengusaha batik khas.

Seperti halnya di Kabupaten Rembang, yang mempunyai batik khas yakni batik tulis Lasem. Meski di tengah gempuran batik-batik modern, batik khas Lasem ini tetap diproduksi dengan cara manual atau tradisional. Inilah yang menjadikan batik ini cukup istimewa.

Batik tulis Lasem ini yang mengantarkan Fathur Rohim (53), menemukan masa kejayaan pada era tahun 1990-an. Pengusaha batik asal Dukuh Tulis, Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang, ini hingga kini masih setiap menerapkan cara tradisional untuk memroduksi batiknya.

Rohim menceritakan, usaha batik ini didirikan tak lepas dari kebiasaannya membantu sang ibu, yakni Maunah, pada tahun 1970-an. Saat itu ibunya sudah merintis usaha batik sejak zaman penjajahan Jepang.

Saat masih berusia 10 tahun, ia sering membantu keluarganya mengirimkan batik ke penjual di wilayah Rembang, Jatirogo, hingga Tuban. Selain itu, dirinya juga tak jarang membantu ikut menjemur hasil batik tersebut.

Hingga akhirnya, ia tergerak untuk membuka usaha sendiri pada tahun 1980-an. “Saya bisa membuka usaha batik juga lantaran tahu dan sering membantu dalam pembuatan batik ini. Sehingga saya memberanikan diri untuk membuka usaha ini,” ujarnya.

Dari sembilan bersaudara, hanya ia dan kakanya yang nomor empat yang meneruskan usaha batik ibunya. Mereka berdua ini yang sejak kecil ikut membantu usaha ibunya itu. Sementara saudaranya yang lain memilih usaha atau pekerjaan lain.

Saat ini tempat usahanya itu bisa mempekerjakan 50 karyawan. Namun diakuinya, saat ini penjualan batik tak semoncer tahun 1990-an lalu, sebelum adanya krisis moneter.

“Meskipun omzetnya agak berkurang, yang penting usaha ini harus tetap bisa bertahan. Sebab saat ini pengusaha batik Lasem tinggal sedikit dibanding dengan tahun-tahun lalu,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, pada tahun 1990-an, batik Lasem cukup laris. Baik itu dibeli oleh warga negara asing maupun lokal.  Dahulu ia bisa mengantongi untung mencapai Rp 15 juta per hari. Dan setelah krisis datang, penjualan bati terus merosot.

Editor : Kholistiono

165 Penyuluh Agama Islam di Jepara Diberi Pembinaan

Suasana kegiatan Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Suasana kegiatan Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 165 Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kabupaten Jepara diberi pembinaan.

Pembinaan itu dilakukan untuk memberikan pemahaman yang utuh berkait dengan kondusivitas daerah dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkait dengan bidang keagamaan.

Hal itu tidak lepas dari pentingnya peran dan posisi strategis para penyuluh di lingkungan masyarakat.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Jepara, Lukito Sudi Asmara, mengatakan, kegiatan pembinaan terhadap 165 orang yang berasal dari kecamatan se-Kabupaten Jepara  untuk memantapkan peran dan fungsinya.

Terlebih, peran dan fungsi penyuluh juga sebagai corong umat, sehingga termotivasi untuk melaksanakan tugas dengan penuh ketekunan dan pengabdian dengan menghasilkan penyuluh yang professional.

“Ini sebagai upaya untuk mendakwahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran agama dan sebagai upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat umum,” terang Lukito, Kamis (28/7/2016) di ruang rapat 1 Setda Jepara.

Menurutnya, penyuluh agama diharapkan memiliki tanggung jawab moral dan situasi untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap umat atau masyarakat dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan aqidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, mengatakan, pemerintah sangat membutuhkan penyuluh untuk dapat melakukan pembinaan kepada masyarakat sebagai perpanjangan informasi Kementerian Agama di kecamatan.

Dikatakan, karena perannya sebagai perpanjangan informasi maka fungsi penyuluh sangat strategis di masyarakat untuk memberikan pemahaman dan penyuluhan agama termasuk juga sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk untuk menjaga nilai-nilai akhlak manusia di tengah-tengah perkembangan masyarakat yang dinamis.

“Selain itu juga untuk mewaspadai situasi yang terjadi di masyarakat dengan munculnya  gerakan-gerakan atau aliran yang menyesatkan. Untuk itu perlu diberikan beberapa arahan dan pembinaan kepada para penyuluh Agama Islam di tingkat kecamatan sehingga terwujudnya masyarakat yang religius dan taat beragama di Kabupaten Jepara ini,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Tiket Presale Last Child dan Souljah Lebih Murah Daripada di Lokasi Konser

sukun e

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penjualan tiket presale konser Pemuda untuk Indonesia yang digelar KNPI Kudus bersama W Mld resmi ditutup Jumat pukul 23.59 WIB. Penutupan tersebut sesuai dengan jadwal panitia terkait penjualan tiket.

Salah satu panitia Konser Pemuda untuk Indonesia Ahmad Amir Faisol mengatakan, sejauh ini tiket presale memang sangat diminati oleh masyarakat Kudus. Ini lantaran harganya jauh lebih murah dari pada tiket saat hari H atau tiket OTS.

”Harga tiket presale bisa didapat dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 20 ribu. Tapi untuk tiket OTS harus lebih mahal, yakni Rp 25 ribu,” ungkapnya.

Dengan harga tersebut, penjualan tiket presale berhasil tembus diangka hingga dua ribu lembar. Sementara, panitia tengah menyiapkan 14 ribu tiket. Artinya penonton yang belum sempat membeli tiket presale bisa membeli langsung tiket saat hari H.

”Pas hari H nanti tiket akan dijual di pintu masuk. Jadi yang belum membeli tiket bisa membelinya langsung,” terangnya.

Di sisi lain, untuk tiket presale juga bisa ditukarkan di loket yang disediakan panitia. Ini karena tiket presale masih berupa kuitansi. Sedangkan untuk bisa masuk, penonton harus mengantongi tiket.

”Tiket presale memang masih berupa kuitansi. Karena itu kami siapkan loket khusus untuk menukarkan kuitansi tersebut. Silahkan yang memiliki kuitansi untuk menukarkan di sana,” ungkapnya.

Hanya, Faisol meminta masyarakat untuk tidak coba-coba mengakali panitia terkait tiket presale. Meski hanya kutiansi, namun kuitansi tersebut dilengkapi dengan stampel boot yang sudah ditunjuk.

”Selain stampel, kuitansi tersebut juga dilengkapi dengan hologram khusus. Hologram tersebut dipesan khusus untuk konser ini. Untuk mengetahui itu, panitia juga dibekali dengan screening sinar ultraviolet untuk membedakan asli apa palsu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Situasi Politik Jepara Memanas, Ini yang Dilakukan Pemkab

politik panas

Forum Komunikasi (Forkom) antar Pemerintah dan Masyarakat Jepara mengadakan kegiatan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Situasi politik di Kabupaten Jepara sempat mulai memanas. Kondisi itu mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak. Kali ini, untuk menjaga kondusivitas daerah jelang Pilkada Jepara 2017, pemkab menggelar Forum Komunikasi (Forkom) antar Pemerintah dan Masyarakat, di belakang pendapa kabupaten setempat, Kamis (28/7/2016).

Acara itu sengaja digelar untuk menyongsong pelaksanaan Pilihan Bupati dan Wakil Bupati 2017, dihadiri camat dan muspika serta organisasi dan kelompok sosial kemasyarakatan yang ada di Jepara. Tujuan utamanya semata untuk menjaga kondusivitas dan kenyamanan masyarakat menjelang, pelaksanaan hingga pascapilkada.

“Kegiatan ini dilandasi atas keinginan bersama untuk menciptakan Jepara yang kondusif. Apalagi menjelang pelaksanaan Pilbup dan Wabup 2017 yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2017. Untuk itulah diperlukan forum pertemuan untuk duduk bersama, berdiskusi guna mencegah dan memecahkan masalah secara jernih dan kebersamaan,” ujar Kepala Bakesbangpol Jepara, Istono.

Menurutnya, diharapkan forkom ini menjadi ajang  penyampaian pendapat dan masukan dalam rangka menciptakan kondusivitas daerah. Kegiatan lintas sektoral ini dipimpin langsung oleh bupati dan dilanjutkan dengan pemberian materi oleh segenap Forkopinda. Diawali dari bupati, ketua DPRD, ketua PA, ketua PN, kejaksaan, polres dan Kondim 0719. Turut memberikan pengarahan pada kesempatan tersebut, ketua KPU dan ketua panwaslu.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengingatkan bahwa tidak hanya permasalahan pilbup yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017 saja. Tetapi perlu juga mendapat perhatian, yaitu Pemilihan Petinggi (Pilpet) serentak yang direncanakan akan diselenggarakan pada tanggal 14 November 2016.

“Melalui Forum inilah diharapkan secara kebersamaan dapat mewujudkan, menjaga dan melestarikan kondusivitas daerah.  Jangankan kaca pecah ranting patahpun jangan sampai terjadi,” katanya.

Ketua DPRD Jepara, Dian Kristiandi meminta tidak hanya menjelang hajat besar seperti pilpet, pilkada dan lainnya saja. Karena dengan sering bertemu maka akan dapat dicegah hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Selanjutnya dimusyawarahkan yang terbaik untuk kemaslahatan umat. Termasuk di dalamnya segala bentuk gangguan ketertiban masyarakat dapat segera diselesaiakn pihak polri, maupun kodim dan pihak terkait.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Belasan Sopir Bus di Terminal Induk Purwodadi Mendadak Dikumpulkan, Ada Apa?

 

Para sopir bus mendapat pembinaan yang dilakukan Satlantas Polres Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para sopir bus mendapat pembinaan yang dilakukan Satlantas Polres Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriNewsCom, Grobogan – Belasan sopir bus mendadak dikumpulkan di ruang tunggu depan Kantor UPTD Terminal Induk Purwodadi, Kamis (28/07/2016). Di tempat ini, mereka ternyata diminta menghadiri acara pembinaan dan penyuluhan yang dilakukan Satlantas Polres Grobogan.

“Terima kasih atas kesediaannya menghadiri acara ini. Dalam acara ini kami ingin bersilaturahmi sekaligus mengingatkan kepada para sopir bus agar selalu tertib berlalu lintas,” Kata Kasat Lantas AKP Nur Cahyo.

Dalam kesempatan tersebut, Cahyo juga mengarahkan kepada supir angkutan umum untuk tetap berhati-hati pada saat membawa penumpang. Mereka diminta tidak memaksakan diri bekerja ketika kondisi fisik dan kesehatannya tidak fit.

Hal itu perlu diperhatikan untuk mengindari risiko kecelakaan di jalan raya. Sebab, seringkali faktor kecelakaan disebabkan kondisi sopir yang tidak sehat, tetapi memaksakan untuk bekerja. “Jadi kita juga arahkan kepada mereka jangan sampai dipaksakan mengemudi kalau lagi tidak enak badan. Dan sebelum melakukan perjalanan supaya mengecek kondisi kendaraan dan surat-suratnya terlebih dahulu,” ucap Kasat Lantas.

Cahyo juga mengimbau kepada sopir angkutan umun, untuk tidak mengkonsumsi obat atau pun minuman keras sebelum mengemudikan kendaraannya. Karena hal itu sangat berbahaya bagi keselamatan diri. Bukan hanya bahaya bagi sopir itu sendiri, tapi juga bahaya bagi para penumpang angkutan umum.

Menurut Cahyo, dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas, pihaknya lebih mengedepankan upaya pencegahan. Caranya, dengan melakukan pembinaan dan penyuluhan secara langsung pada berbagai elemen masyarakat. “Kita sudah rencanakan, kedepan akan blusukan ke desa-desa, menemui kelompok-kelompok masyarakat, para pelajar dan seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono