Banyaknya Industri Nonmebel Mengancam Eksistensi Ukir dan Mebel di Jepara

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa waktu terakhir ini berdiri sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang nonmebeler. Keberadaan industri nonmebel di Kabupaten Jepara tersebut dituding mengancam eksistensi mebel, furnitur dan ukir-ukiran khas Bumi Kartini. Sektor mebel, furnitur dan ukir-ukiran kekurangan tenaga kerja karena banyak yang terserap di industri nonmebel, terutama industri garmen.

Salah satu pelaku usaha mebel di Pecangaan Jepara, Febti Estiningsih mengemukakan, dirinya terpaksa menolak beberapa kali pesanan dari luar negeri karena khawatir tak bisa mengirim produk tepat waktu. Pangkal persoalannya lantaran sulitnya mencari tenaga kerja sektor mebel.

”Kalau beberapa waktu lalu kita sulit mencari tukang ukir. Tapi sekarang tak hanya itu tukang finishing termasuk bagian amplas juga sulit. Mereka terserap di industri garmen semakin banyak,” kata Febti kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan semakin sulitnya mendapatkan karyawan, tentu saja memperlambat pembuatan produk mebel. Sehingga, dirinya terpaksa menolak pesanan baik dari dalam maupun luar negeri.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jepara Abdul Kohar mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku usaha mebel, furnitur dan ukir-ukiran. Dan isi keluhan itu seperti yang disampaikan Febti Estiningsih.

Menurut Kohar, rongrongan industri garmen terhadap sektor usaha mebel, termasuk kain Troso khas Jepara memang nyata. Jika kondisi ini tak segera diantisipasi, maka bisa jadi julukan Jepara sebagai Kota Ukir tinggal kenangan. Dan berganti menjadi Kota Jahit atau Kota Obras Kain.

”Saya juga heran begitu mudahnya industri garmen memperoleh izin usaha di sini? Pemkab mestinya melakukan kajian imbas munculnya perusahaan garmen terhadap eksistensi usaha khas Jepara,” ujarnya.

Saat ini, jumlah perusahaan garmen yang mayoritas berbasis penanaman modal asing (PMA) terus bertambah di Jepara. Lokasi pabrik garmen itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pecangaan dan Mayong.

Editor : Titis Ayu Winarni