Pedagang Sebut Pemkab Jepara Abaikan Pengembangan Pasar Tradisional

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ditengah membanjirnya keberadaan toko modern di Kabupaten Jepara,justru pengembangan bagi pasar tradisional dinilai mandek. Hal ini tentu saja semakin membuat daya saing antara pasar tradisional dengan toko maupun pasar modern melemah.

Hal itu dikatakan Ketua Paguyuban Pasar Kalinyamatan Jepara Masri. Menurutnya, pengembangan bagi pasar-pasar tradisional yang ada di Jepara sangat minim, bahkan, dia menganggap mandek. Sebab, rata-rata kondisi pasar tradisional sejak dibangun kali pertama hingga saat ini kondisinya masih sama.

“Pemerintah seolah hanya membangun saja, tapi pengembangannya mandek. Tidak ada pengembangan maupun perbaikan yang berkelanjutan,” ujar Masri kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, kemandegan tersebut dapat dilihat dari sisi barang dagangan hingga suasana pasar yang kurang nyaman. Padahal, jika ingin bersaing dengan toko maupun pasar modern harus ada perbaikan, inovasi dan evaluasi yang berkelanjutan.

“Saya mencontohkan di Pasar Kalinyamatan sendiri saja. Disini, kondisinya masih sama dengan awal pasar ini dibangun,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, stagnasi yang terjadi dalam dunia pasar tradisiona itu membuat situasi makin sulit bagi para pedagang. “Pembeli di pasar tradisional adalah masayarakat atau pengecer, dan pelaku bisnis pertokoan. Namun, bisnis pertokoan itu juga sepi karena sudah banyak berdiri mini market yang menjadi pesaing mereka,” katanya.

Pasar tradisioal yang kalah bersaing itu, berdampak pada tidak diminati oleh masyarakat. Ia menyebutkan mangkraknya pasar kerajinan di Kalinyamatan karena tidak diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah membiarkan toko modern tumbuh subur di berbagai tempat. Lagi pula, katanya, barang yang dijajakan adalah produk-produk luar negeri. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)