Desa Loram Wetan : Lakukan Pengerukan Lahan Tidur

Saat ini Pemerintah Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, akan memprogramkan pengerukan lahan tidur yang berada di desa setempat. Pengerukan dilakukan agar lahanbisa ditanami padi, atau sejenisnya.

Kepala Desa Loram Wetan Noor Said mengatakan, lahan tidur itu merupakan banda desa yang terletak di blok Tahunan. Dia memperkirakan luas lahan tidur tersebut sekitar 20 Ha.  Untuk memaksimalkan lahan itu, pihak desa telah mengusulkan ke musrenbang yaitu usulan agar dilakukan pengerukan.

Dengan adanya pengoptimalan lahan tersebut, nantinya desa yang berpenduduk sekitar 12 ribu jiwa serta terdiri dari 32 RT dan 6 RW ini bisa mempunyai persawahan yang lebih banyak, serta produktif. Sebab selama ini, persawahan yang ada belum menunjukkan hasil signifikan.

”Jika rencana kami itu disetujui oleh pemerintah setempat, maka lahan itu akan kami manfaatkan. Pengerukan itu akan dilakukan di tepi sawah. Sehingga saat musim kemarau,  ada cadangan air untuk tanaman padi dan sejenisnya. Sedangkan bila musim hujan, tempat kerukan tersebut bisa menjadi kolam ikan,” paparnya. 

Dengan demikian, dia berpendapat jika pengerukan mempunyai manfaat lebih banyak. Sebab pengerukan itu bertujuan agar mempunyai tempat penyimpanan air. Sehingga para petani yang akan menanam palawija atau padi di musim kemarau, mereka bisa mengambil air di galian tersebut.

”Dalam musrenbang kemarin itu kami usulkan lewat APBD. Harapannya agar pembangunannya juga bisa maksimal. Sebab untuk membuat embung atau mengeruk itu memang memerlukan biaya yang banyak,” tuturnya.

Di sisi lain, bila nanti pengerukan itu bisa berhasil, maka secara otomatis desa tersebut bisa menjadi lebih produktif lagi. Baik dilihat dari pertaniannya, maupun UMKM, yang dijalankan warga setempat.

”Kami berharap pembangunan ini bisa berhasil. Sebab kami juga menginginkan kemajuan desa di berbagai sektor. Baik dari bidang pertanian, UMKM maupun sumberdayanya. Sehingga desa ini bisa disejajarkan dengan desa maju yang ada di Kabupaten Kudus ini,” imbuhnya. (Edy Sutriyono / Akrom Hazami)