Horor ! Ada ‘Suster Ngesot’ dan Mayat Hidup di SMA 2 Rembang

Para 'hantu' ciptaan Teater Ataru bergentayangan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Para ‘hantu’ ciptaan Teater Ataru bergentayangan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Ada sosok menakutkan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015) siang tadi. Para siswa melihat ada ‘suster ngesot’ yang bergentayangan di sekolah mereka.

Selain suster ngesot, ada juga zombie dan mayat hidup yang berkeliaran di SMA 2 Rembang. Namun, mereka bukanlah hantu sebenarnya, melainkan performance art dari Teater Ataru dalam memperingati Hari Ulang Tahun SMA 2 Rembang. Mereka sengaja memilih tampil dengan make-up dan kostum suster ngesot, zombie dan yang lainnya sebagai kritik sosial terhadap kecantikan.

Menurut Yuni Khomiatrin, Ketua Teater Ataru, penampilan mereka berdasarkan gagasan untuk mengingatkan para penonton, agar melihat kemanusiaan seseorang bukan sekadar dari pakaiannya. “Tampil cantik memang perlu, namun, pakaian tetaplah pakaian,” tutur siswi XI IPS 3 yang berkostum suster ngesot.

Senada dengan Yuni, Vita Dea Wardani, salah satu performer dalam acara itu, mengaku tidak mau mengukuti mainstream seperti fashion show tampil cantik. “Ataru harus beda. dengan begini, mungkin orang bisa ingat dengan banyaknya bencana di negeri ini,” kata siswi XII IPS 1 yang tampil dengan kostum zombie underground.

Sementara pelatih Teater Ataru, Arifin mengatakan, penampilan para siswi SMA 2 Rembang ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang masih dalam satu benang merah sama, bernama kritik sosial. “Mereka punya pilihan kreatif dalam mengekspresikan arti pakaian di mana pakaian bisa mengingatkan siapapun yang melihatnya untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkah saya sejalan dengan apa yang saya pakai? sudahkah saya cantik luar dalam?”, ujarnya.

Penampilan nyentrik mereka, sontak saja menarik perhatian para pelajar lainnya. Mereka pun berebut foto selfie bersama, kemudian membagikannya ke media sosial, facebook dan instagram dengan ekspresi beragam. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)