Penyandang Cacat Mental di Blora Diajari Membatik

Kerajinan membatik yang diajarkan di panti rehabilitasi sosial di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Kerajinan membatik yang diajarkan di panti rehabilitasi sosial di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Beberapa penyandang cacat mental yang menghuni Balai Rehabilitasi Sosial Pangruti Mulyo Rembang Unit Rehabilitasi Sosial Pamardi Karya Blora diajarkan berbagai keterampilan. Di antaranya membatik, membuat telur asin, membuat batako serta membuat pot.

Panti sosial milik Dinas Sosial Provinis Jawa Tengah yang terletak di Jalan Blora-Rembang Kilometer 10 Desa Ngampel, Blora, itu dihuni oleh 58 penerima manfaat. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Di tempat ini, penerima manfaat diajarkan berbagai keterampilan. Namun demikian, hasilnya tidak kami perjual belikan. Misalkan saja hasil karya membatik, biasanya hanya kami ikutkan pada even pameran, terbaru adalah kami ikut pameran di Semarang. Kemudian, untuk telur asin misalnya, hasilnya juga dikonsumsi oleh penerima manfaat lain yang ada di sini,” ujar Dian Sulistyaningtyas, Seksi Administrasi Umum dan Bagian Rehabilitasi Unit Rehabilitasi Sosial Pamardi Karya Blora kepada MuriaNewsCom.

Ia katakan, dari 58 penerima manfaat di sana, tidak semuanya bisa diajarkan keterampilan. Sampai saat ini hanya 9 peneria manfaat yang bisa diberi bekal keterampilan. Hal itu dikarenakan, masing-masing dari penghuni panti tersebut, tidak semuanya bisa diajak komunikasi secara normal.

Untuk mengajarkan keterampilan kepada penghuni panti, juga tidak bisa dilakukan setiap hari, karena tergantung kondisi kejiwaanpenghuni.  Jika mereka sedang mood, bisa diajarkan keterampilan, namun ketika mood mereka tidak bagus, maka sulit untuk bisa mengajarkan keterampilan.

“Pelatihan yang kita berikan tergantung mood dari mereka, bisa setiap hari atau bahkan pernah satu bulan penuh tidak ada pelatihan keterampilan, karena kondisi kejiwaan mereka sedang tidak baik,” ungkapnya.

Dari semua penghuni yang ada, katanya, adalah eks psikotik, yaitu orang yang mengalami gangguan jiwa dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, kondisi kejiwaan mereka tidak stabil seperti halnya manusia pada umumnya.

Kemudian, bagi penyandang psikotik juga banyak yang menghuni panti tersebut. Menurut Dian, mereka adalah yang terjaring razia Satpol PP dari berbagai daerah dan ditaruh dipanti tersebut.

Menurutnya, selain keterampilan, penghuni panti  juga diajarkan untuk bersosial. Hal itu dikarenakan, ketika mereka nanti bisa sembuh total dan kembali ke masyarakat sudah siap dengan bekal yang telah mereka dapatkan. “Tapi bagi yang tidak bisa sembuh, ya mereka disini seumur hidup,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono