Petani Kudus Ketakutan di Kebun Tebu

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang menimpa Kudus, membuat para petani was-was. Karena para petani takut, jika tebu yang selama ini dirawat bakal terbakar karena cuaca panas yang berkepanjangan.

Hal itu dilontarkan oleh Kabid Kehutanan dan Perkebunan di Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Harnowo. Menurutnya para petani di kudus terpaksa memanen dini tebu yang ditanam karena takut akan merugi.

“Sebenarnya semakin lama tebu di panen maka hasilnya juga makin bagus. Tebu termasuk tanaman yang butuh air. Jika tidak maka akan mudah terbakar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, tebu yang panen dengan kondisi kering juga melemahkan para petani. Sebab akan makin banyak rendemen yang menimpa para petani sebelum diolah menjadi gula.

Parahnya lagi, panen dini juga dialami hampir semua petani tebu. Sehingga jika digunakan menjadi gula pasir di PG. Dipastikan antre sehinga berdampak tebu makin kering dan rendemen juga makin banyak.

“Kalau seperti itu maka petani dapat rugi banyak. Tebu yang kering dengan diameter kecil, lalu panen juga dalam kurang air ditambah lagi harus menunggu sampai digiling di PG,” ujarnya.

Kudus memiliki luasan lahan pertanian seluas 26.326 hektare. Hanya, luasan lahan tersebut dibagi antara petani padi dengan petani tebu.

Untuk petani tebu, memiliki luasan lahan 6.320 hektare. Luasan tersebut terbagi antara produksi gula pasir 2.536,43 hektare. Sedangkan sisanya merupakan lahan gula tumbu.

Dan hingga kini, produksi tebu di Kudus 180.598,82 ton gula pasir dan 220,292,80 untuk gula tumbu. Dan untuk produksinya, 12.090,60 gula kristal dan 21.349,16 untuk gula tumbu.

Dalam kondisi standar, tanya tebu dalam satu hektare dapat menghasilkan sampai delapan ton. Namun juga harus melihat usia tebu yang sampai setahun atau sepuluh bulan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)