Dolar Tak Mampu Ombang-ambing Usaha Cakar Ayam

Salah satu usaha cakar ayam di Desa Mejobo Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu usaha cakar ayam di Desa Mejobo Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Meski saat ini kurs rupiah terhadap dolar Amerika masih belum stabil, namun hal itu ternyata tak berpengaruh terhadap usaha pembuatan cakar ayam. Meskipun, bahan baku dari usaha tersebut adalah besi.

Ahmad Niam, salah satu pembuat cakar ayam di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus mengatakan, meskidolar naik turun, harga beli atau harga jual cakar ayam produk khas Mejobo tidak terpengaruh.

Menurutnya, yang dapat memengaruhi harga cakar ayam adalah justru pengusaha barang bekas atau rongsokan. Sebab bahan baku pebuatancakar ayam ini merupakan dari besi bekas.

“Bila pengepul rongsokan itu tidak bisa melempar barangnya, maka harga besirongsokan juga akan turun. Sebab, di gudang mereka akan menumpuk. Sedangkan bilapermintaan barang meningkat, maka harga besi rongsokan akanmelambung.Sehingga harga tersebut akan memengaruhi harga cakar ayam,” paparnya.

Selain pengepul rongsokan yang bisa memengaruhi harga jual beli cakar ayamtersebut, kondisi cuaca juga bisa ikut andil.”Musim kemarau dan hujan juga bisa memengaruhi harga cakar ayam.Sebab, musim kemarau terdapat banyak sekali proyek pembangungan.Sedangkan musim hujan proyek pembangunan banyak yang mandek,” ujarnya.

Diamenambahkan, untuk harga cakar ayam yang berukuran lebar 40cm harganya Rp35 ribu, 50 cm seharga Rp 45 ribu, sedangkan yang berukuran lebar 60cmbisasampai Rp 55 Ribu. Namun, harga itu bisa anjlok disaat musim hujantiba. Bahkan, anjloknya bisa sampai Rp 5 ribuhingga dengan Rp 10 Ribu perbijinya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)