Petani di Babalan Pati Manfaatkan Tanaman Orok-orok untuk Basmi Hama Pertanian, Ini Keistimewaannya

 Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)


Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman bunga jenis orok-orok saat ini mulai dikembangkan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati. Tak hanya sebagai tanaman hias yang mempercantik sawah, bunga orok-orok yang mencolok menjadi sumber makanan bagi predator alami yang menjadi musuh hama pertanian.

Ketua Kelompok Tani Tanah Mas Desa Babalan, Sujak mengatakan, tanaman orok-orok punya kemampuan yang baik untuk memikat predator alami hama. Konsep tersebut, disebut sebagai sistem refugia yang sebetulnya sudah pernah dipakai petani masa lalu untuk memerangi hama.

Hanya saja, petani saat ini sudah mulai lupa dengan konsep dan sistem yang dipakai petani masa lalu. Padahal, konsep refugia diakui sangat efektif menanggulangi populasi hama secara alami. Imbasnya, petani menjadi hemat dalam penggunaan pupuk kimia.

“Tanaman orok-orok bisa mengundang lebah yang posisinya sebagai predator bagi hama pertanian. Lebah merupakan musuh alami bagi sejumlah jenis hama, seperti belalang sangit, wereng, penggerek batang, ulat, dan lain sebagainya,” kata penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya, Jumat (15/7/2016).

Selain orok-orok, kata dia, sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk sistem refugia adalah kecipir, turi, cokra-cakri, bunga matahari, tanaman bunga kertas, dan lainnya. Sistem refugia memilih jenis tanaman berbunga, lantaran bisa mengundang lebah, kumbang, lalat, kupu-kupu, dan beragam predator alami bagi hama.

Selain Desa Babalan, sejumlah petani yang mulai kembali memanfaatkan sistem refugia, di antaranya petani di Desa Tanjang dan Gabus. Diperkirakan, pemanfaatan tanaman refugia untuk mendukung aktivitas pertanian di Kecamatan Gabus saat ini sudah mencapai 20 persen.

Editor : Kholistiono