Pencurian Kayu Perhutani makin Menggila di Blora

Kawasan hutan di Perhutani KPH Cepu, Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Kawasan hutan di Perhutani KPH Cepu, Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Dari sejumlah indikator gangguan keamanan hutan yang terjadi di wilayah KPH Cepu, Blora, unsur pencurian pohon jati menempati urutan pertama. Sebab, dari 12 BKPH yang ada dalam naungan KPH Cepu, pada Januari hingga Juli terdapat 485 pohon besar yang dicuri dengan nilai kerugian Rp. 675. 970.000.

Koordinator Keamanan Hutan KPH Cepu, Agus Kusnandar, Selasa(8/9/2015), mengatakan, dengan ukuran luas keseluruhan yang mencapai 33.000 hektare, KPH Cepu hanya memiliki 144 tenaga keamanan yang tentunya dia nilai tidak optimal. Sehingga pencurian pohon masih menjadi fenomena paling rawan yang dihadapi oleh KPH Cepu.

“Dari jumlah petugas yang ada jika diperbandingkan sama saja dengan 1 petugas mengawasi keamanan 250 hektare hutan. Padahal, ukuran ideal dalam pengamanan hutan ialah 1:25 hektare dan ini tentu sangat minim,” jelasnya.

Pihaknya menambahkan hal tersebut diperparah dengan keberadaan area KPH Cepu yang berada di wilayah administratif kabupaten lain, yang tentunya pengawasan dan keamanan sangat minim. “Ada sekitar 5.000 hektare hutan yang masuk wilayah administratif Bojonegoro,” katanya.

Meski begitu, dalam rentang waktu Januari hingga Juli, ada sekitar 2.397 batang pohon dengan nilai kerugian mencapai Rp. 551. 446.000 yang mampu diselamatkan dari kasus pencurian.

“Penyelamatan hutan yang paling sulit adalah pada area hutan yang berada di wilayah administratif kabupaten lain. Sebab, terkadang penanganan kerja sama pun juga terkesan lambat dan untuk daerah di luar kabupaten, memang terkesan lebih sulit,” ujarnya.

Oleh sebab itu untuk penanganan hutan yang yang berada wilayah administratif kabupaten lain perlu adanya penanganan keamanan hutan yang tidak hanya dilakukan oleh petugas keamanan hutan namun perlu kiranya juga ada petugas dari pihak kepolisian yang membantu. (PRIYO/AKROM HAZAMI)