Disediakan Lahan, Petani Grobogan Diminta Tidak Merusak Tanaman Milik Perhutani

Sejumlah warga tengah bersiap melakukan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, KPH Semarang pada bulan Desember tahun lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga tengah bersiap melakukan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, KPH Semarang pada bulan Desember tahun lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk membantu meningkatkan pendapatan, Perum Perhutani selama ini sudah menyediakan lahan untuk bercocok tanam petani di sekitar kawasan hutan. Oleh sebab itu, sebaliknya para petani juga diminta untuk tidak merusak tanaman yang menjadi milik Perhutani.

Hal itu disampaikan Administratur KPH Semarang Yuda Suswardanto saat melangsungkan kegiatan penanaman pohon bertajuk ’Penghijauan Dengan Pola Padat Karya’ di Dusun Kali Ceret, Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

”Lahan yang sudah disediakan buat petani silahkan dimanfaatkan sebaik mungkin. Tetapi perlu diperhatikan jangan merusak tanaman milik Perhutani. Sebab, jika kedapatan melakukan perusakan akan diproses secara hukum,” tegas Yuda.

Acara penanaman pohon yang diikuti siswa sekolah dan tokoh masyarakat itu dihadiri sejumlah pejabat. Antara lain, Plt Ketua DPRD Grobogan Nurwibowo, Kasdim 0717/ Purwodadi Mayor Inf Arif Isnawan, dan Kabag Ops Polres Grobogan Kopol Jenda Pulung.

Dalam acara tersebut Arif Isnawan mengatakan Gerakan Penghijauan Padat Karya tersebut harus melibatkan berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan pemerintahan saja, masyarakat dan pengusaha juga diminta ikut terlibat di dalamnya. Sehingga semua pihak merasa peduli untuk ikut menyukseskan program penghijauan yang sedang digalakan pemerintah.

Pada bulan Desember tahun lalu, pihak KPH Semarang juga sudah melangsungkan penanaman pohon di petak 79a, BKPH Deras, yang masuk wilayah Desa Deras, Kecamatan Kedungjati. Acara penanaman pohon yang juga melibatkan masyarakat itu digelar dalam rangka Bulan Menanam Nasional.

Editor : Titis Ayu Winarni

Cegah Abrasi, Puluhan Ribu Pohon Ditanam di Pesisir Rembang

Upacara sebelum penanaman pohon di wilayah padat karya di Tasik Harjo, Kaliori, Rembang, Jumat (29/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Upacara sebelum penanaman pohon di wilayah padat karya di Tasik Harjo, Kaliori, Rembang, Jumat (29/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Komando Distrik Militer (Kodim) 0720/Rembang bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat melakukan penanaman puluhan ribu pohon di bantaran pantai Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Jumat (29/1/2016).

Kegiatan tersebut, selain sebagai program penghijauan juga sebagai antisipasi pencegahan bencana alam berupa abrasi. Sebanyak 4.000 pohon mangrove di tanam di tepi pantai, sedangkan 9.750 pohon produktif (berbuah) ditanam di desa setempat.

Dandim 0720/ Rembang, Letkol Infantri Darmawan Setiyadi, menyampaikan penanaman puluhan ribu pohon itu untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran dalam memelihara lingkungan secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk mendukung program pemerintah.

”Serta membantu program pemerintah untuk mengurangi dampak lingkungan, agar wilayah Kabupaten Rembang dapat terhindar dari bencana alam. Baik itu abrasi laut maupun tanah longsor,” tandasnya.
Program penghijauan dengan pola padat karya tersebut, kata Darmawan, dimulai hari ini dan dilaksanakan secara bertahap dalam kurun waktu dua bulan. Rencananya, kegiatan serupa dilakukan di setiap kecamatan di wilayah Rembang.

”Penghijauan ini juga untuk membangkitkan semangat, motivasi, dan budaya masyarakat untuk menanam sekaligus memelihara kelestarian alam,” pungkasnya.

Kegiatan penghijauan tersebut juga dihadiri oleh Pj Bupati Rembang Suko Mardiono, Kapolres Rembang AKBP Winarto, dan seluruh Kepala SKPD. Selain itu, juga melibatkan ratusan orang terdiri dari pelajar, masyarakat desa setempat, dan komunitas peduli lingkungan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Gebyar Seni Budaya Lesbumi dan Haul Gus Dur di Kudus

Perwakilan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus Abu Hasan. (Istimewa)

Perwakilan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus Abu Hasan. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus menyelenggarakan Gebyar Seni Budaya Lesbumi dan Haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kampoeng Festival Bambu Wulung Jl. Kudus-Pati KM 5, Kudus.

Acara yang dilaksanakan pada 30-31 Januari 2016, akan diisi dengan beragam kegiatan. “Pada 30 Januari, beragam acara yang telah disiapkan yaitu lomba rebana untuk pelajar, lomba teater pelajar, dan lomba melukis potret Gus Dur yang semuanya diperuntukkan bagi pelajar tingkat SMA,’’ ujar ketua panitia Dwi Saifullah melalui sekretarisnya, Abu Hasan.

Di rilis yang diterima, Hasan menambahkan, selain berbagai lomba tersebut, ada juga pementasan teater oleh Teater Lesbumi Kudus. ”Pada pementasan ini, para awak Teater Lesbumi mengangkat lakon ‘Sumbadra Sayembara’,’’ lanjutnya.

Pada hari kedua, yakni 31 Januari, diselenggarakan talkshow bertajuk ‘’Gus Dur Guru Bangsa’’ dengan menghadirkan narasumber Inayah Wulandari Wahid (putri Gus Dur) dan KH Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

“Pada kesempatan itu, juga ada berbagai penampilan lain yang akan menyemarakkan kegiatan ini, seperti pembacaan puisi oleh sastrawan Jumari HS., musikalisasi puisi oleh Nuzumal Laily, dan juga dimeriahkan dengan kehadiran Binta Athivata Tabriez, yang populer berkat penampilan apiknya saat mengikuti Program Akademi Syiar Indonesiar (AKSI) Junior di salah satu televisi swasta nasional,’’ jelasnya.

Lebih lanjut dikemukakan, selain mengenang jasa-jasa Gus Dur dan membumikan pemikiran-pemikiran pluralisme sang guru bangsa itu, khususnya masyarakat Kudus, di tengah-tengah kegiatan juga akan dilaksanakan pelantikan pengurus Lesbumi.

“Kegiatan pembuka ini diharapkan mampu memunculkan spirit untuk menumbuhkembangkan seni-budaya di Kudus, terlebih di kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU),’’ tutur Abu Hasan didampingi Eko Winasis, salah satu panitia kegiatan.

Editor : Akrom Hazami

Berburu Hewan, Warga Sukoharjo Pati Tewas Tertembak Peluru Senapannya Sendiri

Suasana duka di rumah keluarga korban di Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana duka di rumah keluarga korban di Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, bernama Edi Susanto (35) meninggal dunia diduga karena tertembak senapan anginnya sendiri saat berburu di kawasan Juwana, Pati, Jumat (29/1/2016).

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, Edi meninggal setelah peluru ukuran 4,5 kaliber menembus dada kanannya. Korban dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Budi Agung Juwana, tapi nyawanya tidak tertolong saat sampai di rumah sakit.

“Saya tidak tahu kronologinya. Saya hanya menjemput jenazah di rumah sakit. Hanya, saya lihat ada bekas tembakan pada bagian dada kanan,” ujar Mustari, Staf Pemerintahan Desa Sukoharjo.

Ia mengatakan sudah menjemput jenazah di rumah sakit sekitar jam 14.00 WIB. “Saya ikut menjemput sekitar pukul 14.00 WIB. Senapannya cukup besar,” imbuhnya.

Sampai berita ini turun, jenazah sudah disemayamkan di rumah duka. Warga berbondong-bondong melayat di rumah duka.

Editor : Akrom Hazami

Mantan Aktivis Pers Mahasiswa se-Indonesia Akan Berkumpul di Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 
MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan tokoh dari berbagai profesi yang merupakan anggota dari Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) akan berkumpul di Kudus, Jawa Tengah, Sabtu, (30/1/ 2016).

Para mantan aktivis pers mahasiswa dari seluruh Indonesia itu berkumpul dalam rangka peringatan satu tahun berdirinya FAA PPMI. Sedari masih menjadi aktivis kampus hingga kini mereka terbukti konsisten dengan komitmen dan idealisme dalam memandang arah bangsa ke depan di masing-masing bidang profesi mereka. Anggota FAA PPMI adalah orang-orang yang tersebar ke dalam beragam profesi dan pekerjaan seperti politisi, peneliti, jurnalis, pengusaha, birokrat, dan sebagainya.

Karena itu acara peringatan FAA PPMI sekaligus menjadi medium mempertemukan seluruh pemikiran dari pelbagai kalangan untuk mencari, memetakan, sekaligus merumuskan penyelesaian persoalan bangsa. FAA PPMI yang dideklarasikan 24 Januari 2015 di Jakarta ini akan merayakan kebersamaan dengan menyelenggarakan Diskusi Terfokus bertema “Merajut Nusantara: Membaca Kondisi Kekinian dan Masa Depan Indonesia” yang digelar paralel di kampus Universitas Muria Kudus (UMK).

Diskusi para tokoh ini akan terbagi menjadi tiga bidang. Yaitu bidang Politik dan Hukum; bidang Ekonomi, Bisnis dan Lingkungan; serta bidang Sosial, Budaya dan Pendidikan.

Sejumlah tokoh penting Anggota FAA PPMI yang ikut meramaikan Harlah FAA PPMI dalam panel diskusi antara lain:

Di bidang Politik dan Hukum: Sekjen PB NU Helmy Faizal Zaini, Direktur Kebijakan Publik Paramadina Abdul Rahman Ma’mun, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Deddy Hermawan, Kepala Pusdiklat Bappenas Dr. Wignyo Adiyoso, Deddy Hermawan (Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika), Dr. M. Alfan Alfian (Direktur The Akbar Tandjung Institute), Sunarto Ciptoharjono(Direktur Lingkaran Survei Kebijakan Publik/ LSKP), Dr. Arkam Asikin (Dosen Universitas Negeri Makassar/ Pengamat Politik), Tri Suparyanto (Penanggung Jawab Rajawali TV/ RTV Yogyakarta), Eko Bambang Subiantoro (Direktur Riset Polmark), Rusman ( Stafsus Kemendes)

Di bidang Ekonomi, Bisnis dan Lingkungan Didik Supriyanto (Pemimpin Redaksi Merdeka.com), Hasan Aoni Aziz (Sekjend Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia), Hery Triyanto (General Manajer Bisnis Indonesia), Ines Handayani (Pendiri dan Chief Operating Officer Saqina.com), Arif Data Kusuma (Project Manager WWF Kutai Barat), Andreas Ambar Purwanto (Direktur PT Tosanda Dwi Sapurwa)

Di bidang Sosial, Budaya dan Pendidikan: M. Rikza Chamami, MSi (Dosen Universitas Islam Walisongo Semarang) , Israr Ardiansyah (Adviser Indonesia Mengajar), Ari Ambarwati, M.Pd (Pengamat Pendidikan/ Kepala Bidang Komunikasi Masyarakat Universitas Islam Malang), Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film), Dwidjo Utomo M (Seniman/ Pendidik), Rohman Budijanto (Direktur Eksekutif the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi), Trijono (Praktisi Pendidikan), Wahyu Susilo (Migrant Care), Rama Prambudhi Dikimara (Direktur Dewantara Institute),Danang Sangga Buwana (Komisioner KPI)

“Sejarah akan mencatat di Kudus kami bertemu dan bersatu dalam visi yang sama, keberagaman ide dan gagasan kian menyempurnakan kebersamaan kami mewarnai bangsa yang sedang ditempa beragam persoalan mulai dari korupsi, ancaman radikalisme dan puritanisme, konflik elit politik, serta perusakan lingkungan dan ekologi” ungkap Kordinator Presidium FAA PPMI Agung Sedayu di Kudus, (29/1/ 2016).

Selain diskusi terfokus tematik, reuni turut dimeriahkan oleh penampilan Barong Putro Budoyo dan Pameran Karya Anak Kreatif, Futsal Persahabatan dan Cangkrukan Alumni yang dimeriahkan penampilan The Tambal Ban.

Editor : Akrom Hazami

Kades Pekalongan: Didit Baik, Buktinya Bisa Jadi Ketua RT

Gudang yang disewa Didit untuk tempat ratusan kilogram sabu masih dijaga polisi dan dipasang garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Gudang yang disewa Didit untuk tempat ratusan kilogram sabu masih dijaga polisi dan dipasang garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Didit atau Didit Riyono salah seorang warga Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Jepara masuk dalam daftar tersangka kasus narkoba. Siapa sangka, Didit yang diamankan aparat bersenjata lengkap itu merupakan ketua RT 07 RW 02 desa setempat.

Kepala Desa atau Petinggi Desa Pekalongan, Mustain mengaku informasi mengenai ditangkapnya salah satu warganya tersebut cukup mengagetkan. Sebab, Didit selama ini dianggap warga yang baik.

”Beliau sebelumnya baik-baik saja, buktinya bisa menjabat ketua RT. Dengan warga sekitar biasa saja,” kata Mustain kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Menurutnya, meskipun tempat tinggal dia dengan tempat tinggal Didit cukup jauh. Namun dari informasi yang dia dengar memang yang bersangkutan seperti warga pada umumnya yang sebelumnya tidak terjerat masalah.

”Rumahnya sampai sekarang masih biasa saja, ada istri dan anak-anaknya. Sepengetahuan saya dia punya tiga anak. Anak paling besar sekitar kelas satu SMA, dan yang paling kecil masih digendong,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sejauh ini warga sekitar kediaman Didit tidak begitu heboh dengan kabar tersebut. Terlebih, Didit tinggal di komplek perumahan di desa tersebut. Selain itu, pihaknya memastikan jika kondisi di sekitar masih kondusif.

Editor : Titis Ayu Winarni

Dewan Pendidikan Pati Minta Guru Tak Gunakan Kekerasan dalam Mendidik

Keluarga salah satu murid SMPN 1 Tambakromo yang demo di Pengadilan Negeri Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga salah satu murid SMPN 1 Tambakromo yang demo di Pengadilan Negeri Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom,Pati – Sederet kasus yang mencatut profesi guru hingga ke meja hijau membuat sejumlah guru trauma dalam mendidik murid. Salah satunya, kasus penganiayaan murid di SMPN 1 Tambakromo yang mengakibatkan seorang guru divonis dua bulan.

Karena itu, Ketua Dewan Pendidikan Pati Sutaji mengimbau kepada guru untuk tidak menggunakan cara kekerasan dalam mendidik. Pasalnya, kekerasan dinilai tak lagi sesuai dengan konteks pendidikan saat ini.

”Tidak usah pakai cara kekerasan. Tidak usah takut mendidik, asal mengajar sesuai dengan standard operating procedure (SOP) mengajar dan manajemen pendidikan,” tuturnya saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Ia mengatakan, saat ini sudah ada standar mengajar sesuai dengan aturan. Ada nilai-nilai atau point yang bisa dijadikan standar sanksi tanpa harus menggunakan cara kekerasan.

”Kalau ada standar sanksi seperti nilai atau sanksi, ya itu saja dijalankan. Jangan sampai menggunakan kekerasan karena ini zamannya berbeda dengan dulu,” imbuhnya.

Kendati begitu, pihaknya meminta agar guru tidak takut berlebihan akibat banyaknya upaya kriminalisasi yang dilakukan orang tua kepada guru. ”Kalau kita mengajar dan mendidik dengan baik, saya kira tidak bisa dimejahijaukan,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Barang Bukti Dikirim ke Jakarta, TKP Penggerebekan Ratusan Kilogram Sabu di Jepara Masih Dipasang Garis Polisi

Gudang yang dijadikan tempat ratusan kilogram sabu sejak digerebek Rabu (27/1/2016) hingga hari ini Jumat (29/1/2016) masih dijaga polisi dan dipasang garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Gudang yang dijadikan tempat ratusan kilogram sabu sejak digerebek Rabu (27/1/2016) hingga hari ini Jumat (29/1/2016) masih dijaga polisi dan dipasang garis polisi. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menerangkan, pihaknya dalam kasus penggerebekan kasus narkoba jenis sabu dengan berat ratusan kilogram hanya sebagai pembantu petugas Badan Narkotika Nasional dan Bea Cukai. Menurut dia, tersangka bersama barang bukti diserahkan ke Jakarta.

”Semua barang bukti telah kami kirim tadi malam. Tidak hanya barang bukti sabu dan genset saja, tetapi juga semua hal yang ada kaitannya dengan tersangka,” kata Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Menurutnya, meski semua barang bukti yang berada di dalam gudang mebel di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit telah dikirim ke Jakarta. Pihaknya tidak begitu saja membiarkan gudang tersebut diakses oleh semua orang.

”Kami masih memasang police line sampai proses penyidikan yang dilakukan oleh BNN selesai. Selain itu, kami juga mengirimkan anggota untuk berjaga-jaga di sana,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, meski proses penggeledahan telah usai. Di area lokasi kejadian masih saja banyak warga yang ingin datang dan melihat gudang tersebut. Hal itu tidak lepas dari rasa penasaran warga, apalagi kabar penggerebekan ini menjadi berita nasional.

”Di televisi kan menayangkan semuanya bahkan ada yang siaran langsung. Warga tentu saja penasaran, jadi masih ramai,” terangnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Proses Hukum Tersangka Narkoba Jepara Dilakukan di Jakarta

Dua tersangka pemilik ratusan kilogram sabu berhasil di gerebek di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara Rabu (27/1/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Dua tersangka pemilik ratusan kilogram sabu berhasil di gerebek di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara Rabu (27/1/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dua tersangka narkoba hasil penggerebekan yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Bea Cukai di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara Rabu (27/1/2016), telah diamankan bersama sejumlah barang bukti ke Jakarta, pada Kamis (28/1/2016) malam. Hal itu dilakukan guna proses penyelidikan lebih lanjut oleh BNN.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin menjelaskan, pihaknya dalam hal ini hanya dalam batas membantu saja, bukan sebagai penyidik kasus tersebut. Termasuk dalam hal pengamanan barang bukti, pihaknya hanya memfasilitasi pengiriman dan pengamanan untuk sampai di Jakarta.

”Proses hukum nantinya sepertinya dilakukan oleh BNN di Jakarta. Termasuk proses persidangan dan yang lainnya,” ujar Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, proses hukum dilakukan di Jakarta karena kasus narkoba jenis sabu di Jepara hanya rentetan dari jaringan kasus Internasional. Sedangkan markas utama mereka adalah di Jakarta.

”Di Jepara ini hanya dijadikan tempat transit. Nantinya mereka berencana mengedarkan ke kota-kota lain terutama kota besar seperti Jakarta,” ungkap Samsu.

Seperti diberitakan, kedua tersangka yang tertangkap di gudang mebel di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit merupakan jaringan narkoba Pakistan. Mereka masuk dalam daftar tersangka lainnya yang ditangkap di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Begini Tanggapan Kepala DPPKD Kudus Terhadap Pemulangan Mantan Pegawainya yang Bergabung Gafatar

 

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemulangan sejumlah mantan eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ke daerah asal, mendapat tanggapan dari Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) Kudus. Hal ini, karena salah satu mantan pegawainya disinyalir ikut bergabung dalam organisasi Gafatar.

Kepala DPPKD Kudus Eko Djumartono menyatakan, adanya pemulangan eks Gafatar ke daerah asal disambut baik, khususnya bagi pegawainya yang juga sempat bergabung dalam organisasi tersebut. “Mantan pegawai di DPPKD ini memang diduga ada yang bergabung di Gafatar, yaitu NA. Dia ini terhitung pada 22 Januari sudah dicopot, karena memang dalam 46 hari berturut-turut tidak masuk kerja dan tidak ada izin,” katanya.

Menurutnya, jika memang nantinya mantan anak buahnya tersebut kembali ke kampung halaman, maka dirinya beserta pegawai lainnya juga akan memberikan support dan semangat untuk memulai kembali kehidupan yang normal.

Katanya, sewaktu masih bekerja di DPPKD, NA dikenal sebagai pribadi yang baik, dan tidak memiliki masalah dengan teman-teman di kantor. “Kita akan support dia, jika memang kembali ke kampung halaman,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Akhirnya, Warga Grobogan Eks Gafatar Kembali ke Kampung Halaman

 

Warga Grobogan eks Gafatar tiba di halaman Pemkab Grobogan setelah dijemput dari Asrama Haji Donohudan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga Grobogan eks Gafatar tiba di halaman Pemkab Grobogan setelah dijemput dari Asrama Haji Donohudan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Kalimatan, delapan warga Grobogan yang pulang dengan rombongan eks Gafatar lainnya, akhirnya tiba di kampung halaman.

Sekitar pukul 13.10 WIB, delapan orang yang pulang dari Asrama Haji Donohudan Solo bersama tim penjemput tiba di Kantor Pemkab Grobogan.

Delapan orang itu dibawa dari Donohudan menggunakan bus warna biru Nopol K 9512 AF milik Pemkab Grobogan. Selama perjalanan dari Donohudan, kendaraan penjemput eks Gafatar dikawal satu mobil foreder dari Polres Grobogan. Selain itu, di dalam bus ada juga petugas yang melakukan pengamanan.

Sebelum pulang ke kampung asal, delapan eks Gafatar sempat transit di Ruang Riptaloka, Setda Grobogan. Selain istirahat, selama transit, mereka mendapat pengarahan dari Kepala Kemenag Grobogan Moh Arifin, Kasat Binmas Polres Grobogan AKP Sudarwati dan Sekretaris Dinsosnakertrans Grobogan Sartono.

“Peristiwa yang terjadi ini harus kita ambil hikmahnya. Kami harapkan hal ini bisa jadi pengalaman berharga buat kita semua,” kata Moh Arifin saat menyampaikan pegarahan.

Delapan orang eks Gafatar itu terdiri dari dua keluarga, namun alamatnya berbeda. Pertama adalah Sujono, 36, dan istrinya Karini, 33, serta empat anaknya yang pulang menuju Desa Banjarsari, Kecamatan Kradenan. Sujono dan keluarga dijemput Camat Kradenan Karjanto dan Kades Banjarsari Surasdi dan selanjutnya akan diantar hingga kampung halaman.

Dua orang eks Gafatar lagi adalah Feri Mustriyanto, 34, dan istrinya Tori Dian, 23. Keduanya dijemput langsung oleh bapak dan ibunya serta saudaranya. Feri dan istrinya selanjutnya dibawa pulang ke rumah orang tuanya di Desa Belor, Kecamatan Ngaringan.

Kembalinya delapan eks Gafatar dari halaman Pemkab Grobogan hingga tempat tujuan tetap mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan.

Editor : Kholistiono

Jika Bandara Ngloram Blora Dikomersilkan, Ini Target Penumpangnya

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Pengaktifan Bandara Ngloram yang berada di Cepu, Blorauntuk menjadi bandara komersil, akan dipegang sepenuhnya oleh pemkab. Hal tersebut diungkapkan oleh Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat.

Dirinya mengatakan, pemkab akan memegang kendali dalam proses penyiapan pengoperasian Bandara Ngloram itu. “ Rapat mengenai persiapan pengoperasian Bandara Ngloram untuk dikomersilkan, akan digelar di Blora,” kata Ihwan.

Bila Bandara Ngloram beroperasi, lanjut Ihwan, diprediksi akan menyedot konsumen dari luar Blora. Bandara Ngloram yang sedianya hanya sebagai bandara perintis milik Kementerian ESDM akan menjadi rujukan bagi warga sekitar Blora. “Seperti Rembang, Tuban, Bojonegoro dan Ngawi,” kata Ihwan.

Dia mengatakan, alasan warga sekitar daerah Blora akan ikut menikmati Bandara Ngloram, karena dibandingkan jarak menuju ke Bandara Ahmad Yani Semarang maupun Bandara Juanda, lebih dekat ke Blora.

Ihwan menuturkan, saat ini masyarakat membutuhkan alat transportasi yang cepat sampai di tempat yang dituju. “Nah, pesawat merupakan alat transportasi yang tepat agar bisa cepat sampai lokasi tujuan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, adanya industri migas di Cepu akan cukup membantu para pekarja Migas yang akan berdatangan ke Blora dan sekitarnya. Selain itu, banyaknya hotel besar di Cepu menjadi penunjang berkembangnya Bandara Ngloram. “Saya yakin perkembangan Bandara Ngloram akan baik,” katanya.

Editor : Kholistiono

Ini Pendapat BKD Kudus Terkait PNS yang Ikut Gafatar

Djoko Triyono, Kepala BKD Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Djoko Triyono, Kepala BKD Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terungkapnya NA sebagai pegawai negeri sipil di kalangan Pemkab Kudus
yang ikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kudus menyerahkan sepenuhnya kepada Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus.

Kepala BKD Kabupaten Kudus Djoko Triyono mengatakan, pihaknya juga mendapat laporan dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) terkait ada salah satu pegawainya yang terdeteksi ikut serta dalam Gafatar.

”Kalau masalah Gafatar, kita serahkan ke Kesbangpol. Tetapi kami sebagai BKD juga mempunyai aturan. NA selama 46 hari penuh sudah tidak masuk kantor atau kerja tanpa izin. Otomatis kita berikan sanksi. Namun untuk keanggotaan Gafatar kita sudah berkoordinasi dengan Kesbangpol,” paparnya.

Di ketahui, NA yang menjadi PNS di Pemda Kudus ini nantinya juga akan ikut pulang beserta rombongan eks Gafatar dari Donohudan, Solo, yang dijemput oleh Kesebangpol Kudus, Jumat (29/1/2016). ”Kita dapat kabar itu. NA akan pulang ke Kudus bersama eks Gafatar lainnya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Djoko, untuk sanksi NA lantaran tidak masuk kerja selama 46 hari itu sudah disidangkan oleh tim pembina PNS pada Selasa, 26 Januari 2016. Sidang yang digelar oleh tim pembina PNS itu diketuai oleh Sekretaris Daerah Noor Yasin, Inspektorat sebagai wakil, dan BKD sebagai sekretarisnya. Selain itu, juga ada aggota lainnya di antaranya asisten 1 dan asisten 3, Kabag Hukum Pemda Kudus, Kesbangpol, Kabag Orpeg, Kepala Satpol PP, dan SKPD yang bersangkutan.

”Dalam sidang tim pembina PNS itu, ada rumusan tentang sanksi tersebut. Yakni NA melanggar PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil Pasal 3 Angka 11. Yakni mengatur tentang masuk kerja dan menaati jam kerja. Dan NA sudah tidak masuk kerja selama 46 hari secara berturut-turut,” ungkapnya.

Dia menilai, jika PP No 53 tahun 2010 pasal 3 Angka 11 itu sudah dilanggar tentunya ada sanksi tersendiri. Disitu tertulis dipasal 10 tentang hukuman disiplin berat, angka (9) tentang masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja, huruf (d) yakni pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS, bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 hari kerja atau lebih.

Hanya saja, untuk jumlah rombongan eks Gafatar yang dijemput oleh Kesbangpol ke Asrama Haji Donohudan, Solo sampai saat ini datanya masih dapat berubah. Sehingga pihak Kesbangpol masih mendata secara intensif.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pendekar NU Pati Nyatakan Siap Kawal Eksekusi Karaoke

Jajaran GP Ansor bersama dengan Banser, Pagar Nusa dan anggota TNI sedang berfoto bersama. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jajaran GP Ansor bersama dengan Banser, Pagar Nusa dan anggota TNI sedang berfoto bersama. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pendekar Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Pencak Silat Pagar Nusa NU Kabupaten Pati menyatakan siap mengawal eksekusi karaoke yang dideadline Pemkab hingga akhir Januari 2016.

Ketua Pagar Nusa Pati Edi Suyono yang akrab disapa “Ki Joko Buono” menyatakan prihatin atas lambatnya upaya penegakan Perda Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

”Kami mewakili pendekar Pagar Nusa NU Pati mendesak agar Pemkab untuk benar-benar serius melakukan penegakan Perda karaoke yang sudah disepakati hingga akhir Januari 2016. Kalau tidak sanggup, Pemkab bisa meminta tolong kepada kami untuk ikut mengawal penegakan Perda,” kata Ki Joko Buono kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Ia menilai Perda yang mengatur karaoke menjadi bagian dari langkah terbaik untuk menata peta wisata di Pati. ”Ormas Islam NU dan Muhammadiyah ikut berperan dalam penyusunan Perda itu. Kalau Perda sudah disahkan menjadi produk hukum warga Pati, itu artinya harus dipatuhi,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Soal Wacana Bandara Ngloram Bakal Dikomersilkan, Ini Saran dari DPRD Blora

Ilustrasi bandara

Ilustrasi bandara

 

MuriaNewsCom, Blora – Wacana pengaktifan kembali Bandara Ngloram, Blora untuk menjadi bandara komersil, mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Di antaranya DPRD Blora.

Terkait hal ini, Siswanto, Ketua Badan Legeslasi (Banleg) DPRD Blora meminta pemkab harus menginisiasi pertemuan dengan Pusdiklat Kementerian ESDM, pemprov, Kementerian Perhubungan, calon maskapai, dan DPRD Blora. “Pengaktifan Bandara Ngloram menjadi bandara komersil, sepenuhnya tergantung langkah pemkab,” ungkapnya.

Menurut Siswanto, pertemuan itu harus digerakkan melalui pemkab. Sebab, bila kementerian atau pemprov tidak mungkin fokus untuk mengurusi Bandara Ngloram. Sebab, pekerjaan kementerian dan pemprov cukup banyak. Kemudian, lanjut Siswanto, jika memang harus ada BUMD yang mengurusi Bandara Ngloram, menurutnya juga harus ada Perda.

Siswanto menjelaskan, Perda atau revisi Perda bisa dilakukan bila pemkab butuh perusahaan daerah yang akan menangani bandara. “Itu adalah jalan terakhir,” katanya.

Siswanto menambahkan, bila akan dikembangkan menjadi bandara komersil pihaknya akan menanyakan tentang kajian bisnisnya.”Kalau mau dikembangkan menjadi bandara komersil kan kita tanya dulu kajian bisnis dari calon maskapai sejauh mana,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ternyata Tersangka Didit Penyewa Gudang yang Digerebek BNN di Jepara Adalah Ketua RT Desa Setempat

AKBP Samsu Arifin, Kapolres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

AKBP Samsu Arifin, Kapolres Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin mengemukakan perihal warga Jepara yang terlibat kasus narkoba jenis sabu yang ditemukan di gudang mebel di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara pada Rabu 27 Januari 2016 kemarin. Berdasarkan informasi yang dia terima, tersangka bernama Didit (40) merupakan ketua RT 07 RW 02 Desa Pekalongan, tepatnya di wilayah perumahan Regency yang berada di desa setempat.

”Informasinya dia adalah ketua RT di perumahan itu,” ucap AKBP Samsu Arifin kepada MuriaNewsCom di ruang kerjanya, Jumat (29/1/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, berdasarkan dari data yang ada di Polres Jepara. Selama ini nama Didit yang memiliki nama lengkap Didit Riyono tersebut tidak dikenal dalam setiap pengungkapan kasus narkoba yang ada di Jepara sebelum terbongkarnya kasus narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai.

”Selama ini kami belum mengenalnya. Kemarin, dia diketahui merupakan jaringan internasional. Sejauh ini pengungkapan kasus narkoba di tahun 2015 masih skala kecil, dan tidak ada nama Didit dalam jaringan kecil itu,” kata Samsu.

Dia menambahkan, untuk kasus narkoba selama tahun 2015 sendiri, pihaknya telah mengamankan 20 tersangka, terdiri dari 18 tersangka laki-laki dan dua perempuan. Barang bukti yang ditemukan juga sangat kecil, berkisar 0,5 gram saja. Dibanding kasus penggerebekan kemarin jelas sangat jauh berbeda.

”Yang perlu menjadi perhatian adalah kedepan ini pengawasan harus lebih diperketat. Masyarakat juga diharapkan proaktif mengawasi lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya. Dalam penggerebekan gudang mebel di Jepara, dua tersangka ditangkap yakni Didit, dan satu warga negara Pakistan Muhammad Riaz.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bocah Tuna Netra Asal Blora Ini Miliki Suara Semerdu Penyanyi Agnes Monica

Veronica Intan Pramesti, tuna netra dengan suara merdu sedang bermain di halaman sekolah ketika jam istirahat pelajaran. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Veronica Intan Pramesti, tuna netra dengan suara merdu sedang bermain di halaman sekolah ketika jam istirahat pelajaran. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Veronica Intan Pramesti (10) merupakan penyandang tuna netra sejak lahir. Kini ia bersekolah di SLBN Jepon yang duduk di kelas 5 jenjang SDLB. Gadis kecil bersuara merdu ini rupanya memendam keinginan untuk bertemu sang idola, Agnes Monica.

Kemerduan suaranya merupakan hasil latihan otodidak yang ia lakukan sendiri dengan mendengarkan lagu-lagu Agnes Monica. ”Cita-cita saya ingin jadi penyanyi. Sejak usia 3 tahun saya sudah bisa menyanyi. Karena terbiasa mendengarkan radio dan kaset CD,” kata Verinoca.

Pada momen hari ibu 2014, dirinya mendapatkan satu buah alat musik keyboard yang membuatnya semakin rajin mengasah diri menyanyi dan bermain musik. Saat ini dirinya sudah bisa memainkan keybord sendiri meski menderita tuna netra. Beberapa lagu sudah lihai ia nyanyikan dengan diiringi keyboard yang ia mainkan sendiri. ”Lagunya Agnes karena aku sanggup dan D’masiv, sudah bisa saya nyanyikan dan saya iringi dengan keyboard,” kata Veronica.

Lewat kemerduan suaranya yang tak diragukan lagi. Tak jarang dirinya diundang pada setiap even penting di Blora. ”Saya pernah diundang saat hari ibu, hari anak, expo perguruan tinggi, dan beberapa acara lainnya,” ujar Veronica.

Suara merdu yang ia miliki membuatnya mampu menyabet juara pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2014. Ia mengantongi juara favorit ke dua kategori lomba menyanyi tunggal. Lalu, pada 2015 dirinya menyabet juara satu membaca puisi tingkat Jawa Tengah.

Editor : Titis Ayu Winarni

Guru di Pati Banyak yang Trauma Akibat “Kriminalisasi” dari Orang Tua

Dua orang murid tengah melukis. Saat ini guru banyak yang trauma dengan kriminalisasi terhadap guru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dua orang murid tengah melukis. Saat ini guru banyak yang trauma dengan kriminalisasi terhadap guru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom,Pati – Banyaknya kasus yang menjerat guru di Pati akibat melakukan penganiayaan terhadap murid, sempat membuat sejumlah guru trauma. Mereka menilai, orangtua saat ini banyak yang berlebihan dengan melakukan “kriminalisasi” meski terkadang fakta di lapangan tidak sesuai dengan yang dilaporkan.

Fakta itu dibenarkan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pati Sutaji. Ia mengatakan, orangtua murid saat ini memang terkadang berlebihan hingga sedikit-sedikit membawanya ke ranah hukum.

“Mestinya orangtua murid harus aktif dengan melakukan komunikasi, konfirmasi dan klarifikasi. Semua bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Jangan sedikit-sedikit melaporkan ke polisi. Tidak ada satupun guru yang berniat melukai muridnya. Yang ada, mereka ingin mendidik agar lebih baik,” ujar Sutaji kepada MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Karena itu, ia mengimbau kepada orangtua murid untuk tidak berlebihan dalam menghadapi kasus di lingkungan sekolah. Kekeluargaan dinilai sebagai cara paling tepat untuk menyelesaikan persoalan.

“Guru itu tugasnya mulia. Tidak mungkin guru kok sampai melakukan kekerasan jika anak tidak kebangetan. Namun begitu, guru juga harus mengajar sesuai dengan prosedur dan aturan agar tidak tersandung kasus. Saat ini zamannya beda dengan dulu, sehingga harus lebih berhati-hati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

37 Ribu Bibit Pohon Ditanam di 9 Kecamatan di Kudus

 

Penanaman bibit pohon yang berada di Kecamatan Jekulo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penanaman bibit pohon yang berada di Kecamatan Jekulo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 37.818 bibit pohon  ditanam di sejumlah kawasan di sembilan kecamatan yang ada di Kudus. Penanaman bibit pohon pohon tersebut, sebagai salah satu upaya untuk melakukan penghijauan.

Komandan Kodim 0722/Kudus Letkol Arh M Ibnu Sukelan mengungkapkan,jumlah bibit tersebut berasal  dari beberapa perusahan di Kudus. Sedangkan untuk tenaganya, selain anggota kodim, kepolisian, masyarakat sekitar juga ikut membantu untuk menanam.

“Kami juga ada relawan untuk penghijauan ini. Totalnya sampai ada 100 relawan yang tersebar di sembilan kecamatan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Jumlah bibit tersebut terdiri dari berbagai jenis, di antaranya sengon laut, mahoni, trembesi dan berbagai jenis tanaman lainnya dengan berbagai ukuran.

Menurutnya, untuk menanam jumlah bibit yang banyak itu, pihaknya hanya membutuhkan waktu tiga hari hari, yang dimulai pada hari ini , Jumat (29/1/2015).

Untuk hari ini, penanaman di lakukan di Kecamatan Jekulo dengan dimulai dari Desa Terban, yakni di kawasan Patiayam. Sedangkan untuk hari kedua ada di tujuh kecamatan dan pada hari Minggu diakhiri di Kecamatan Gebog.

Lokasi penanaman berada di sepanjang jalan, baik jalan desa, maupun jalan kabupaten. Seperti halnya di Jekulo.Tanah yang ditanami juga bukan hanya milik pemerintah kabupaten saja, melainkan pula tanah desa juga ditanami bibit pohon. “Yang penting itu daerah yang kurang ditanami atau tandus. Soalnya, daerah itu menjadi prioritas,” ungkapnya.

Mengenai perawatan, pihaknya bakal menugaskan koramil setempat untuk merawatnya. Sehingga, tidak ada lagi dari masyarakat yang mungkin merusaknya. Selain itu, masyarakat juga ikut membantu merawatnya.”Nantinya juga saya bisa terjun langsung. Dan diperkirakan dalam waktu empat hingga lima tahun bisa mengayomi,” jelasnya.

 

Editor : Kholistiono

Wah! Eks Anggota Gafatar dari Grobogan yang Dipulangkan Jumlahnya Bertambah

Gafatar

Gafatar

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah eks Gafatar asal Grobogan yang yang dipulangkan dari Kalimantan dan ditampung di Asrama Haji Donohudan ternyata tidak hanya enam orang seperti yang diberitakan sebelumnya. Tetapi jumlahnya ada delapan orang atau bertambah dua orang lagi.

Tambahan baru itu didapat ketika tim penjemput eks Gafatar tiba di Donohudan pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB. Dimana, dalam rombongan eks Gafatar itu ada sepasang suami istri yang ikut diserahkan pada tim penjemput.

Informasi yang didapat menyatakan, suami-istri tersebut asalnya dari Kecamatan Ngaringan. Hanya saja, alamat desanya belum diketahui.

Kabar sebelumnya, dari rombongan eks Gafatar yang sudah dipulangkan itu, ada enam warga Grobogan didalamnya. Yakni, Sujono dan istrinya Karini beserta empat anaknya. Mereka berasal dari Desa Banjarsari, Kecamatan Kradenan.

Sementara itu, Sekretaris Dinsosnakertrans Grobogan Sartono ketika dikonfirmasi menyatakan, eks Gafatar dari Grobogan sudah diserahkan pada tim penjemput sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah diserahkan mereka langsung dibawa pulang.

“Posisi warga kita yang eks Gafatar sudah kita terima. Jumlahnya jadi delapan orang, karena ada tambahan dua orang. Habis Jumatan kita perkirakan sampai di Purwodadi,” katanya.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Salah Alamat, Ribuan Rumah di Mlati Lor Kudus Bakal Ditempeli Stiker

 

Aktivitas di kantor Desa Mlati Lor (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aktivitas di kantor Desa Mlati Lor (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Peristiwa adanya kiriman paket mencurigakan dan dikira bom, yang nyasar ke salah satu rumah kontrakan di Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota Kudus, pada Kamis (28/1/2016) kemarin, membuat pemerintah desa mengambil langkah.

Ke depan, pihak pemerintah desa bakal menempel stiker di setiap rumah warga, yang tertera alamat sesuai tempat tinggal. Hal ini, untuk mengantisipasi adanya salah alamat dan memudahkan orang luar desa untuk mencari alamat yang dituju.

Kasi Pemerintahan Desa Mlati Lor Yunani mengatakan, adanya kiriman paket yang sempat membuat heboh warga kemarin, dimungkinkan pengirim tidak mengetahui alamat yang dituju. Karena, tidak ada stiker atau petunjuk alamat di rumah tersebut.

“Memang untuk untuk stiker alamat di masing-masing rumah warga, itu sudah lama dan banyak yang usang, itupun pemberian dari pemerintah ketika ada sensus penduduk. Di situ hanya tertera RT dan RW saja, tidak ada nama wilayah atau desa. Makanya, kita merencanakan pembuatan papan alamat yang baru. Apakah nanti terbuat dari seng, kayu atau lainnya,” katanya.

Dia menambahkan, untuk rencanatersebut, akan diusulkan di RAPBDes tahun ini. Bila usulan itu bisa dijalankan, makapembuatan papan alamat itu bisa ditempel di rumah wargayang jumlahnya lebih kurang 1.500 rumah.

Editor : Kholistiono

8 Tersangka Narkoba Jaringan Pakistan Terancam Hukuman Mati

Dua tersangka narkoba jaringan internasional yang berhasil diamankan di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Dua tersangka narkoba jaringan internasional yang berhasil diamankan di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus narkoba jenis sabu jaringan internasional yang dikendalikan dari Pakistan dan barang bersumber dari Cina, terbongkar di gudang mebel di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit, Jepara, Rabu (27/1/2016).

Dari kasus tersebut, dua orang yang berada di Jepara ditetapkan sebagai tersangka yang sekaligus menggenapi enam tersangka lain hasil operasi di Jakarta, Semarang dan Surabaya.

Total tersangka secara keseluruhan dalam satu jaringan ini ada delapan. Terdiri dari empat warga Negara Pakistan yakni Faiq, Amran Malik, Toriq, dan Raiz. Sedangkan empat lainnya merupakan Warga Negara Indonesia yakni Yulian, Tommy, Kristiadi dan Didit. Untuk tersangka yang ditangkap di Jepara adalah Raiz dan Didit.

Semuanya dikenakan pasal 112, 114, dan 122 Undang-undang Narkotika Nomor 35 tahun 2009 serta Undang-undang TPPU dengan ancaman hukuman paling rendah empat tahun dan maksimal hukuman mati.

“Kalau tersangka jelas, ancaman hukuman terberat adalah hukuman mati,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia Komjen Pol Budi Waseso saat konferensi pers di gudang penyimpanan sabu di Jepara, Kamis (28/1/2016).

Menurutnya, pengungkapan jaringan internasional ini berawal dari penyelidikan selama enam bulan terhadap informasi adanya upaya penyelundupan narkoba dari Guangzho, China ke Indonesia oleh sindikat Pakistan.

Khusus di Jepara, aksi tersebut dikoordinir oleh tersangka Riaz asal Pakistan yang sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia, dan juga memiliki istri berkewarganegaraan indonesia.

“Sindikat ini diduga dibiayai oleh seorang berinisial KM warga Negara Pakistan yang terlibat dalam kasus TPPU kejahatan narkoba dengan tersangka BOB (warga Negara Nigeria) yang tertangkap di Jakarta. Sedangkan pengendali adalah NSZ yang berasal dari Karachi, Pakistan.

Editor : Kholistiono

Ini 4 Merek Smartphone yang Paling Diburu Selama Januari 2016

Salah satu karyawan Ekstrim Cell Kudus menunjukkan salah satu merek handphone (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu karyawan Ekstrim Cell Kudus menunjukkan salah satu merek handphone (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perkembangan teknologi di dunia ponsel memang secepat kilat dan semakin menegangkan khususnya bagi para pencinta gadget.

Perkembangan gadget  sat ini masih bisa dipastikan masih era-nya smartphone. Beberapa produsen ponsel ternama mengeluarkan edisi terbaru dengan kualitas yang jauh lebih mencengangkan dibandingkan  tahun lalu.

Nah, untuk di Kudus sendiri, setidaknya ada 4 merek smartphone yang paling diburu. Berikut empat merek smartphone yang banyak diburu selama Januari 2016.

Khayati, karyawan di Ekstrim Cell membeberkan, dari sekian banyak merek yang ditawarkan ditempatnya, Xiaomi menduduki peringkat tertinggi. Dikatakan, meski merek tersebut tergolong masih baru, namun kehadirannya langsung merebut hati masyarakat.

“Sebenarnya relatif, namun Xiaomi juga mulai meluncurkan berbagai jenis dengan harga yang relatif terjangkau. Makanya banyak yang mencarinya,” katanya kepada MuriaNewsCom

Merek lain yang tidak kalah menjadi buruan adalah Samsung. Tidak diragukan lagi, merek tersebut merupakan merek lawas dengan kualitas yang tidak diragukan lagi. Terbukti, berbagai tipe dari Samsung selalu laris dipasaran, lantaran lebih banyak yang memilih.

“Kalau Samsung sudah tidak dapat diragukan lagi. Merek itu banyak jenisnya. Yang paling anyar adalah Tipe J series. Semuanya mengusung jaringan 4G,” ujarnya.

Selanjutnya adalah Sony. Merek yang unggul dalam kamera, gambar dan suara itu juga banyak yang mencari. Meski harga smartphone Sony cenderung masih tinggi, namun bandelnya barang dan kualitas yang tinggi, mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Apalagi Sony juga merek lama, sehingga masyarakat ada yang fanatik menggunakan merek Sony.

Berikutnya adalah Lenovo. Meski tergolong baru dalam dunia smartphone, ternyata Lenovo juga mampu bersaing dengan merek terkemuka lainnya. Kelebihan merek itu adalah harga yang terjangkau. Selain itu Lenovo juga banyak megeluarkan tipe, sehingga masyarakat lebih banyak pilihan.

“Sebenarnya merek lainnya seperti Vivo, Oppo, Asus, Advan dan lainnya juga ada yang cari. Namun di sini masih cukup kurang peminatnya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Tim Penjemput Eks Gafatar dari Grobogan Meluncur ke Asrama Haji Donohudan

Logo gafatar

Logo gafatar

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sesuai jadwal sebelumnya, Jumat (29/1/2016) hari ini para eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang sudah ditampung di Asrama Haji Donohudan Solo akan dipulangkan ke kampung halaman asal. Termasuk pula enam warga dari Grobogan yang ditengarai juga ikut jadi anggota Gafatar.

“Penjemputan eks Gafatar tetap dilakukan hari ini, atau tidak ada perubahan. Tadi sekitar jam 06.00 WIB, tim penjemputan sudah berangkat ke Donohudan,” kata Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan.

Dikatakan, tim penjemputan terdiri dari beberapa instansi. Selain dari Dinsosnakertrans, personel dari kejaksaan, polres, kodim, kesbanglinmas dan Satpol PP juga ikut dalam tim penjemputan eks Gafatar itu.”Sesuai jadwal, serah terima eks Gafatar itu akan dilakukan jam 09.00 WIB,” imbuhnya.

Seperti diketahui, dalam rombongan eks Gafatar yang sudah dipulangkan itu, ada enam warga Grobogan didalamnya. Yakni, Sujono dan istrinya Karini beserta empat anaknya.

Satu keluarga ini asalnya dari Desa Banjarsari, Kecamatan Kradenan. Setelah dijemput, mereka nanti akan dipulangkan ke kampung halamannya. Di desa asalnya, Sujono dan keluarga akan ditampung adik kandungnya yang masih tinggal disitu.

Editor : Kholistiono

Pelaku Usaha Kudus Belum Kena Dampak MEA

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaku usaha di Kabupaten Kudus masih belum terkena dampak pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Hal ini disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian pada Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus Koesnaini. Dia mengatakan dampak dari diberlakukannya MEA belum terlihat.

”Kudus kita nilai masih aman dan kondusif. Roda usaha juga masih terus berjalan sampai sekarang,” katanya.

Setiap sebulan sekali selalu ada pertemuan paguyuban industri kecil menengah (IKM) di Kudus. Dan sampai pada pertemuan terakhir, keluhan dari para pedagang serta kekhawatiran soal MEA masih belum nampak.

Meski demikian, pihaknya mengaku sudah melakukan beberapa hal guna memberikan kualitas produk yang dihasilkan pelaku usaha. Hal itu dilakukan guna memberikan daya saing dengan produk luar, dengan kualitas yang lebih bagus.

”Kami memfasilitasi para pelaku IKM untuk itu. Bahkan sampai proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) juga kami berikan fasilitas,” ujarnya.

Saat ini pelaku IKM di Kudus berjumlah delapan ribuan. Namun jika digabung dengan UMKM, jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat atau sekitar 16 ribuan.

Mengenai kebijakan perlindungan dari pemkab, kata Kosenaeni, memang belum ada. Sebab MEA tidak dapat dibendung dan tetap dilaksanakan. Termasuk juga di Kudus.

Namun dijelaskannya, jika ada usaha atau produk yang masuk ke Kudus, segalanya harus sudah siap. ”Mulai dari izinnya, sertifikat halal, sampai dengan merek dagangan yang juga sudah terdaftar,” katanya.

Di sisi lain, dalam menghadapi MEA ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus mempersiapkan aturan khusus untuk para pekerja asing.
Rencananya, dalam waktu dekat ini akan diusulkan peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang tenaga kerja asing (TKA).

Kepala Dinsosnakertrans Kudus Ludhful Hakim mengatakan, pihaknya memang sedang merancang perda itu. Hal tersebut akan menjadi acuan jika nantinya banyak pekerja asing yang datang ke Kudus.

”Selama ini kan, belum ada perda itu. Jadi kita akan buat aturannya. Sebab kemungkinan nanti akan terdapat pekerja asing yang berdatangan di Kudus,” katanya.

Bagi dia, pekerja asing di Kudus juga harus dikenakan pajak dan surat-surat yang lengkap tentang pekerja asing. Hal itu juga yang belum dideteksi, sehinggga pihaknya juga mengagendakan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke perusahaan.

Hingga kini data yang ada, jumlah tenaga kerja asing ada empat orang. Keempat orang itu berada di perusahaan besar di Kudus.

Editor : Akrom Hazami