Modal Rp 10 Juta, Usaha Katering di Blora Ini Moncer

Sri Asih bersama para pekerja nampak sibuk (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sri Asih bersama para pekerja nampak sibuk (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan rupiah. Di antaranya dilakukan Sri Asih (45) warga Dusun Sasak, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Blora. Dia membuka usaha katering.

Usaha yang dilakoninya itu telah berjalan hampir lebih dari sepuluh tahun. Kini usaha kateringnya pun berkembang moncer. Serta mampu mengurangi pengangguran di desanya. Mereka dipekerjakan di beberapa bagian. Seperti dari bagian memotong, merebus, menusuk, membakar daging dan mengiris bumbu hingga memasak nasi.

Wirausahanya merupakan katering dengan spesial kuliner daging kambing. “Kami melayani pesanan bagi warga yang punya hajat, rapat, acara khusus atau pesta lainnya. Alhamdulillah, bisa menopang ekonomi. Hampir setiap hari ada pesanan, kalau pesan kami sarankan jangan mendadak, soalnya kami harus persiapan belanja dulu,” kata Sri, kepada MuriaNewsCom, Sabtu (26/3/2016).

Pesanan kuliner yang dilayani di antaranya sate daging kambing, tengkleng, gulai, lapis, asem-asem dan nasi kardus.

“Setiap ada pesanan kami memotong hewan kambing rata-rata lima ekor. Yang pesan tidak hanya dari tetangga desa saja, tapi juga luar kecamatan,” ujarnya.

Wirausaha yang ditekuni, kata Sri Asih, mendapat dukungan sepenuhnya dari Soim (52), suaminya. “Di dukung bapaknya anak-anak. Kami dibantu sepuluh orang tenaga, enam perempuan dan empat orang pria. Mereka mempunyai tugas masing-masing,” tambahnya.

Menurut Sri, wirausaha yang ditekuni belum pernah mendapatkan bantuan permodalan dari pemerintah.
“Setiap pesanan, kami harus sediakan modal Rp.10 juta. Itu untuk beli kambing dan bahan lainnya serta upah jasa tenaga. Kalau ada bantuan kredit modal usaha, tentu saja sangat berterima kasih,” ungkapnya.
Untuk membeli kambing, dia tidak merasa kesulitan, sebab hampir sebagian pria di wilayahnya bekerja sebagai pedagang kambing, termasuk suaminya.

Dijelaskan, dari wirausaha yang ditekuni pasangan suami istri tersebut mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

“Kami bersyukur, dikaruniai tiga anak. Yang pertama sudah kuliah, anak yang kedua di pondok pesantren Lasem, dan yang ketiga masih SD,” ujarnya sambil melempar senyum.

Editor : Akrom Hazami