PLN Pati Diminta Tegas Melarang Penggunaan Setrum yang Membahayakan Predator Alami Tikus

Burung hantu jenis Tyto Alba yang masih berada di dalam penangkaran di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

Burung hantu jenis Tyto Alba yang masih berada di dalam penangkaran di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Effendi mendesak agar PLN Pati memberikan aturan dan sanksi yang tegas terkait dengan penggunaan setrum listrik untuk membasmi hama tikus.

Pasalnya, penggunaan setrum dinilai bukan hanya membahayakan petani dan masyarakat sekitar, tetapi juga predator alami tikus seperti burung hantu jenis Tyto Alba, ular, dan musang. Di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati, misalnya.

Sedikitnya 200 Tyto Alba mati, karena terkena setrum listrik di areal persawahan di luar Desa Babalan. Padahal, rumah penangkaran Tyto Alba di Gabus sudah sering dikunjungi dari luar Pati dan luar provinsi.

”Artinya, keberhasilan budi daya Tyto Alba untuk memberantas hama tikus jangan sampai gagal hanya karena petani lainnya masih menggunakan setrum,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Karena itu, regulasi larangan penggunaan setrum harus dilakukan secara masif. Dengan begitu, Tyto Alba bukan hanya berkembang di daerah penangkaran saja, tetapi juga tumbuh subur di semua daerah di Pati untuk memberantas tikus.

”Kalau satu desa sepakat untuk menggunakan predator alami dalam memberantas tikus, tetapi luar desa masih menggunakan setrum, itu sama saja tidak efektif,” tukasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni