LPM Fokus UNISNU Bedah Buku Ahlussunnah Wal-Jama’ah

LPM Fokus Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UNISNU Jepara menggelar acara bedah buku berjudul Ahlussunnah Wal-Jama’ah karya dari Lukmanul Hakim, di gedung kampus setempat, Kamis (10/3/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

LPM Fokus Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UNISNU Jepara menggelar acara bedah buku berjudul Ahlussunnah Wal-Jama’ah karya dari Lukmanul Hakim, di gedung kampus setempat, Kamis (10/3/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fokus Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UNISNU Jepara menggelar acara bedah buku berjudul Ahlussunnah Wal-Jama’ah karya dari Lukmanul Hakim, di gedung kampus setempat, Kamis (10/3/2016).

Acara yang bekerjasama dengan perpustakaan Mutamakin Press Pati tersebut juga menghadirkan narasumber di bidangnya yakni M. Nasrul Haqqi dan Qutbi Izziddin. Selain mahasiswa, bedah buku ini juga dihadiri oleh siswa siswi SMA se-Jepara.

Dekan FDK Noor Rohman Fauzan, mengaku senang dan mengapresiasi acara ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini sebenarnya masih jarang digelar sehingga harus mulai sering diadakan di UNISNU. Sebab, kegiatan semacam ini mampu menambah wawasan dan pengetahuan khususnya bagi mahasiswa.

”Kegiatan bedah buku semacam ini harus sering dilakukan agar menambah pengetahuan dan wawasan bagi para mahasiswa,” kata Noor Rohman dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, salah satu pemateri, Qutbi Izziddin menjelaskan jika Ahlussunnah Wal-Jamaah (Aswaja) harus kita pahami secara benar agar kita tidak mudah terpengaruh oleh ajaran lain, yang sudah tidak selaras lagi dengan nilai-nilai agama Islam, apalagi UNISNU adalah kampus yang menganut faham Aswaja

Sementara Nasrul Haqqi yang juga membedah buku tersebut mengatakan, ada tiga pembahasan penting yang sangat menarik dalam buku tersebut. Pertama, pembahasan sejarah Aswaja. Kedua, dimensi Teologi.

”Riwayat-riwayat Tuhan ada di mana-mana dan juga apabila di komparasikan dengat ayat-ayat Alquran maka akan ketemu inti ilmunya. Ketiga, Mauidhoh atau nasihat. Untuk menjadi muslim yang berakidah Ahlussunnah Wal-jama’ah tidak perlu dilakukan pembicaraan yang sulit atau berat-berat akan tetapi hanya perlu mengucap syahadah dan selalu membentengi diri kita dengan aliran dan pemikiran-pemikiran yang berbau ekstrim,” jelasnya.

Di akhir acara, Noor Rohman Fauzan juga menambahkan, apa pun aliran yang masuk di kampus kita ini, kita harus pandai memilah dan memilihnya. Jangan sampai kita mudah terpengaruh oleh budaya-budaya baru yang masuk.

”Aswaja adalah ajaran yang sangat indah karena mampu membawa nilai Islam dan memadukan dengan nilai budaya yang ada. Itu merupakan bukti Aswaja tidak lekang oleh waktu dan terhadap semua ajaran yang baru, kita harus memahaminya secara utuh agar tidak mudah terpengaruh,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni