Kirab Budaya Jepara Gunakan Sistem Estafet

Peserta karnaval budaya dalam rangka Hari Jadi Jepara ke 467 terlihat memeragakan aksinya dalam aksi teatrikal, sebelum arak-arakan dimulai, Sabtu (9/4/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

Peserta karnaval budaya dalam rangka Hari Jadi Jepara ke 467 terlihat memeragakan aksinya dalam aksi teatrikal, sebelum arak-arakan dimulai, Sabtu (9/4/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Selain tak menghadirkan dua tokoh perempuan, yakni Ratu Shima dan RA Kartini, kirab budaya Hari Jadi Jepara ke-467 tahun 2016 ini, juga menggunakan sistem estafet.

Sistem estafet itu, digunakan pada proses arak-arakan dari Pendapa Kabupaten Jepara, hingga ke makam Mantingan. Ada tiga pos yang digunakan dalam kirab budaya tersebut.

Pos pertama yakni dari Pendapa Kabupaten Jepara hingga perempatan kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora). Peserta di pos satu ini terdiri dari enam kecamatan, yakni Kecamatan Donorojo, Keling, Kembang, Bangsri, Mlonggo, dan Jepara.

Untuk pos kedua dari perempatan Disdikpora sampai Perempatan Bregat, dengan peserta dari empat kecamatan. Yakni Kecamatan Tahunan, Mayong, Batealit, dan Kalinyamatan.

Sedangkan untuk pos tiga, dari Perempatan Bregat sampai ke tempat tujuan yakni makam Mantingan. Dengan peserta dari empat kecamatan, yakni Kecamatan Nalumsari, Kedung, Pecangaan, dan Welahan.

Lantaran sistem arak-arakan menggunakan sistem estafet, sehingga setelah peserta pengarak dari pos satu sampai di pos dua, giliran pos dua yang mengarak sampai ke pos tiga. Selanjutnya juga demikian, pos tiga yang mengarak hingga ke tempat tujuan.

Ketua Panitia Hari Jadi Jepara Hadi Priyanto mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai penguatan kembali kearifan lokal Jepara, dan membangkitkan kembali potensi Jepara. Dalam kegiatan ini sejumlah instansi dilibatkan dan juga dalam penampilan tiap instansi dilombakan.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Batealit, Ihsan mengatakan, prosesi kirab budaya tahun ini tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari jumlah peserta maupun warga yang menonton di pinggir rute kirab.

”Kalau dulu kan, sampai penuh. Tapi tahun ini kok tidak penuh. Lebih ramai tahun kemarin,” katanya.

Editor: Merie