Nyadran, Tradisi Jelang Ramadan yang Masih Dilakukan di Grobogan

 Terlihat beberapa orang sedang nyadran di tempat pemakaman umum (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Terlihat beberapa orang sedang nyadran di tempat pemakaman umum (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski zaman sudah memasuki era millennium, namun tradisi masyarakat Indonesia masih ada yang tetap bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi nyadran yang biasanya berlangsung menjelang Ramadan.

Tidak hanya di kota saja yang banyak dijumpai orang nyadran. Tetapi, pemakaman di daerah pedesaan juga ramai peziarah menjelang datangnya bulan suci ini. “Jumlah orang yang nyadran tahun ini masih ramai. Banyaknya orang yang nyadran ini sudah terjadi sejak seminggu lalu,” ujar Murni, penjual kembang di dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) Banyuono, Purwodadi, Sabtu (4/6/2016).

Tradisi nyadran tidak hanya dilakukan warga yang tinggal di dekat areal pemakaman itu saja. Mereka yang selama ini sudah merantau jauh dari kampung halaman, ikut menyempatkan diri pulang sekadar untuk menengok makam keluarganya.

”Sesibuk apapun kerjaan, pasti saya sempatkan untuk nyadran ke makam leluhur. Rasanya, kalau belum nyadran kok ada yang kurang,” ujar Heru Antono, warga Purwodadi yang sekarang jadi pengusaha sukses di Kalimantan.

Banyaknya warga yang nyadran ke makam leluhur itu sedikit banyak juga memberikan berkah bagi beberapa pihak. Di antaranya, para penjual kembang musiman dan penjaga makam. Sebab sebagian besar peziarah itu dipastikan membawa kembang untuk ditabur di atas pusara.

 

 

Editor : Kholistiono