Desa Tanjungkarang : Bangun Toleransi di Lomba Desa

Lomba Desa yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungkarang, Kecamatan Jati, merupakan kegiatan positif sebagai sarana merekatkan antarwarganya. Sebab di wilayah tersebut dihuni warga dari berbagai jenis agama, suku, serta budaya.

Dengan demikian, adanya Lomba Desa membuat warga meningkatkan rasa kebersamaannya.”Dalam Lomba Desa ini memang, kami mengambil tema yang intinya, dengan kebersamaan bisa menciptakan pembangunan yang baik,” kata Ridwan, Ketua panitia Lomba Desa.

Oleh karenanya, dalam proses pelaksanaan lomba tersebut, desa yang berpenduduk sekitar 4.000 jiwa serta terdiri dari 29 RT dan 7 RW ini berupaya menyemarakkan acara secara maksimal. Beberapa kesenian yang dipentaskan dari berbgai kalangan agama.

”Salah satunya ialah rebana yang dibawakan oleh siswa MTs Assalam, tari Ya Pong dari GKMI  Tanjungkarang, serta kesenian barongsai. Meskipun itu hanya sekadar hiburan, namun di sisi lain bisa membangkitkan kita untuk saling menghargai kesenian yang lainnya. serta bisa menciptakan kerukunan,” ujarnya.

Hal senada juga diamini salah satu penari Ya Pong, Arianing. Dia mengatakan, kegiatan ini sangat baik. Sebab selain mengutamakan penilaian terhadap administrasi atau kegiatan yang ada di desa, hal ini juga bisa dijadikan tali silaturahim antarsesama.

Di desa ini ada berbagai macam etnis. Di antaranya adalah Jawa, dan Tionghoa. Suku atau etnis itu bisa berbaur serta mengakrabkan diri. Kegiatan sekaligus menjadi ajang tukar pikiran dia ntara mereka untuk bisa saling menghargai di kehidupan sehari-hari. 

Sejauh ini, pihak desa selalu memberikan ruang bagi setiap warganya untuk menampilkan berbagai kreasi. Sebab dengan tema itu, nantinya pihak desa bisa menciptakan suasana Lomba Desa yang berwarna warni. 

”Saya cukup senang, bisa tampil di atas pentas. Meskipun hanya sekadar sebagai hiburan, namun saya bisa menunjukan kepada khalayak, bahwa dari GKMI ini bisa menampilkan karya seni tari,” imbuhnya. (Edy Sutriyono / Akrom Hazami)