Kemarau Panjang di Pati Dinilai sebagai Gejala Global

Sejumlah peneliti asal Jerman berbincang soal kondisi pertanian dan iklim antara Pati dan Jerman. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah peneliti asal Jerman berbincang soal kondisi pertanian dan iklim antara Pati dan Jerman. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kemarau panjang yang mendera di sejumlah daerah di Kabupaten Pati dimaklumi sebagai gejala global. Pasalnya, pergantian musim yang terlalu panjang dialami berbagai negara di dunia.

Hal ini disampaikan Peneliti yang juga dosen Universitas Frankfurt, Jerman, Felix Anderl. ”Pergantian musim yang molor dan lama tidak hanya terjadi di Pati, tetapi juga sejumlah negara di dunia. Di Jerman, pergantian dari musim gugur ke musim dingin juga berlangsung lama dan tidak seperti biasanya,” kata Felix kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia memaklumi jika sejumlah warga dan petani di Kabupaten Pati menggelar ritual dan doa minta hujan. Karena kemarau terlalu lama yang berdampak pada dunia pertanian.

Namun begitu, ia mengagumi kondisi pertanian di Pati. Kendati kekeringan panjang melanda, sejumlah petani masih bisa panen palawija, mulai dari jagung, kedelai, hingga kacang hijau. (LISMANTO/TITIS W)