Jadi Korban dan Pelaku Penganiayaan, Pria Asal Gembong Ini Dibekuk Polisi

Kapolsek Gembong AKP Sugino tengah mengintrogasi para pelaku pengeroyokan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Gembong AKP Sugino tengah mengintrogasi para pelaku pengeroyokan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Seorang pria berinisial AS berusia 24 tahun terpaksa dibekuk petugas Polsek Gembong, meski ia menjadi korban penganiayaan. Pasalnya, setelah dianiaya, ia ganti menganiaya orang.

Akibatnya, ia harus mendekam di tahanan Polsek Gembong meski dalam keadaan luka sayatan benda tajam pada bagian tangan kiri. Hal ini diungkap Kapolsek Gembong AKP Sugino.

Ia mengatakan, AS sempat dianiaya dalam sebuah acara konser dangdut di Desa Bermi pada Sabtu (16/1/2016) malam. Namun, AS bersama dengan rekan-rekannya kemudian mencegat pelaku di lokasi yang tidak jauh dari acara dangdut.

“AS dan rekan-rekannya mencegat pria berinisial SS (22) yang merupakan warga Desa Bermi. Namun, seorang guru honorer tak bersalah yang lewat justru jadi sasaran bagi AS dan kawan-kawan. Mereka menghajar guru honorer dengan membabi buta menggunakan kayu dan batu. Padahal, AS mestinya jadi korban. Tapi, dia juga pelaku pengeroyokan guru honorer hingga menyebabkan kaki kanan korban patah tulang,” ujar Sugino kepada MuriaNewsCom, Senin (18/1/2016).

Atas perbuatannya itu, AS bersama tiga rekannya digelandang di Mapolsek Gembong. AS sendiri mengalami luka sayat pada tangan bagian kiri hingga sobek.

“AS diduga terkena sabetan benda tajam. Namun, SS mengaku tidak menggunakan senjata tajam. Padahal, tangan AS mengalami luka seperti terkena sabetan benda tajam. Kasus ini tengah kami dalami lebih lanjut. Motif pengeroyokan itu kami duga karena balas dendam,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)