Warga Kandangmas Kudus Berebut Ikut Kegiatan Desa Wisata

Warga Desa Kandangmas melakukan pelatihan biola di balai desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga Desa Kandangmas melakukan pelatihan biola di balai desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Desa Wisata di Kabupaten Kudus digadang mampu menjadi kampung hebat dibanding lainnya. Mengingat, desa mereka mempunyai keunggulan atau potensi berbeda yang dipandang memiliki nilai jual.

Salah satu dari Desa Wisata itu adalah Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. Demi obsesinya menjadi desa unggulan, warga setempat antusias menyambutnya.Terbukti dari banyaknya jumlah warga yang mengikuti pelatihan dalam pembentukan Desa Wisata.

Ada berbagai pelatihan diadakan. Di antaranya pelatihan pembuatan kopi, membuat jamu, fotografi, sablon, wayang, topeng, menjahit, dan lain sebagainya. Adapun kalangan yang ikut pelatihan pun beragam. Mulai dari kalangan dewasa, remaja, hingga anak-anak. Baik itu perempuan maupun laki-laki. Bahkan setiap waktu pelatihan tiba, Balai Desa Kandangmas, menjadi ramai kegiatan.

Diketahui, balai desa setempat itu menjadi sentra pelatihan Desa Wisata di Kandangmas. “Antusias warga untuk mengikuti pelatihan sangat tinggi. Warga, terutama pemuda di sini memang sadar kegiatan,” kata salah satu penggerak Karang Taruna Desa Kandangmas, Syaefuddin.

Bahkan sebagian warga mengikuti kegiatan tanpa ada paksaan atau sekadar ikut-ikutan. Keinginan untuk belajar murni datang dari diri sendiri. Jadi jangan heran, lanjutnya, jika setiap pelatihan diikuti banyak warga.

Ngatmin, salah seorang peserta pembuatan wayang, adalah buktinya. Ngatmin mengaku mengikuti pelatihan wayang memang ingin belajar membuat wayang. Dalam hal ini adalah wayang kulit. “Saya ingin mengasah jiwa seni diri,” kata Ngatmin.

Pemuda asal Dukuh Sudo ini tidak berharap banyak dari pelatihan wayang. Yang pasti baginya, mahir dan terampil membuat wayang merupakan kebanggaan tersendiri. “Sebelumnya saya juga ikut pelatihan topeng,” ungkapnya.

Peserta pelatihan sablon, Aan juga menuturkan alasan keikutsertaanya di pelatihan. Dia sengaja ikut pelatihan sablon untuk menambah pengetahuan. Meski Aan mengakui belum mempunyai pengalaman menyablon, tapi dia yakin hasil dari pelatihan akan bermanfaat baginya.“Belum tahu, apakah saya akan membuka usaha sablon atau tidak,” ujar Aan.

Sementara keinginan untuk belajar dan ingin berkecimpung dari hasil pelatihan, disampaikan salah seorang peserta kegiatan fotografi. Adalah Mamad. Dia ingin serius menjadi fotografer. Khususnya fotografer prewedding.

Dia sering mendapat tawaran memotret. Tapi karena belum yakin dengan kemampuannya mempergunakan kamera DSLR miliknya, tawaran pun ditolak. “Sering saya dapat tawaran motret prewed. Tapi saya tolak,” kata Mamad.

Karenanya, dia berharap dengan mengikuti pelatihan fotografi, kemampuannya bisa berkembang. “Semoga bisa motret bagus,” harapnya. (AKROM HAZAMI)