Sekolah Ramah Anak Jadi Solusi Kekerasan Anak Dalam Dunia Pendidikan

Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan BP3AKB Grobogan Lestariningsih saat menjadi pembicara dalam rakor peningkatan SDM berbasis konvensi hak anak di ruang Riptaloka, Selasa (30/6/2015). (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan BP3AKB Grobogan Lestariningsih saat menjadi pembicara dalam rakor peningkatan SDM berbasis konvensi hak anak di ruang Riptaloka, Selasa (30/6/2015). (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Sampai saat ini, tingkat kekerasan anak di Indonesia semakin memprihatinkan. Parahnya, kekerasan itu justru banyak terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar dan tumbuh kembang anak. Demikian disampaikan Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan BP3AKB Grobogan Lestariningsih saat menjadi pembicara dalam rakor peningkatan SDM berbasis konvensi hak anak di ruang Riptaloka, Selasa (30/6/2015). Rakor yang digelar melibatkan berbagai komponen masyarakat. Yakni, tenaga pendidik dari paud hingga SMA, kepolisian, tenaga kesehatan, ormas, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Menurutnya, salah satu upaya untuk menekan kekerasan ditempat belajar adalah mengembangkan sekolah ramah anak (SRA) yang menjadi salah satu indikator kabupaten / kota layak anak. Dimana tujuan SRA ini antara lain memenuhi, melindungi dan menjamin hak anak melalui lingkungan sekolah.
“SRA adalah satuan pendidikan yang mampu menjamin hak anak dari kekerasan dan diskriminasi. Untuk pengembangan SRA ini nanti perlu melibatkan banyak pihak, mulai dari orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat sekitar,” katanya. (DANI AGUS/SUPRIYADI)