Anak-anak jadi Korban Kekerasan di Jepara, Ini Buktinya

Para peserta yang terdiri dari para ketua organisasi wanita, lurah/petinggi, guru SLTP dan SLTA serta Forum Anak Jepara (FAJAR) sedang memperhatikan materi seminar. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Para peserta yang terdiri dari para ketua organisasi wanita, lurah/petinggi, guru SLTP dan SLTA serta Forum Anak Jepara (FAJAR) sedang memperhatikan materi seminar. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Hasil penelitian terhadap 1.500 sampel menunjukkan bahwa dari 1.286 kasus, terdapat 313 variasi kasus disebabkan terjadi kekerasan fisik di rumah. Sedangkan penyebab kekerasan emosional/verbal psikis terdapat 371 dari 795 kasus.

Dan dari penyebab kekerasan seksual terdapat 115 kasus dari 224 kasus. Dari situ disimpulkan bahwa penyebab kekerasan fisik terhadap anak di rumah secara umum disebabkan karena kepribadian atau sifaf-sifat pelaku serta situasional.

“Banyaknya kasus ini mengharuskan kita untuk lebih getol mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak. Dengan harapan hak -hak anak yang wajib dijamin dan merupakan bagian dari HAM dapat terlindungi,” ungkap Evi Widowati pada Seminar Kampanye Perlindungaan Anak dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke- 87 di Pendapa Kabupaten Jepara.

Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini memaparkan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih dalam kandungan. Di Indonesia jumlahnya mencapai sepertiga jumlah penduduk. Sesuai amanat UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak, agar tidak menjadi beban pembangunan maka anak diberikan 31 hak.

“Di antaranya hak untuk bermain dan seterusnya, hak untuk mendapatkan nama dan seterusnya serta hak untuk mendapatkan perlindungan. Mulai dari perlindungan fisik dan non fisik, perlakuan kejam, hukuman dan perlakuan tidak manusiawi, perampasan kebebasan dan perlindungan lainnya,” ungkapnya.

Intinya, lanjut dia, hak anak untuk dilindungi dari semua bentuk kekerasan. Yaitu setiap bentuk pembatasan, pembedaan, pengecualian dan seluruh bentuk perlakuan yang dilakukan terhadap anak yang akibatnya berupa dan tidak terbatas pada kekerasan fisik, seksual, psikologis dan ekonomis. Atau bisa dalam bentuk diskrimanasi, perlakuan salah, penelantaran dan lain-lain. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)