Rio Ibrahim, Rentengi Prestasi Voli Sejak SD

Atlet Voli Kudus, Rio Ibrahim. (MuriaNews/Iqbal Na’imy)

Atlet Voli Kudus, Rio Ibrahim. (MuriaNews/Iqbal Na’imy)

KUDUS – Konsistensi adalah sebuah kata yang diidamkan bagi sebagian besar orang, khususnya atlet yang bergelut dengan latihan rutin dan berlomba meraih prestasi. Kesinambungan antara konsistensi latihan dan konsistensi prestasi biasanya berkaitan satu sama lain.

Itulah kira-kira gambaran perjalanan karir seorang Rio Ibrahim di lapangan voli yang telah membesarkan namanya hingga sekarang. Semenjak pertama kali mengenal voli dari kelas 3 sekolah dasar dari bapaknya Pelatih Tim Voli Putri Kudus, Suryani hingga kini pencapaian prestasi Rio bisa dikatakan terbilang komplet.

“Ketika SMP, tim saya jadi runner up Popda tingkat Jateng, kalah lawan Sragen. Di SMA, naik ke Popnas dan meraih peringkat 3,” kata Rio.

Puncak prestasi yang dicapainya hingga saat ini mungkin adalah ketika dia mengantarkan Kudus menjadi runner up Porprov 2013. Saat itu Kudus dipaksa takluk oleh Purwokerto.

Rentetan prestasi tadi tidak lantas muncul begitu saja. Ada sederet proses yang harus dilaluinya dan perjuangan hingga mencapai posisinya sekarang pun terbilang tidaklah mudah.

“Bapak mulai mengenalkan saya kepada voli sejak saya masih kelas 3 di SD Kramat. Beliau kan pemain voli berpengalaman, tahu tentang olah raga ini luar-dalam,” ujar pemain yang biasa beroperasi sebagai Open Spike ini.

Ternyata, Rio kecil pun langsung jatuh hati pada voli. “Menurut saya, voli itu enak. Sekarang, voli telah menjadi keseharian saya dan sekaligus bisa bikin saya jalan-jalan ke banyaktempat,” lanjut Rio tentang banyaknya tawaran tarkam yang ditujukan padanya.

Kini, Rio sudah memasuki semester 7 jurusan PKLO, UNNES. Meski harus mulai menyisihkan waktu untuk penyusunan skrpsi, Rio mengaku hingga sekarang masih menerima tawaran bermain tarkam di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Namun, diam-diam Rio sudah mulai memperhitungkan kapan waktu yang tepat untuk mundur teratur dari voli tarkam. “Setelah kuliah selesai, saya ingin jadi guru olah raga. Jadi, mungkin akan lebih utamakan pekerjaan ketimbang voli,” ungkapnya.

Hal itu juga menepis kemungkinan dirinya untuk naik ke level yang lebih tinggi, seperti masuk tim senior Jawa Tengah atau tim Proliga. Postur menjadi satu-satunya alasan yang menghambatnya maju. “Standar tim-tim tadi postur minimal 190 sentimeter,” kata Rio yang berpostur 178 sentimeter. (IQBAL NA’IMY/SUPRIYADI)