Gila!! Ada Tempat Mesum yang jadi Favorit di Dekat Kamar Mayat

Seorang warga sedang bersantai di Taman Borotugel Kabongan Kidul Rembang yang diportal, Selasa (10/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Seorang warga sedang bersantai di Taman Borotugel Kabongan Kidul Rembang yang diportal, Selasa (10/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Para pemuda-pemudi yang sedang pacaran maupun orang dewasa yang ingin selingkuh di Rembang, kerap memanfaatkan tempat ini. Pemerintah setempat terkesan menyediakan tempat ‘mojok’ bagi para pasangan yang ingin mesum di Kota Rembang.

Tempat yang sering digunakan mesum di kota Rembang adalah Taman Borotugel yang terletak di Desa Kabongan Kidul, Rembang. Taman yang memiliki beberapa gazebo itu relatif selalu sepi, karena di sebelah baratnya merupakan lapangan luas sementara sebelah timurnya adalah ruang jenazah atau kamar mayat RS. dr. R. Soetrasno Rembang.

Selain itu, taman yang dibuat sedemikian indahnya, tidak didukung penerangan yang cukup. Padahal ada lampunya, tetapi tidak menyala. Kedua hal itulah, yang menjadikan Taman Borotugel menjadi rujukan pertama bagi para pasangan yang ingin mengumbar asmara.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Desa Kabongan Kidul, Rokhani ketika ditemui MuriaNewsCom, Kamis (10/12/2015). Menurutnya, Taman Borotugel memang sepi dan gelap. “Anak-anak muda kemudian memanfaatkannya sebagai tempat nongkrong dengan pasanganya,” ungkap Rokhani.

Bahkan, dia mengaku hampir setiap sabtu malam ada laporan dari warga sekitar tentang aktivitas yang tidak senonoh dilakukan di taman yang berada di wilayahnya itu. “Wah, banyak aduan dari warga. Saya itu hampir setiap malam minggu ditelepon sama warga. Pak ini ada yang pangku-pangkuan, pak ini ada yang gini-gini. Macem-macem pokoknya,” jelasnya.

Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena taman tersebut berada dalam kendali pemerintah kabupaten, belum diserahkan kepada pemerintah desa. Akhirnya, pemerintah desa hanya mampu mengambil langkah dengan memportal jalan masuk ke taman itu.

“Meski bukan solusi terbaik, tapi setidaknya bisa cukup mengurangi jumlah remaja yang kesini. Meski masih banyak remaja yang datang, terutama malam minggu,” tandasnya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)