Tari Sufi Warnai Suluk Maleman “Purnama yang Tersandera”

Tarian sufi mewarnai suluk maleman bertajuk purnama yang tersandera. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tarian sufi mewarnai suluk maleman bertajuk purnama yang tersandera. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Suluk maleman bertajuk “Purnama yang Tersandera” yang digelar di Rumah Adab Mulia, Pati, Sabtu hingga Minggu (19-20/12/2015) dini hari menghadirkan eksotisme tari sufi.

Tak sekadar seni belaka, tari sufi menyuguhkan satu filosofi tentang kematian. Topi yang memanjang ke atas menjadi simbol sebuah nisan. Artinya, manusia selalu dekat dengan kematian.

”Kematian selalu berada di atas kepala. Kematian itu memang dekat dengan kita. Karena itu, setiap umat mestinya siap dengan kematian itu kapan saja,” ujar Kiai Budi.

Sementara itu, budayawan Anis Sholeh Baasyin mengingatkan kepada jamaah terkait dengan sebuah amalan yang dilakukan bulan Maulid. Menurutnya, pujian atau sholawat kepada Muhammad menjadi salah satu amalan terbaik selama bulan Maulid.

”Pujian itu tak hanya ditujukan secara fisik atau aspek duniawi dari sosok besar Rasulullah Muhammad saja, tetapi juga kebesaran akhlaknya yang begitu agung,” tuturnya.

Karenanya, maulid nabi menjadi momentum bagi umatnya untuk meneladani akhlak rasul. Sementara Muhammad merupakan rasul yang hadir menjadi rahmat bagi semesta.

”Islam itu agama rahmatan lil alamin yang sudah semestinya bisa merangkul semua orang dan semesta yang ada di dalamnya,” katanya. (LISMANTO/TITIS W)