Antisipasi Flu Burung, Disnakkan Grobogan Siagakan Petugas Medis dan Paramedis 

Petugas medis dan paramedis Dinas Pertenakan dan Perikanan Grobogan mengikuti kegiatan bintek untuk mengantisipasi munculnya penyakit pada berbagai jenis hewan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas medis dan paramedis Dinas Pertenakan dan Perikanan Grobogan mengikuti kegiatan bintek untuk mengantisipasi munculnya penyakit pada berbagai jenis hewan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Pertenakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan saat ini mulai membekali kembali kemampuan petugas medis dan paramedis yang dimiliki. Hal ini berkaitan dengan adanya banyak kasus penyakit pada hewan yang muncul akhir-akhir ini. Terutama, penyakitflu burung atau Avian Influenza (AI) yang mncul dibeberapa daerah.

“Kondisi di Grobogan saat ini, relatif masih aman, utamanya dari serangan flu burung. Meski demikian, kami tetap waspada dengan munculnya beberapa kasus AI di lain daerah,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto melalui Kabid Keswan Kesmavet Nur Ahmad Wardiyanto, usai membuka acara bintek bagi petugas medis dan paramedis di kantornya, Rabu (30/3/2016).

Menurutnya, meski masih muncul di wilayahnya, namun tren serangan AI ini mulai berkurang jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 lalu, ada beberapa serangan AI disejumlah lokasi.Antara lain di Klambu, Tanggungharjo, Purwodadi dan Godong. Adapun jumlah unggas yang mati akibat AI sekitar 500 ekor. Kebanyakan adalah jenis itik.

Kemudian, pada tahun 2014 kasus AI muncul di Kedungjati, Purwodadi, Toroh, Grobogan, dan Karangrayung. Jumlah unggas mati akibat AI mencapai 400 ekor. Sebagian besar adalah jenis ayam buras.

Untuk tahun 2013, ada laporan kematian unggas secara mendadak sekitar 1.000 ekor dibeberapa lokasi. Namun, setelah dicek hasilnya tidak terkena AI tetapi penyakit biasa yang sering menyerang unggas,” jelasnya.

“Kami juga mengimbau agar unggas yang mati akibat AI supaya dimusnahkan atau dibakar. Hal ini, setidaknya bisa mencegah agar penularannya tidak meluas,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono