Petani Pati Keluhkan Musim Salah Mangsa

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Pati saat ini mengeluhkan kondisi musim yang salah mangsa. Bulan Juli yang mestinya musim kemarau, tetapi hujan masih turun. Orang menyebutnya, hujan salah mangsa atau tidak sesuai masanya.

Akibat dari hujan salah mangsa tersebut, tanaman padi menjadi rentan diserang penyakit. Sementara itu, tanaman palawija mudah membusuk karena terlalu banyak pasokan air ketika hujan datang.

“Kalau musim itu berlangsung normal, petani bisa dengan mudah memilih menanam padi atau palawija. Kalau ada fenomena hujan salah mangsa begini, kami jadi bingung dan harus menyiapkan langkah antisipasi. Langkah itu mengakibatkan biaya produksi lebih tinggi,” ungkap Supriadi, petani asal Kayen, Kamis (21/7/2016).

Di satu sisi, petani palawija biasanya menanam pada musim kemarau, sehingga tanamannya tidak butuh air banyak. Di sisi lain, petani yang ingin menanam padi masih berspekulasi apakah hujan di musim kemarau ini berlangsung lama atau sebentar.

Belum lagi, kondisi panas-hujan secara tidak teratur membuat penyakit padi berdatangan. Di sejumlah daerah di Kecamatan Gabus, misalnya. Padi mulai memerah akibat kondisi panas-hujan. Hal itu diakui Sriwati, petani asal Wedarijaksa. Sejumlah tanaman padinya mulai diserang hama, karena cuaca tidak menentu. “Kami berharap cuaca bisa berlangsung normal kembali,” harapnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sejumlah petani yang menanam palawija berada di kawasan Pati selatan. Sedangkan petani di wilayah Pati utara sebagian besar masih menanam padi. Mereka juga akan menghadapi La Nina yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus 2016.

Editor : Kholistiono