Hore, Sinoman dan Purworejo Pati Punya Rumah Burung Hantu

 CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Desa Sinoman dan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Pati saat ini punya lima rumah burung hantu (rubuha) jenis Tyto Alba yang dikenal sebagai predator alami bagi hama tikus. Karena, kawasan pertanian di desa tersebut selama ini paling parah diserang hewan pengerat tikus.

Kesepuluh rubuha di dua desa tersebut merupakan bantuan dari Pemkab Pati yang getol mengkampanyekan Tyto Alba mengendalikan hama tikus. “Setelah kita lakukan kajian, tahun ini akhirnya dua desa di Pati mendapatkan bantuan rubuha masing-masing lima rumah, yaitu Sinoman dan Purworejo,” ujar Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/3/2016).

Sementara itu, alokasi dana APBD Kabupaten Pati yang digunakan untuk mengembangkan Tyto Alba sebagai predator alami tikus digunakan untuk membangun 200 rubuha dan lima unit karantina. Keduanya tersebar di berbagai kawasan pertanian di Pati seperti Kecamatan Gabus, Kayen, Tambakromo, Sukolilo, Jakenan, Margorejo, Wedarijaksa, Trangkil, Juwana, Tayu, Tlogowungu, dan Pati.

“Hama tikus sudah menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Populasinya sulit dikendalikan. Berbagai upaya juga sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Itu sebabnya, upaya pelestarian predator alami tikus sangat penting untuk menyelamatkan pertanian di Pati dari ancaman tikus, termasuk membuat peraturan bupati yang melarang perburuan burung hantu,” tutur Haryanto.

Upaya itu diakui untuk mengamankan masa tanam pertama dari ancaman tikus, terutama di daerah-daerah yang sudah menjadi endemis tikus. “Jangan sampai masa tanam pertama ini, petani di daerah yang menjadi endemis tikus gagal panen. Kita sebagai salah satu penyumbang ketahanan pangan nasional harus bisa menjaga hasil panen,” imbuhnya.

Bahkan, untuk memberikan semangat kepada petani, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati menghargai satu ekor tikus senilai Rp 1.000. Hal itu diharapkan agar petani semangat dalam memberantas tikus menggunakan sistem gropyokan dengan metode emposan dan belerang.

Editor : Akrom Hazami