Pembuatan RKG Diklaim Mampu Meningkatkan Pendapatan Petani

Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ditemani Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto melihat stok benih kedelai di RKG (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ditemani Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto melihat stok benih kedelai di RKG (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Keberadaan Rumah Kedelai Grobogan (RKG) yang ada di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, ternyata sudah dirancang cukup lama. Sekitar dua tahun lalu, gagasan untuk membuat RKG sudah dimunculkan.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, pembuatan RKG dilatarbelakangi keprihatinan atas kondisi perkedelaian nasional. Dimana, tiap tahun, pemerintah masih mendatangkan impor kedelai karena produksi nasional tidak mencukupi kebutuhan.

“Data tahun 2014 lalu, kebutuhan kedelai nasional sekitar 2,5 juta ton dan produksi kita totalnya 800 ton saja. Kekurangan kedelai ini terpaksa harus didatangkan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Hadirnya kedelai impor itu, disatu sisi berimbas pada penurunan harga kedelai di level petani. Sebab, kedelai lokal harganya terpaksa harus menyesuaikan dengan barang impor yang relatif lebih murah.

Berawal dari itulah, kemudian muncul wacana untuk mendirikan sebuah mini kawasan terpadu kedelai di Grobogan. Sebelum diwujudkan, persiapan awal sudah dilakukan, yakni berupaya meningkatkan produksi kedelai petani.

Saat ini, produksi kedelai di Grobogan sudah berkisar 40 – 60 ribu ton per tahun. Sementara produktivitas hasil panennya bisa mencapai 2,2 ton per hektare.

Menurut Edhie, komoditas kedelai yang dikembangkan adalah varietas Grobogan. Kedelai varietas ini sudah mendapat sertifikasi nasional dan bukan hasil rekayasa genetik atau non GMO. Hal ini, berbeda dengan kedelai impor yang merupakan hasil rekayasa genetik.

“Di RKG yang arealnya sekitar satu hektare ini bisa belajar masalah kedelai dengan lengkap. Mulai dari benih, penanaman, perawatan, panen, pengolahan pascapanen jadi aneka produk makanan, dan pemasarannya. Sejauh ini, sudah ada banyak kelompok tani atau UMKM yang belajar disini. Disamping itu, beberapa dinas dari 4 kabupaten di Jateng dan luar Jawa juga sudah pernah datang kesini,” terang Edhie. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)