Santri Kajen Minta Ahli Agama Rumuskan Fiqh Antinarkoba dan HIV/AIDS

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati dr Edi Sulistiyono menjelaskan bahaya narkoba dan HIV/AIDS di kalangan santri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati dr Edi Sulistiyono menjelaskan bahaya narkoba dan HIV/AIDS di kalangan santri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan santri dari 52 pondok pesantren di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, meminta agar ahli agama dan dakwah segera merumuskan fiqh antinarkoba dan HIV/AIDS. Hal itu diharapkan agar bisa menjadi acuan untuk membentengi kalangan santri dari bahaya narkoba dan HIV/AIDS.

”Di hari kami, kami sepakat membentuk komunitas gerakan pesantren antinarkoba dan HIV/AIDS. Kami berikan nama GANAS. Sebagai pijakan, kami meminta dukungan pemerintah dan lembaga terkait,” kata Agus Prasetyo, salah satu pengurus Forum Komunikasi Pesantren Kajen (FKPK) kepada MuriaNewsCom, Kamis (15/10/2015).

Dari aspek hukum Islam, kata dia, perlu adanya fiqh antinarkoba dan HIV/AIDS yang menjadi pijakan bagi para santri. ”Kami meminta kepada ahli agama untuk segera merancang fiqh antinarkoba dan AIDS secara komprehensif, serta mendakwahkannya secara luas. Terutama di kalangan pemuda,” imbuhnya.

Ia juga mengajak agar santri di seluruh Indonesia bisa membentengi diri dari kemungkinan datangnya narkoba dan HIV/AIDS. ”Hindari narkoba. Hindari zina yang akibatnya bisa kena penyakit ganas HIV/AIDS,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)