Romantisme Barabah Bakal Hadir Kembali di Panggung Teater yang Digelar FASBuK

fasbuk

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski kerap dipentaskan, naskah Barabah karya Motinggo Busye tetap menarik untuk ditampilkan kembali. Naskah yang menyorot kehidupan keluarga kecil ini bakal dipentaskan di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), yang dimainkan oleh Teater Gong, pada Jumat (29/1/2016) pukul 19.30 WIB.

Pementasan teater yang digelar Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) ini, dipastikan akan sangat menarik. Karena, persoalan utama dalam naskah Barabah ini adalah persoalan poligami. Tentunya, persoalan ini bukan lagi menjadi barang mewah bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.

“Seperti tokoh Banio dalam naskah Barabah, adalah seorang lelaki tua yang punya istri banyak. Sementara tokoh Barabah adalah seorang istri yang sangat setia meski bersuamikan lelaki yang umurnya hampir tiga kali lipat dari umurnya. Pada masa sekarang, fenomena ini sudah sangat lazim terjadi disekitar kita. Pejabat, pemuka agama, pengusaha, seniman, pedagang, petani, atau profesi lain bukan menjadi barometer utama untuk menjadi ukuran pantas atau tidak pantas, mampu atau tidak mampu untuk berpoligami,” ujar Arifin AM, Ketua Badan Pekerja FASBuK.

Lebih lanjut ia katakan, poligami adalah persoalan pilihan. Dengan berbagai latar belakang alasan dan tujuan, poligami menjadi pilihan utama, bukan pilihan terakhir.

“Nah, persoalan inilah yang menjadikan Barabah tetap mutakhir untuk dipentaskan pada masa sekarang. Meski penonton yang mungkin hadir belum dilahirkan pada saat naskah ini ditulis, tapi substansi pesan moral dalam naskah ini tetap update. Tetap menggelitik,” imbuhnya.

Dalam rancangan penyajian nanti, pihaknya sengaja tetap menghadirkan suasana masa lampau. Setting panggung, kostum dan musik dikemas sedekat mungkin dengan waktu kejadian dalam naskah. Hanya saja dalam melakukan pendekatan yang agak berbeda tentang dialek.

Dalam naskah Barabah, dialek khas Lampung sangat kental sekali, untuk lebih menghidupkan suasana, dialek khas pesisir Jawa Tengah yang lugas dan cenderung kasar sengaja dihadirkan. Dengan harapan, prototipe suasana pesisir pesisir Jawa Tengah dapat terwakili.

Dengan begitu, katanya, penonton yang hadir bisa menjadi akrab dan tidak gagap dalam menyerap pesan dalam dialog. Sekali lagi, menurutnya, subtansi dari persoalan dalam naskahlah yang menjadi fokus utama pementasan Barabah ini. Pemberian porsi lebih pada penggarapan olah akting aktor dan aktris. “Setelah pementasan selesai akan dilanjutkan dengan sarasehan budaya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono