Duh, Piutang Angsuran Pasar Tradisional di Jepara Capai Rp 13 Miliar

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. (MuriaNewsComWahyu KZ)

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. (MuriaNewsComWahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ternyata beberapa pasar tradisional masih memiliki piutang angsuran. Jumlahnya cukup fantastis, karena dari depalan pasar yang masih memiliki piutang mencapai Rp 13 miliar lebih.

Hal itu seperti yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. Menurut dia, piutang angsuran delapan pasar tradisional yang dikelola Pemkab Jepara jumlahnya sangat besar. Piutang tersebut akibat tunggakan angusuran yang tidak dibayar pedagang untuk sewa kios.

”Jumlah Rp 13 miliar itu merupakan tunggakan pedagang dari sejak delapan pasar tradisional beroperasi sesuai dengan waktu operasional masing-masing,” ujar Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (17/5/2016).

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi tersebut merupakan masalah yang pelik bagi dirinya yang baru menjabat di Dinas tersebut. Bahkan, kata dia, hal itu sudah menjadi bidikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena jumlahnya sangat besar.

Dari jumlah piutang yang terdata itu, lanjutnya, tunggakan terbesar berada di Pasar Ratu yang mencapai Rp 7,748 miliar lebih yang dihitung sejak operasional pada 2006 lalu.

Dilanjutkan dengan Pasar Mayong sebesar Rp 2,6 miliar lebih yang angsurannya dihitung mulai tahun yang sama, Pasar Mindahan Kecamatan Batealit sebesar Rp 802 lebih mulai 2009, Pasar Lebak Kecamatan Pakis Aji sebanyak Rp 185 juta lebih terhitung mulai 2006, Pasar Tanggulasi Kecamatan Donorojo sebesar Rp 78,5 juta lebih mulai 2006, Pasar Ngabul Kecamatan Tahunan Rp 50,7 juta lebih mulai 2006, Pasar Kalinyamatan Rp 50 juta lebih mulai 2003, dan Pasar Tahunan sebanyak Rp 14,7 juta lebih mulai 2002 silam.

Editor: Supriyadi