Pemkab Rembang Terpaksa Impor Ribuan Ton Kedelai

Para petani bersama petugas Dintanhut dan anggota TNI Rembang memanen kedelai di Desa Ringin Kecamatan Pamotan belum lama ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Para petani bersama petugas Dintanhut dan anggota TNI Rembang memanen kedelai di Desa Ringin Kecamatan Pamotan belum lama ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang terpaksa mengimpor kedelai guna memenuhi kebutuhan. Sebab berdasarkan hasil akumulasi ketersediaan dan kebutuhan terjadi ketimpangan. Jumlah ketersediaan kedelai di Kota Garam hanya mencapai 1.452,99 ton, namun jumlah kebutuhan menembus 8.207,79 ton. Pemkab setempat pun terpaksa impor bahan baku utama tempe dan tahu tersebut hingga 4.927,88 ton.

“Dari tujuh komoditas pangan, hanya kedelai yang harus kita cukupi dengan impor, hingga kita minus 4.927,88 ton. Kebutuhan kedelan perbulan rata-rata mencapai 1.172,54 ton, sehingga kecukupan stok pangan ke depan kita juga minus empat bulan khusus untuk kedelai,” ujar Dwi Purwanto, Kepala BKP dan P4K Kabupaten Rembang, Selasa (15/9/2015).

Dwi Purwanto mengatakan, stok padi tersedia 119.164 ton dengan jumlah kebutuhan 29.938 ton, sehingga surplus 89.226 ton dengan jumlah kebutuhan mencapai 4.276 ton. Komoditas Jagung ketersediaannya tercatat 76.574 dan tingkat kebutuhannya mencapai 1.169 ton. Sedangkan ketersediaan empat komoditas lainnya, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau masing-masing 30.006 ton, 1.281 ton 1.600 ton, 1.452 ton.

“Sebenarnya permasalahan yang akan kita hadapi jika kemarau hingga Januari 2016 bukan dari ketersediaan pangan, namun ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab dari perhitungan kebutuhan penduduk menunjukkan bahwa semua komoditas pangan aman kecuali kedelai,” kata Dwi Purwanto. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)