Sekolah Lima Hari Dinilai Mematikan Lembaga Pendidikan Non Formal

Ratusan pelajar tingkat SMA dan SMK tengah mengikuti salah satu kegiatan di Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan pelajar tingkat SMA dan SMK tengah mengikuti salah satu kegiatan di Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Pemberlakukan sekolah lima hari dalam sepekan di Jawa Tengah dinilai mematikan lembaga pendidikan non formal. Hal ini disampaikan Hamidulloh Ibda, pemerhati pendidikan asal Pati.

Mahasiswa Magister Pendidikan Universitas Negeri Semarang ini menilai, pemberlakuan sekolah lima hari yang saat ini tengah diuji coba di tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan kejuruan (SMK), dalam jangka panjang bisa diberlakukan di tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, lembaga pendidikan non formal seperti madrasah diniyah (madin) dan TPQ akan mati.

”Belum lagi murid di tingkat SMA yang juga mengikuti pendidikan non formal di pondok pesantren. Hal ini disebabkan sekolah lima hari dipastikan menambah jam belajar murid hingga sore. Padahal, pendidikan non formal seperti keagamaan sebagian besar berlangsung sore,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (4/8/2015).

Ia menambahkan, pendidikan non formal di Pati jumlahnya sangat banyak, terutama Pati bagian utara yang terdapat pondok pesantren. Karena itu, kebijakan sekolah lima hari harus dibarengi dengan kebijakan lain yang bisa dilihat dari berbagai aspek.

”Jika kebijakan itu dinilai efektif, sebaiknya perhatikan aspek pendidikan non formal. Misalnya, jam belajar tetap seperti yang semula agar tidak mematikan lembaga pendidikan non formal,” imbaunya. (LISMANTO/TITIS W)

Satu gagasan untuk “Sekolah Lima Hari Dinilai Mematikan Lembaga Pendidikan Non Formal

Komentar ditutup.