Meski Telah Diresmikan, Pedagang Pasar Jepon Belum Bisa Menempati Kios

Sejumlah pedagang tidak bisa menerima kunci kios di Pasar Jepon dikarenakan belum menyepakati tarikan retribusi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sejumlah pedagang tidak bisa menerima kunci kios di Pasar Jepon dikarenakan belum menyepakati tarikan retribusi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Pedagang Pasar Jepon belum bisa menempati sejumlah kios semenjak Kamis 07 Januari kemarin diresmikan. Ini dikarenakan pedagang masih belum diberi kunci kios dengan alasan pedagang masih belum sepakat dengan retribusi yang dikenakan sesuai dengan perda.

Yakni Perda Nomor 7 Tahun 2010 tentang retribusi pelayanan pasar, Perda Nomor 8 Tahun 2010 tentang retribusi pasar grosir/pertokoan dan Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang retribusi pemakaian kekayaan daerah.

Diketahui, Pasar Jepon yang di revitalisasi tahap dua ini terdapat 127 kios dan 3 berbentuk los. Untuk dua los bisa menampung pedagang sejumlah 88 orang, sedangkan yang satu losnya lagi bisa menampung 60 pedagang.

”Untuk menempati kios baru, pedagang harus menyepakati tarikan retribusi sesuai perda. Sekitar ada 350 pedagang pasar yang belum mau menempati baik los maupun kios,” ujar Abdul Hakim ketua paguyuban pedagang Pasar Jepon kepada MuriaNewsCom, Senin (11/01/2016).

Abdul Hakim juga mempertanyakan kenaikan retribusi yang hanya dikenakan bagi pedagang pasar yang notabene sebagai penghuni kios dan los baru. Sementara bagi pedagang lama, yang sebelumnya menempati kios, belum dikenakan retribusi sesuai Perda. Ia berharap agar tidak ada diskriminasi dalam penarikan retribusi berdasarkan Perda.

”Perda kan sifatnya menyeluruh, sementara pasar lain belum ada yang dikenakan retribusi sesuai Perda. Itu yang kami sebut tidak adil. Meski saya tahu untuk di Pasar Ngawen juga seperti ini kasusnya, pedagang yang menempati kios baru juga dipaksa untuk menyepakati retribusi sesuai Perda,” katanya.

Pihaknya selama ini juga berusaha mencari jalan keluar agar semua pedagang bisa segera menempati kiosnya. ”Rencana Rabu depan akan ada pertemuan, dan akan diberlakuakan uji coba dari Pemkab selama enam bulan ke depan dalam penarikan retribusi sesuai Perda,” pungkasnya.

Sementara, Rudi, salah seorang pedagang pasar Jepon juga mengeluhkan perihal kenaikan retribusi yang sangat tinggi. Kenaikan sesuai perda bagi mereka yang menempati Los dari yang semula Rp 1000 perhari kini menjadi Rp 2.850 perhari. Sementara untuk kios yang semula Rp 1.236.000 hitungan kalkulasi selama satu tahun, jika tiga perda tersebut diberlakukan maka retribusi menjadi menjadi Rp 6.516.000 hitungan kalkulasi selama satu tahun. (RIFQI GOZALI/TITIS W)