Ini Upaya Mengatasi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Jepara

Inah Nuroniah, Kepala Badan Perlindungan Perempuan Keluarga Berencana (BP2KB) Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Inah Nuroniah, Kepala Badan Perlindungan Perempuan Keluarga Berencana (BP2KB) Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Sehingga butuh penanganan yang lebih serius untuk mengatasi hal itu. Kepala Badan Perlindungan Perempuan Keluarga Berencana (BP2KB) Kabupaten Jepara, Inah Nuroniah mengemukakan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

”Untuk menangani masalah ini, salah satu yang paling penting adalah perlu dilakukan penyadaran terhadap masyarakat dan generasi muda, agar peka dan peduli arti pentingnya perlindungan,” ujar Nuoniah kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan memberi penyadaran, diharapkan masyarakat dan generasi muda bisa bersama melindungi perempuan dan anak yang diperlakukan secara diskriminatif. Sebab, kata Nuroniah, kekerasan tersebut mengakibatkan penderitaan baik secara fisik dan psikis.

Dia menambahkan, Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mencatat, sejak awal tahun hingga akhir Juli kemarin saja, sudah ada 55 kasus kekerasan. Dari jumlah tersebut, 32 melibatkan anak-anak, dan sisanya 23 kasus melibatkan perempuan.

Melalui upaya regulasi, Pemkab telah menerbitkan beberapa Keputusan Bupati. Di antaranya keputusan Bupati No. 108 Th 2008 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanganan Korban Tindak kekerasan terhadap perempuan dan Anak Kabupaten Jepara. Disusul dengan Surat Keputusan Nomor 33 tahun 2009 tentang pembentukan pusat pelayanan terpadu (PPT) Mutiara bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Berbasisi gender. Selanjutnya, diperbaharui dengan Keputusan Bupati No. 135.1/256 Th 2013, tentang pembentukan Pusat pelayanan terpadu Pemberdayaan perempuan dan Anak (P2TP2A). (WAHYU KZ/TITIS W)