Ini Kisah Sedih Petani Kedelai di Gabus Pati

 

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Ironis, di tengah kesuksesan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus menghasilkan kedelai varietas Grobogan berkualitas, tetapi minim perhatian dari pemerintah. Usai panen, mereka bingung mencari pengairan sawah untuk masa tanam pertama.

Hal ini mengingat kekeringan masih mengancam petani di Gabus. Bahkan, air dari Sungai Silugangga yang menjadi satu-satunya harapan tidak bisa diandalkan karena airnya asin.

“Justru kalau digunakan untuk menyiram, tanamannya mati karena air Sungai Silugangga saat ini asin akibat kekeringan. Air dari Waduk Kedung Ombo saat ini kami tungu-tunggu kedatangannya untuk menyongsong masa tanam pertama,” kata Ketua Kelompok Tani Melati Putih II, Suparno kepada MuriaNewsCom.

Namun demikian, mesin yang akan digunakan untuk menyedot air di sungai sudah rusak dan tidak layak pakai. Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan nasib petani di Desa Babalan.

“Memang sudah ada mesin untuk menyedot, tetapi sudah tidak layak pakai. Kalau belum ada mesin sampai air Waduk Kedung Ombo mengalir ke Desa Babalan, kami terancam tidak bisa menggunakan air untuk kebutuhan masa tanam pertama,” keluhnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)