Merindukan Tendangan Kaki Kecil

Oleh: Lilis Rahayu Wardani Spsi *)

PAUD At Tazkiya Kudus

 

Surabaya 1997, bulan Juli yang panas ketika kuinjakkan kakiku di Kota Pahlawan. Kota yang menjadi sahabat dan kenyataan hidup yang kelak menjadi bagian sejarah hidupku, bahwa Allah memang memberiku takdir mulia untuk menjadi seorang pendidik anak usia dini. Lari dari kepahitan hidup patah hati ditinggal sang kekasih hati. Itulah awal tujuan aku berada di kota ini. Berusaha melupakan, melarikan diri, meratapi dan akhirnya meyakini semua yang diberikan Allah adalah yang terbaik dan berhikmah baik, karena Allah mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Mengawali dari ”tidak bisa apa-apa” karena aku sama sekali tidak punya pengalaman menjadi seorang guru anak usia dini dan tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Ya hanya berbekal sedikit ilmu belajar di Fakultas Psikologi-lah yang kata orang itu sudah dekat dengan dunia anak, meski sebetulnya banyak hal yang masih harus kupelajari untuk benar-benar memahami dunia anak anak. Awal jejak-jejakku dalam memahami seluk beluk anak usia dini. Kujalani profesi menjadi seorang guru TK dengan bekal ”suka anak-anak”, aku mulai menjalani hari-hari bekerja beraktivitas bersama mahluk  yang berukuran tinggi sekitar tiga kaki dan berat badannya sekitar 15 kg atau sekitar 20 kg. Anak usia dini! Setiap hari aku ingin segera bel pulang untuk anak-anak itu segera berbunyi agar tidak ribut dan tidak kacau lagi. Anak-anak itu tampak menyebalkan karena dengan daya lasaknya yang hebat dan luar biasa serta  perkembangan motoriknya yang berkembang pesat pada usia itu membuatnya mereka selalu berlari, melompat, mendorong, menarik, memutar, mencoret, bersembunyi, dan aktivitas yang tidak duduk pokoknya!

Tiap hari membuatku harus tahan diri untuk tidak emosi, disabar-sabarkan gitulah. Namun kemudian akhirnya aku mendapatkan ilmu besar bahwa seorang anak yang berkembang matang kemampuan motoriknya pada usia dini, maka kepercayaan dirinya akan berkembang optimal. Suatu syarat yang harus ada untuk berkembangnya potensi-potensi baik yang ada pada dirinya. Jadi solusi untuk anak-anak yang belum berkembang maksimal pada usia seharusnya adalah ”matangkan motoriknya! Allahu Akbar!

Belajar memahami karakter anak dan bekerja sama dengan anak-anak kudapat dari pengalaman hidup bersama anak-anak kecil itu. Bagaimana membuat mereka mau melihat aku saat mengajar, bagaiman membuat mereka mendengarkan apa yang kukatakan, bagaimana membuat mereka mau melakukan apa yang kuperintahkan pada mereka. Pengalaman batiniah yang susah dilukiskan dan senangnya bukan kepalang ketika akhirnya bisa membuat mereka mengerti konsep-konsep ilmu sederhana yang kelak menjadi bekal mereka, serta perubahan karakter yang terjadi secara pelan, hingga mereka tumbuh menjadi anak yang berani dan menjadi punya karakter hidup yang baik. Lega ketikamereka sudah tidak menangis ketika ditinggal mamanya, bahkan menyuruh sang mama pulang saja. Subhanallah. Bangga dan senang aku bisa menaklukkan keganasan mereka. Dan membuat mereka ingin pergi lagi ke sekolah esok. Mereka telah cinta sekolah!

 

Seperti dikatakan para ahli dalam buku tersebut menjelaskan bahwa jika tidak ada keikutsertaan emosional, tak akan ada belajar. Jika kita mengerti minat, hasrat, dan pikiran anak dan kita menyampaikan bahwa kita memahami, berarti kita telah memasuki dunia mereka. Melalui perancangan pembelajaran kita akan bisa masuk ke dunia mereka dan akhirnya kita bisa membangun kemitraan dengan mereka. Kucoba, ku-BISA! Aku bangga. Kebanggan yang kemudian menjadi awal tumbuhnya keikhlasan dalam membimbing anak usia dini. Langkahku menjadi  ringan ketika berangkat bekerja, hati senang ingin berjumpa denga anak-anak yang sok banget pengen tahu semuanya, dan ingin punya pengalaman yang berbeda tiap harinya.

Kucubit tanganku. Terasa sakit! Aku tidak bermimpi kini aku mengelola sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak usia dini. Gething iku nyanding, pepatah Jawa yang kudapati ada padaku. Anak-anak yang pada awalnya kuanggap menyebalkan, namun ternyata jadi pilihan hati dalam mengisi hari-hariku ketika kembali ke kota tumpah darahku Kudus. Allah telah mengatur perjalanan hidupku dengan sebaik-baiknya. Ketika dulu aku menangisi dan sempat menolak diamanahi menjadi kepala sekolah, ternyata pengalaman itu menjadi jejak tersendiri untuk kuterapkan di lembaga PAUD-ku kini.

Namun ternyata hidup adalah  selalu terus berjuang dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Mengelola sebuah lembaga pendidikan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan yang berbeda untuk membuat lembaga ini tetap istiqomah memberikan pelayanan terbaik untuk anak usia dini. Bersama guru-guru muda nan enerjik yang mendampingiku mengelola lembaga ini dengan beragam karakter yang harus kupahami. Juga dengan keterlibatan emosional yang lebih tinggi karena lembaga ini berdiri dengan swadaya dana mandiri. Membutuhkan keuletan  tersendiri dalam mengelolanya sehingga bisa tetap ”menyala”. Bila dulu aku hanya butuh mengelola diri sendiri dan mendidik diri sendiri, sekarang aku harus mengelola diri sendiri dulu untuk menghadapi semua. Aku harus memahami karakterku sendiri sebelum aku mampu mengelola karakter orang lain. Namun dari sebuah seminar yang kuikuti, memotivasiku bahwa harmonis itu bukan dari sebuah persamaan, tapi lahir dari sebuah keberbedaan. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Itulah semangat dari ibuku dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan anak. Perjalanan hidup masih panjang. Selama manusia masih hidup maka sejarah kita belum berakhir. Harus selalu berjuang dan membuat jejak-jejak yang baik dan jejak jejak yang bermutu. Sebuah perjuangan yang akan mengalir alami dan menjadi bagian hidup manusia yang tak terelakkan, namun bila dimaknai dengan tujuan ibadah akan menjadi indah. Dibutuhkan keihklasan yang lebih tinggi dan kesabaran yang lebih besar. Benar kata orang, sabar itu tanpa batas.

Harus tawakal dan senang, harus kuat dan tegar, harus gembira tiap hari supaya langkah menjadi ringan agar hidup menjadi lebih bermakna tidak hanya untuk diri, tapi juga untuk bangsa ini. Membantu mencerdaskan anak bangsa yang lebih berkualitas untuk mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan dan ketertinggalan. Semangat untuk membimbing generasi bangsa yang lebih beriman dan mempunyai akhlak yang sholeh dan kreatif dalam menghadapi tantangan perkembangan jaman dengan pendidikan moral sejak dini di lembaga PAUD. Sehingga kelak mereka mampu memimpin bangsa ini dengan nilai- nilai dan martabat moral yang baik, tidak seperti pemimpin-pemimpin ”agung” bangsa ini yang bangga dengan kekayaan yang tidak halal dari hasil korupsi dan manipulasi, naudzubillahimindzalik. 

Menyesalkah aku ”hanya menjadi guru anak prasekolah?” Oh, tidak! Aku bangga dan aku bahagia. Akan selalu kurindukan tendangan kaki kecil Abrar, yang menjadi awal tendangan besar dalam gol-gol lain yang lebih bermakna dalam hidupku. Kesempurnaan hanya milik Allah, demikian juga dengan karya nyata hati ini yang jauh dari sempurna. Semoga bermanfaat untuk membangun dan memotivasi para pendidik untuk selalu semangat mencoba, menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Pantang menyerah untuk hidup beribadah dan syurga jannatin yang kita damba  menjadi tujuan akhir hidup kita. (*)

 

*) Juara harapan 2 ”Lomba Menulis Artikel Pendidik Anak Usia Dini” dalam rangka perayaan 10 tahun Sekolah Laboratorium Anak Usia Dini Pelita Nusantara