Warga Kampung Tenggang Ngotot Bertahan

KOTA SEMARANG – Warga Kampung Tenggang RT 5, RW 7, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari ngotot, mempertahankan lahan mereka yang terkena proyek normalisasi Kali Tenggang. Pasalnya, mereka tidak akan melepaskan lahan tersebut, jika Pemkot Semarang belum memenuhi tuntutan harga yang diminta warga.
”Kalau mau dibongkar, jangan hanya bangunan yang kena saja, tapi semua harus dibongkar. Saya minta diganti total,” ujar salah satu warga Nurkholis (60) saat ditanya Koran Muria, kemarin.
Dirinya lantas membandingkan dengan pemilik tambak yang mendapat ganti rugi sebesar Rp 1,5 juta per meter. Tentu saja, nilai tersebut terpaut cukup banyak jika nilai bangunan hanya dihargai Rp 580 ribu per meternya.

Sementara, Lurah Tambakrejo Zairin menyatakan, di wilayahnya masih ada sekitar 15 bidang yang belum terbebaskan. Kelima belas bidang itu terdiri atas 13 bidang dalam bentuk rumah, satu tambak, dan satu berupa rawa.
”Saya akui memang, banyak warga yang belum jelas mengenai pengukuran bangunan. Untuk itu, mereka minta dilakukan pengukuran ulang dan disesuaikan dengan nilai ganti rugi yang sekarang,” terangnya.
Terpisah, koordinator lapangan tim pengukur bangunan dari Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Herawan Wijayadi menambahkan, pengukuran hanya dilakukan pada bangunan saja. Sedangkan untuk lahan, sudah tidak ada masalah.
”Kami hanya ingin memastikan kondisi terkini. Karena, dari data yang kami punya di tahun 2010 sudah banyak yang berubah,” ujarnya.
Diketahui, baru-baru ini Pemkot Semarang kembali menerjunkan tim untuk melakukan pengukuran ulang terhadap 13 rumah di Kampung Tenggang RT 5, RW 7, Kelurahan Tambakrejo. Sebab, warga ngotot dengan nilai ganti rugi yang dinilai tidak sepadan.
TRI WURYONO / ARIES BUDI