Bupati Rembang Larang Santri dan Mahasiswa Jadi PNS

Bupati Rembang Abdul Hafidz pada serangkaian acara dies natalis XVI STIE 'YPPI' Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Bupati Rembang Abdul Hafidz pada serangkaian acara dies natalis XVI STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz melarang para santri dan mahasiswa yang mempunyai keinginan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasalnya, hingga saat ini jumlah pegawai negeri di Rembang sudah membludak.

”Jangan berharap dan jangan berpikir untuk menjadi pegawai negeri. Lewatkan saja itu. Apalagi ngotot ingin jadi pegawai negeri, tidak perlu,” kata Hafidz pada acara Sarasehan Santri dan Mahasiswa se-Jateng dalam rangka dies natalis XVI STIE ‘YPPI’ Rembang, Rabu (30/3/2016).

Diungkapkan olehnya, pegawai negeri sipil (PNS) di Rembang mencapai angka 4.000 pegawai. Sementara tenaga honorer kategori dua (K2) sebanyak 352. Menurutnya, jika dikalkulasi, para pemuda harus menunggu 20 tahun untuk menggantikan seluruh pegawai negeri di Rembang.

”Di Rembang ini, yang mengabdi saja sudah 4.000. Yang mengabdi puluhan tahun, ada yang 20 tahun, ada juga yang 23 tahun. Itu yang masuk K2. Bayangkan saja, kalau dalam satu tahun mengangkat 200 pegawai, maka butuh waktu 20 tahun untuk produk-produk baru ini. Sudah pokoknya, lewatkan,” jelas Hafidz.

Oleh karena itu, Hafidz mengapresiasi dan mendukung para pemuda yang terjun dalam dunia enterpreneur. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, baik pemerintahan maupun swasta untuk mengarahkan pemuda agar menggeluti kewirausahaan.

”Mari bersama-sama mendukung kawula muda yang sudah mengibarkan bendera untuk menjadi enterpreneur. Baik dari pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi bersama-sama bertekad untuk mengarahkan pemuda yang ingin menjadi enterpreneur,” tandasnya.

Hafidz menambahkan, dengan menjadi seorang enterpreneur maka akan semakin banyak pengangguran yang terserap dalam dunia kerja. ”Inilah nilai plusnya, karena sekaligus memberikan pekerjaan bagi orang lain,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni