Sapi di TPA Ngembak Purwodadi Harus Dikarantina Sebelum Dikonsumsi

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan sapi yang dipelihara di TPA Desa Ngembak Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski bisa dikonsumsi, namun sapi yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, harus melalui tahapan karantina terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto saat dimintai komentarnya seputar masalah penggemukan sapi di tempat sampah tersebut.

Menurutnya, secara umum kondisi sapi yang makan sampah itu memang cukup sehat. Meski demikian, jika diperiksa lebih lanjut, dalam daging sapi yang digemukkan di TPA itu bisa mengandung unsur logam yang berbahaya, seperti jenis timbal. Jika daging ini dikonsumsi manusia, maka dalam jangka panjang bisa berdampak pada masalah kesehatan.

Oleh sebab itu, jika sapi di TPA itu akan dikonsumsi atau disembelih, termasuk untuk hewan kurban, maka terlebih dahulu harus dikarantina selama dua bulan.

Selama masa karantina, sapi tersebut diberi pakan normal baik jenis rumput segar (hijauan) atau pakan kering seperti jerami dan tebon serta dikasih minum air yang cukup. Masa karantina ini berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang ada dalam tubuh sapi tersebut.

“Kepada para pemilik ternak di TPA serta pedagang sudah kita kasih tahu masalah ini. Selama dua bulan sebelum dijual, sapi mereka harus dikarantina lebih dulu agar kandungan zat berbahaya bisa hilang,” ujarnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)