Malam Ini, D’Masiv Bakal Bakal Ramaikan Alun-alun Purwodadi

MuriaNewsCom, GroboganKabar gembira buat penggemar group band ternama D’Masiv. Grup band asal ibukota itu dijadwalkan akan tampil di alun-alun Purwodadi, Sabtu (31/3/2018) malam.

Dari pantauan dilapangan, sebuah panggung besar sudah mulai didirikan di alun-alun sejak dua hari lalu. Hingga siang tadi, persiapan sudah mendekati 100 persen. Bahkan, selepas dhuhur sudah dilakukan cek sound dipanggung utama.

“Pentas musik dimulai 16.00 WIB tadi. Untuk pentas sore tadi diisi band penghibur dulu,” jelas Andreas, salah satu panitia pertunjukkan musik itu.

Untuk jadwal pentas D’Masiv diagendakan mulai jam 21.00 WIB. Sebelumnya, akan tampil band HIVI terlebih dulu.

“Pentas musik ini dilangsungkan dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-292 Kabupaten Grobogan. Untuk lihat pentas nanti tidak dipungut biaya,” sambung Andreas.

Editor: Supriyadi

Puluhan Anak TK di Grobogan Diajari Cara Memadamkan Kebakaran

MuriaNewsCom, GroboganPuluhan siswa PAUD dan TK dari beberapa sekolahan mendapat pembekalan seputar masalah kebakaran di halaman kantor Damkar Grobogan, Sabtu (31/3/2018). Pembekalan diberikan secara bergantian oleh beberapa petugas damkar.

Pada tahap awal, petugas memberikan materi seputar masalah kebakaran. Antara lain, soal penyebab kebakaran yang selama ini sering terjadi. Kemudian, tindakan awal yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran juga diberikan pada siswa tersebut.

“Harap adik-adik ketahui, kebakaran itu seringkali terjadi karena kecerobohan. Oleh sebab itu, jangan pernah bermain-main dengan api ketika ada di rumah,” pesan Agus, salah satu petugas damkar dihadapan puluhan siswa tersebut.

Petugas juga memberikan materi mengenai cara-cara memadamkan api. Dalam sesi ini, sebagian siswa tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang tidak pernah didapat dibangku sekolah tersebut.

Sementara sebagian lagi terlihat agak takut ketika petugas menyalakan api untuk pelajaran praktik. Petugas juga mengenalkan pada para siswa tentang mobil pemadam kebakaran dan mereka diperbolehkan naik diatas kendaraan tersebut.

Kasi Damkar Grobogan Paiman menyatakan, pihaknya sangat senang dengan inisiatif dari pihak sekolah untuk dikenalkan cara-cara memadamkan kebakaran. Dengan langkah itu, para siswa itu setidaknya sudah punya bekal pengetahuan awal. Diharapkan dengan upaya ini setidaknya bisa membantu meminimalkan terjadinya musibah kebakaran. Terutama yang disebabkan kecerobohan akibat bermain-main dengan api.

“Selama ini, sudah banyak yang minta diadakan pelatihan. Terus terang kami sangat mengapresiasi inisiatif dari pihak sekolah ini. Pelatihan ini saya kira sangat bermanfaat bagi guru dan muridnya,” ujarnya.

Ia berharap agar sekolah-sekolah di tingkatan yang lebih tinggi yakni SMP dan SMA bisa mengikuti langkah serupa. Hal itu dinilai lebih baik lagi karena secara fisik mereka sudah lebih kuat. Sehingga ketika ada kebakaran didekatnya bisa lebih maksimal membantu penanganan dibandingkan dengan anak PAUD atau TK .

Editor: Supriyadi

Ditolak Pedagang, Revitalisasi Pasar Kuwu Grobogan Terancam Gagal

MuriaNewsCom, GroboganRencana revitalisasi Pasar Kuwu di Kecamatan Kradenan yang akan dilakukan tahun ini terancam gagal. Hal ini seiring adanya penolakan dari paguyuban pedagang terkait bakal dilakukannya proyek revitalisasi.

Informasi yang didapat menyatakan, beberapa waktu lalu, perwakilan pedagang bahkan sudah sempat melakukan audensi dengan komisi B DPRD Grobogan. Dalam aspirasinya, pedagang keberatan terkait konsep revitalisasi pasar. Yakni, tempat berjualan pedagang akan dibangun dengan model prototipe yang terkesan lebih modern.

Dengan konsep ini, tempat berjualan dinilai justru terlihat menjadi lebih sempit. Pedagang menghendaki agar pembangunan lapak berjualan dilakukan seperti semula sehingga tempatnya terlihat longgar.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Grobogan Karsono ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya keberatan dari peguyuban pedagang Pasar Kuwu terkait bakal adanya proyek revitalisasi. Dengan adanya keberatan itu maka proyek revitalisasi akan dialihkan ke lokasi lain yang memungkinkan.

Karsono menjelaskan, pada tahun ini, pihaknya mengajukan bantuan revitalisasi tiga pasar ke kementerian terkait. Yakni, Pasar Kuwu, Pasar Wirosari dan Pasar Unggas Glendoh Purwodadi dengan alokasi anggaran masing-masing senilai Rp 8 miliar.

Pada tahun 2017, pihaknya sudah mendapat proyek revitalisasi untuk Pasar Tegowanu dan Grobogan. Masing-masing, nilainya Rp 6 miliar.

Untuk teknis pelaksanaan revitalisasi memang dilakukuan dari kementerian. Termasuk konsep bangunannya juga sudah disiapkan pihak kementerian dengan model prototipe.

“Desain untuk revitalisasi pasar memang modelnya prototipe. Untuk revitalisasi di Pasar Grobogan yang sudah jadi akhir tahun 2017 lalu juga seperti itu,” katanya.

Ia menambahkan, pada tahun 2016 lalu, pihak kementerian juga sudah menyalurkan dana untuk rehab bagian kios depan di Pasar Kuwu dan Pasar Wirosari. Rencananya, pada tahun 2018, penataan akan dilanjutkan dengan revitalisasi pasar keseluruhan.

Editor: Supriyadi

Kabar Gembira, Kerbau Betina di Kudus Bisa Diikutkan Asuransi

MuriaNewsCom, Kudus – Kerbau milik peternak di Kudus yang mati, bisa mendapatkan klaim asuransi. Namun itu hanya berlaku untuk 200 ekor kerbau betina yang mengikuti Asuransi Usaha Ternak Kerbau (AUTK).

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus Sa’diyah. Ia mengungkapkan, program yang berasal dari Kementrian Pertanian itu ditujukan untuk peternak kerbau betina, yang mati karena proses melahirkan atau sakit.

Dirinya mengungkapkan, jumlah premi yang ditanggung oleh kementrian adalah Rp 160 ribu. “Praktis peternak kerbau betina hanya membayar premi Rp 40 ribu,” ujarnya, baru-baru ini.

Ia mengatakan, subsidi premi asuransi digalakan untuk menarik minat peternak untuk mengembangkan kerbau betina. Klaim yang didapatkan peternak, jika ternaknya mati karena sakit, bisa mencapai Rp 10 juta.

Dirinya menyebut, pencairan klaim sudah pernah dilakukan pada saat asuransi ternak sapi betina. Pada akhir 2017 klaim asuransi mencapai Rp 113 juta untuk 14 ekor sapi betina.

“Kami sudah menyosialisasikan terkait asuransi ini kepada sejumlah perangkat desa di Kudus,” tambahnya.

Adapun, untuk mereka yang ingin mengikut program ini hanya cukup meminta surat pengantar dari ketua kelompok peternak. Sedangkan mereka yang tidak berkelompok, bisa meminta pengantar dari kepala desa.

Editor: Supriyadi

Gus Yasin Ditanya Soal Janda,  Ganjar Degdegan

MuriaNewsCom, Semarang – Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mendapat pertanyaan yang cukup mengejutkan saat menghadiri Taaruf Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng yang digelar PW Muhammadiyah Jateng, Sabtu (31/3/2018).

Dalam kegiatan itu, putra KH Maimoen Zubair memaparkan sejumlah program yang akan diusung bersama Ganjar Pranowo. Termasuk janji menyiapkan dana APBD sebesar Rp 331 miliar untuk guru madin, TPQ dan pesantren.

Namun pertanyaan yang muncul dari peserta kegiatan itu tak bersangkutan dengan apa yang dipaparkannya. Melainkan soal janda.

Pertanyaan itu muncul dari Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng, AM Jumai. Menurutnya, dari data BPS jumlah janda di Jateng sebanyak 10 ribu. Artinya angka perceraian tinggi. “Bagaimana mengatasi ini karena dampak perceraian banyak sekali?,” tanyanya.

Ganjar nampak kaget mendengar pertanyaan tersebut. “Pertanyaan pertama langsung marai degdegan,” kata Ganjar.

Namun Gus Yasin terlihat tenang. Ia mengakui jika angka perceraian di Jateng memang tinggi. Bahkan di Wonogiri perceraian terjadi 18 kali perhari.

Saat ini menurut dia, Pemprov Jateng dan DPRD Jateng sudah menyusun Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga.

“Saya di DPRD, Komisi E kemarin mengusulkan dan menggodok perda tersebut, baru digedok, insyaallah 2019 sudah bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Perda tersebut, kata suami Nawal Nur Arafah itu, memberi amanat pemerintah provinsi untuk memberi pendampingan pada keluarga rentan. Selain itu juga membuat program pendidikan pranikah dan konsultasi anak muda.

“Dampak perceraian itu besar. Dari anak, juga budaya, ekonomi keluarga. Maka pendidikan pra nikah ajarkan bagaimana suami isteri saling menghormati dan menghargai,” terangnya.

Ganjar menimpali jawaban Gus Yasin. Menurutnya, perceraian kadang terjadi karena pasangan sudah tidak bahagia lagi. “Jadi bapak ibu, jangan lupa bahagia ya,”  katanya setengah bercanda.

Editor : Ali Muntoha

Keren!! Guru SDN 01 Wirosari Grobogan dapat Kesempatan Belajar ke Belanda, Ini Prestasinya

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah penghargaan istimewa bakal didapat Guru SDN 01 Wirosari bernama Hendrik  Hermawan. Itu karena, dia mendapat kesempatan belajar singkat selama 21 hari di Belanda yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan.

Penghargaan itu didapat atas prestasi yang diraihnya pada tahun 2017 lalu. Yakni, jadi juara I nasional dalam ajang Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru untuk kategori MIPA. Selain itu, Hendrik juga sempat meraih penghargaan Anugerah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tingkat Nasional Tahun 2017.

“Saya tidak menyangka bisa terpilih jadi salah satu peserta yang akan dapat kesempatan belajar singkat di Belanda. Terima kasih atas dukungan dari semua pihak sehingga saya bisa dapat penghargaan ini,” kata Hendrik, Sabtu (31/3/2018).

Menurut Hendrik, kegiatan belajar singkat atau short course akan dilangsungkan 8-28 April nanti. Total guru SD yang mendapat kesempatan belajar singkat ada 14 orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta adalah guru SD berprestasi tahun 207 dari berbagai bidang atau kategori. Sebelum berangkat ke Belanda, para peserta terlebih dulu akan mendapat pembekalan selama dua hari, 6-7 April nanti.

Ia menambahkan, selama di Belanda ada beberapa hal yang akan dipelajari. Antara lain, mengenai sistim pendidikan di Belakda, metode pengajaran, strategi penilaian, pengembangan profesionalisme guru dan kurikulum, serta mengunjungi beberapa SD dan lembaga terkait pengembangan guru.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat menyatakan, pihaknya merasa bangga atas kesempatan istimewa yang diberikan pada Hendrik Hermawan untuk menimba ilmu di Belanda. Ia berharap, apa yang didapat di Belanda nanti bisa meningkatkan kompetensi dan selanjutnya bisa ditularkan pada guru lainnya di Grobogan.

“Saya selaku kepala dinas sudah memberikan izin pada Hendrik Hermawan untuk mengikuti  short course di Belanda. Saya berharap, apa yang didapat Hendrik Hermawan bisa jadi pemicu semangat guru lainnya untuk meraih prestasi nasional,” cetusnya.

Editor: Supriyadi

3.432 Siswa SMA di Kudus Siap Ikuti UNBK 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 3.432 siswa jenjang SMA di Kudus akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), yang akan dihelat Senin (9/4/2018). Jumlah sebanyak itu berasal dari 17 sekolah menengah atas negeri dan swasta yang ada di Kota Kretek.

Sriyoko Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kudus mengatakan, jumlah tersebut terdiri dari 1.190 siswa dan 2.301 siswi.

“Insyaallah siap semua. Sekarang sedang USBN. Berdasarkan simulasi awal bulan ini (Maret) tidak ada masalah,” tuturnya.

Menurutnya, tidak ada perubahan besar terkait sistem UNBK di tahun 2018. Hanya saja memang ada penambahan fitur pada sistem meskipun tidak banyak.

Penelusuran di laman unbk.kemendikbud.go.id, jumlah sekolah jenjang SMA/MA di Kudus yang mengikuti UNBK tahun 2017/2018 berjumlah 53 sekolah. Sementara itu di jenjang SMK ada 27 sekolah yang mengikuti ujian nasional berbasis komputer.

Adapun, ujian dimulai pada Senin (2/4//2018) hingga Kamis (5/4/2018) untuk jenjang SMK. Sementara untuk jenjang SMA UNBK dimulai pada Senin (9/4/2018) sampai dengan Kamis (12/4/2018).

Untuk ujian susulan UNBK jenjang SMA/MA dan SMK dilaksanakan pada Selasa dan Rabu (17-18/4/2018).

Editor: Supriyadi

Parmusi Perintahkan Anggotanya Menangkan Sudirman-Ida

MuriaNewsCom, Solo – Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Sabtu (31/3/2018) mendeklarasikan dukungannya terhadap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jateng Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Tak hanya mendukung, Parmusi juga siap menyosialisaiksn dan memenangkan pasangan nomor urut dua tersebut. Deklarasi dukungan dilakukan dalam Musyawarah Kerja dan Orientasi Dai Pengurus Wilayah Jawa Tengah Parmusi 2018.

“Dari kandidat yang ada, kami menilai Pak Dirman yang pantas didukung Parmusi untuk menjadi pimpinan di Jawa Tengah,” Ketua Umum Parmusi, Usamah Hisyam.

Ia menyebut, Sudirman Said memiliki rekam jejak yang baik, jujur, bersih, dan kompeten. Sehingga Parmusi meyakini, Dirman akan bisa membangun Jateng menjadi provinsi yang maju.

Usamah berpesan agar kader Parmusi tidak setengah-setengah dalam mendukung paslon  “Jangan sekadar mendukung. Dukungan Parmusi harus dukungan total. Kalian harus menjadi agen untuk mensosialisasikan. Harus kerja untuk memenangkan Pak Dirman,” katanya lagi.

Hal senada disampaikan Ketua Wilayah Jateng Parmusi, Anding Kusmanto. Parmusi Jateng siap memenangkan pasangan Sudirman-Ida. “Pak Dirman adalah pemimpin yang lahir dari masjid. Jika menjadi pemimpin tentunya akan memperhatikan nasib umat.” Ujar dia.

Sementara Sudirman menyambut gembira dukungan Parmusi. Menurutnya, bergabungnya Parmusi akan menambah kuat barisan pendukung pasangan Dirman-Ida.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan Parmusi. Hadirnya Parmusi menambah kekuatan untuk merebut hati masyarakat,” kata Pak Dirman.

Editor : Ali Muntoha

Disdukcapil Kudus Buka Layanan Rekam Data KTP di Akhir Pekan

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kudus membuka layanan rekam KTP Elektronik (E-KTP), pada akhir pekan Sabtu-Minggu. Layanan ini ditempuh untuk meningkatkan perekaman kartu tanda penduduk elektronik, jelang pilkada 2018.

Layanan perekaman E-KTP pada akhir pekan, resmi dimulai pada hari Sabtu (31/3/2018) hingga 24 Juni 2018. Layanan Sabtu-Minggu itu dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB.

“Kami sediakan 7-8 petugas yang bersiaga di Kantor Disdukcapil Kudus dengan sistem bergantian,” kata Sekretaris Dinas Disdukcapil Kudus Putut Winarno.

Dikatakannya, layanan itu menyasar warga Kudus yang belum melakukan perekaman KTP, namun kesehariannya sibuk bekerja. Seperti buruh yang bekerja di luar kota, ataupun pelajar.

“Meskipun ada layanan Sabtu-Minggu, namun layanan jemput bola bagi warga berkebutuhan khusus, lansia tetap kami lakukan. Kalau untuk layanan weekend ini, kami tujukan bagi buruh luar kota yang kebetulan pulang, atau bagi perekam baru,” tuturnya.

Menurut data per tanggal 26 Maret 2018, dari jumlah penduduk sebanyak 835.318, jumlah warga wajib ber KTP ada 621.489. Sedangkan yang sudah melakukan perekaman berjumlah 608.028, dan yang belum melakukan perekaman KTP Elektronik berjumlah 13.461.

Editor: Supriyadi

Dawet Mantingan, Kuliner Khas Jepara yang Terjaga Lebih dari Setengah Abad

MuriaNewsCom, Jepara – Jika berkunjung ke Jepara, khususnya Wisata Religi Makam Mantingan, jangan lupa mampir ke Dawet Mantingan. Dawet yang melegenda dari empat generasi ini cukup familier bagi masyarakat Jepara.  Tak hanya rasa yang unik, kuliner tradisional ini juga memiliki rasa segar dan mengenyangkan.

Berbeda dengan dawet pada umumnya yang menyajikan cendol beserta santan ditambah dengan manisnya gula merah cair, di Dawet Mantingan ini kita dapat menemukan cendol yang cukup mungil dicampur dengan bubur pati yang memiliki rasa gurih dan manis.

Dawet Mantingan ini juga menjadi pilihan warga sekitar disaat terik matahari menjelang. Perpaduan rasa khas gula aren dicampur dengan perasan santan ini membuat dawet tersebut makin gurih, manis dan segar.

Farida (50), generasi keempat Dawet Mantingan ini mengaku keluarganya mulai berjualan dawet sejak 1958 atau 60 tahun yang lalu. Awalnya, usaha dawet ini dirintis oleh mbah buyutnya Mbah Sanisih. Kala itu, Mbah Sanisih merintis usaha di depan Makam Mantingan tepatnya di bawah pohon ringin.

Dawet Mantingan kuliner khas Jepara yang sudah terjaga sejak 1958 lalu. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Melihat banyaknya usaha dawet di Jepara, Mbah Sanisih mencoba membuat resep baru. Ia memadukan cendol yang dibuat dari sagu aren (yang hanya ada di Jepara, khususnya daerah Plajan) dengan bubur pati.

Karena sagu aren itulah, gurihnya Dawet Mantingan ini menjadi jujugan banyak orang, termasuk pelancong dari luar kota. Apalagi, rasa dawet tersebut tidak dapat ditemukan di penjual dawet lainya, meski bahan bakunya sama.

Mulai dari sini lah cendol Mantingan mulai dikenal. Mereka yang mencicipi Dawet Mantingan  mulai bercerita ke orang, hingga menjadi cerita dari mulut ke mulut dan kini menjadi kuliner khas Jepara.

Setelah mbah Sanisih tiada, usaha tersebut diturunkan kepada putrinya Hj Sutiyah kemudian turun lagi ke adiknya Misayati. Setelah Misayati tiada, kini usaha tersebut dipegang oleh cicitnya yaitu Rosidah dan Farida.

Sejumlah pelanggan menikmati gurihnya dawet Mantingan, kuliner khas jepara yang melegenda sejak 1958. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Meski sudah lebih dari setengah abad, namun untuk menjaga cita rasa Cendol Mantingan ini, Farida dan Rosidah masih memegang teguh pendirian sang buyut. Salah satunya memasak cendol, bubur, gula hingga santanya pun masih menggunakan kayu bakar.

“Pesan dari mbah dulu, masaknya harus tetap dengan kayu bakar. Dan untuk membuat cendolnya pun dengan menggunakan sagu aren yang hanya ada di Jepara. Sagu tersebut bahanya sama dengan makanan khas Jepara yaitu horog-horog,” jelasnya.

Hingga generasi keempat ini, mereka masih menjunjung tinggi resep turun temurun itu. Hanya saja untuk tempat jualan sudah berpindah. Sejak neneknya Hj Sutiyah selaku generasi kedua mulai menua dan sakit Cendol Mantingan pun pindah di sebelah timur Makam Mantingan.

Sementara itu, Titik (40) warga Panggang mengaku setiap melintas di dearah Mantingan, pasti menyempatkan mampir ke cendol yang melegenda itu. Bahkan setiap hari Jumat, dia bersama teman-temanya menyempatkan untuk menikmati kesegaran dawet tersebut.

“Rasanya khas, manis, gurih dan segarnya itu belum bisa ditemukan di dawet-dawet yang lain. Selain itu harganya cukup terjangkau hanya Rp 3.500 perporsi jadinya sangat terjangkau,” jelasnya.

Dian (22), salah seorang karyawan swasta ini mengaku setiap hari dia membungkus dawet tersebut untuknya dan juga teman-teman di gudang meubelnya. Selain segar, dawet tersebut juga mengenyangkan.

“Rasanya segar, selain itu juga mengenyangkan, harganya juga murah jadi lumayan untuk mengganjal perut,” kata gadis manis ini.

Editor: Supriyadi

Menengok Istana Juragan Candu Terkaya di Asia Tenggara yang Kini Jadi Kandang Ayam

MuriaNewsCom, Semarang – Oei Tiong Ham dikenal sebagai peranakan Tionghoa yang pada abad 20 dikenal karena kekayaannya. Ia tercatat sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara berkat bisnis candu dan juragan gula.

Bisnis opiumnya menggurita dari Bangkok, Singapura, Hongkong sampai New York. Bahkan sebagian tanah yang ada di Kota Semarang yang dulu dikuasai para Yahudi pun berhasil diambil alih.

Salah satu peninggalan bisnisman yang sangat berpengaruh zaman dulu itu hingga kini masih bisa dijumpai. Rumah gedong milik keluarga Tiong Ham hingga saat ini masih ada. Rumah itu berada di Bukit Simongan, dan dikenal dengan nama Istana Bukit Simongan.

Sejarawan Kota Semarang, Yongkie Tio dilansir dari metrosemarang.com menyebut, kedigdayaan Tiong Ham dalam menguasai roda bisnis di Kota Lumpia tempo dulu tak lepas dari peran ayahandanya, Oei Tjie Sien. Keluarganya merupakan peranakan Tionghoa yang mengawali bisnis dari nol.

Di Istana Bukit Simongan itulah, Oei Tjie Sien ditempa menjadi seorang bisnisman. “Rumahnya di Bukit Simongan sangat luas. Itu rumahnya Oei Tjie Sien, di sanalah Tiong Ham kecil tumbuh hingga dewasa,” ujarnya.

Dari situlah, kata Yongkie, jejak kejayaan keluarga Tiong Ham dimulai. Mula-mula, ayah Tiong Ham resah melihat banyaknya orang Tionghoa terkena pungutan pajak cukup besar tiap kali bersembahyang di sebuah kelenteng depan Simongan (Kelenteng Sam Poo Kong).

Dia lalu punya ambisi untuk menguasai lahan-lahan milik warga Yahudi yang bertebaran di situ.

“Dulunya kawasan yang sekarang jadi Sam Poo Kong itu rumahnya orang-orang Yahudi. Orang China yang pergi ke sana mesti bayar pajak. Kan jadi males to. Untuk menghindari hal itu, maka dibuat patung Sam Poo Kong dan ditaruh di Tay Kak Sie Gang Lombok. Melihat hal tersebut, terus Tjie Sien terobsesi membeli semua tanah Yahudi. Impiannya jadi kenyataan tatkala bisnisnya sukses,” kata Yongkie.

Maraknya pembelian tanah Yahudi oleh Tjie Sien pun berdampak positif terhadap kelangsungan hidup orang Tionghoa pada waktu itu. “Mereka tidak perlu lagi bayar pajak kalau mau sembahyang di kelenteng,” terang Yongkie.

Seiring berjalannya waktu, Tiong Ham kemudian meneruskan bakat bisnis ayahnya. Namun, ia memilih berjualan opium, bisnis yang kini dikenal dengan perdagangan narkotika.

Tak cuma jualan narkoba. Tiong Ham juga punya bisnis properti dan pabrik gula, sampai bisnis kapal internasional. “Keberhasilan bisnisnya itu tidak lepas dari kemudahannya dapat izin-izin pabrik setelah dia berkawan baik dengan Gubernur Batavia di masa kolonial Belanda,” tuturnya.

Kondisi Istana Simongan yang kini terbengkalai bahkan digunakan untuk kandang ayam. (Foto: metrojateng.com)

Istana yang Kini Tak Terurus

Kemegahan nama Tiong Ham mungkin saat ini sudah mulai pudar, dan hanya tersisa di ingatan para orang-orang tua. Namun sisa-sisa kejayaanya masih terlihat hingga saat ini. Yongkie Tio menyebut, pohon-pohon trembesi yang dulu banyak ditanam di sepanjang Jalan Gajahmada hingga Jalan Pahlawan menjadi saksi sejarah perkembangan bisnis Tiong Ham.

Rumah masa kecil Tiong Ham hingga kini masih ada. Istana tersebut berada di Kampung Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat. Namun kini rumah tersebut seolah tak terurus, kemegahannya pun mulai pudar.

Rumah itu beberapa kali beralih fungsi, mulai dari asrama tentara, dan kini dihuni oleh 11 keluarga yang tinggal di lantai satu sejak tahun 1960-an.

Rumah ini terbengkalai. Temboknya kusam, sebagian sudah keropos, atapnya bocor kala hujan. Sebagian dari rumah itu dijadikan sebagai kandang ayam, sebagai upaya pertahanan hidup penghuninya.

Baca : Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

Menurut Mbah Warni, salah satu penghuni rumah gedong ini menyebut jika semula ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan.

“Suami saya asli Ponorogo. Kemudian tahun 1960 disuruh tinggal di rumah ini. Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,” tutur Mbah Warni dikutip dari metrojateng.com.

Rumah itu mempunyai nilai sejarah yang sangat besar. Beberapa kali warga mencoba menawar beberapa bagian yang ada di rumah tersebut. Seperti kusen jendela ada yang mau membeloi seharga Rp 700 ribu, hingga kayu atap yang sempat ditawar orang mencapai Rp 2 miliar.

Keturunan Tiong Ham pernah beberapa kali mengunjungi rumah itu. Termasuk Pemkot Semarang yang pernah meminta para penghuninya pindah untuk memanfaatkan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

Editor : Ali Muntoha

 

Santri Penghafal Alquran Diprioritaskan dalam Penerimaan Anggota Polri

MuriaNewsCom, Kebumen – Polri tahun 2018 ini kembali membuka seleksi untuk menjaring calon polisi baru. Kuota yang disiapkan cukup banyak, ribuan kursi disiapkan baik untuk tamtama, bintara maupun Akademi Kepolisian (Akpol).

Pendaftaran penerimaan anggota Polri sudah dimulai 26 Maret 2018 dan akan berakhir pada 11 April 2018. Dalam pelaksanaan penerimaan kali ini Polri memastikan tak akan ada KKN dan prosesnya akan dilaksanakan secara transparan.

Tak hanya itu, Polri juga akan memberi prioritas bagi para hafidz atau santri penghafal Alquran. Pendaftar yang bisa menunjukkan kemampuan menghafal Alquran akan mempunyai nilai khusus.

Hal ini ditegaskan Kapolres Kebumen AKBP Arief Bahtiar melalui Kanit Binmas Aiptu Marina, saat menyosialisasikan penerimaan Polri tahun 2018.

“Bagi yang anaknya hafal Alquran, bisa ikut seleksi. Karena saat ini penghafal Alquran tengah menjadi prioritas tersendiri saat seleksi penerimaan Polri, dengan syarat dan ketentuan berlaku,” katanya.

Meski mendapat prioritas, namun para hafidz yang mendaftar tetap harus mengikuti tahapan dan proses secara umum. Bedanya mereka mempunyai nilai khusus, yang menjadi pertimbangan panitia dalam menentukan peserta yang lolos.

Tak hanya hafidz Alquran, calon peserta seleksi yang memiliki prestasi baik akademik, olahraga, maupun paskibra juga termasuk dalam kriteria ini.

Sebelumnya, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono memastikan proses seleksi penerimaan anggota Polri tahun 2018 ini akan berlangsung secara bersih dan transparan. Pihaknya tak akan menolerir aksi titip atau sogok untuk bisa masuk menjadi anggota polisi.

Baca juga : 

Menurutnya, seluruh panitia yang terlibat dalam seleksi penerimaan anggota Polri tahun 2018 di tingkat Polda Jateng, telah menyatakan ikrar untuk bersih, transparan, akuntabel dan humanis.

Menurut dia, untuk mendapatkan calon polisi yang berintegritas dan berkualitas, maka proses seleksinya harus bersih dan transparan. “Tidak ada lagi titip menitip,” katanya.

Ia memastikan, dalam proses penerimaan calon anggota Polri baik Bintara maupun Akpol tidak ada istilah titip menitip atau membayar karena dipastikan prosesnya gratis. “Rekruitmen calon anggota polri tidak dipungut biaya, tidak ada katabelece atau titip menitip,” kata Condro.

Bahkan menurut dia, jika ada panitia yang melakukan kecurangan maka akan langsung dipecat. Ia pun meminta warga yang mengetahui ada panitia curang untuk langsung melaporkan.

“Siapa yang masuk bintara polisi bayar, bayar ke siapa, laporkan ke saya. Kalau terbukti langsung saya pecat,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ini Solusi Agar Perintasan Kereta di Desa Sambung Grobogan Tidak Ditutup

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah ditutup total, namun akses jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong masih dimungkinkan untuk dibuka lagi. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengajukan permohonan pada instansi terkait dengan konsekuensi siap membuat palang pintu swadaya di titik perlintasan sebidang tersebut.

“Ruas jalan yang ditutup itu statusnya adalah milik kabupaten sehingga masih memungkinkan untuk dibuka lagi. Namun, kalau menghendaki dibuka lagi harus menyiapkan palang pintu dan menempatkan penjaga,” kata Ansori, warga Godong, Jumat (30/3/2018).

Ia mengambil contoh perlintasan sebidang di Desa Katong, Kecamatan Toroh yang sebelumnya akan ditutup setelah terjadi kecelakaan dilokasi itu. Namun, penutupan perlintasan itu akhirnya tidak jadi dilakukan. Soalnya, pihak desa bersedia membuat palang pintu secara swadaya dan menempatkan penjaga selama 24 jam.

“Perlintasan di Desa Katong ada pada ruas jalan antar dusun. Tetap sampai sekarang masih dibuka karena sudah ada palang dan penjaganya. Hal itu bisa dijadikan contoh kalau perlintasan sebidang ingin tetap dibuka,” sambungnya.

Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto menyatakan, pembuatan palang pintu sederhana di Desa Katong merupakan sebuah upaya agar perlintasan sebidang itu tidak ditutup. Hal itu dilakukan warga karena perlintasan itu dinilai jadi akses penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

“Lokasi perlintasan memang dinilai rawan kecelakaan karena tidak ada penjaga dan palang pintunya. Karena alasan ini, perlintasan itu rencananya akan ditutup. Namun, warga berupaya membuat palang secara swadaya dan menempatkan penjaga agar perlintasan itu tidak ditutup dan bahkan bisa dilegalkan,” kata mantan kabag humas itu.

Agung menyatakan, pihaknya akan menjadikan pembuatan palang swadaya di Katong sebagai percontohan bagi desa lainnya yang wilayahnya juga terdapat perlintasan sebidang.

Di tempat terpisah, Sekda Grobogan Moh Sumarsono menyatakan, upaya penutupan perlintasan sebidang di Grobogan yang dilewati jalur kereta api masih bisa dihindari. Caranya, pihak desa yang wilayahnya terdapat perlintasan sebidang harus mengalokasikan anggaran pengamanan melalui APBDes.

“Mulai tahun 2018, sudah ada peraturan bupati yang terkait pengelolaan perlintasan sebidang. Untuk pengamanan perlintasan tanpa palang itu bisa dianggarkan lewat APBDes,” katanya.

Menurut Sumarsono, dana yang dianggarkan lewat APBDes nantinya bisa digunakan untuk mendukung pengamanan perlintasan. Bentuknya bisa dilakukan dengan membuat palang pintu dan membayar penjaganya.

“Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan pada perlintasan tanpa palang pintu atau penjaga. Salah satu langkah pencegahan adalah membuat palang dan ada penjaga. Kalau tidak maka perlintasan itu akan ditutup,” tegasnya.

Editor : Supriyadi

2 Warga Srobyong Jepara Tewas Terseret Ombak Saat Mandi di Pantai Blebak

MuriaNewsCom, Jepara – Diki (20) dan Amroy Fidoha Jauhari (16) tenggelam di Pantai Blebak, Dusun Sekuro RT 34/7 Kecamatan Mlonggo, Jumat (30/3/2018) petang. Tenggelam pada sekitar pukul 17.45 WIB, korban ditemukan 19.00 WIB, dalam kondisi tak bernyawa.

Hal itu dikatakan oleh Kapolsek Mlonggo AKP Maryono. Menurutnya, keduanya merupakan warga Desa Srobyong RT 5 RW 1, Kecamatan Mlonggo. Diki adalah seorang pekerja swasta sedangkan Amroy merupakan pelajar.

Menurut Maryono, kedua korban saat itu berenang bersama dua orang lain, yakni Bima dan Rendi Rahul Julianto. Keduanya adalah warga desa Srobyong dan masih berstatus sebagai pelajar.

“Kronologi kejadian bermula ketika dua korban mandi di laut bersama dua orang saksi. Kemudian pada sekitar pukul 17.30 WIB, kedua korban terseret arus laut. Berusaha menolong, namun saksi tak dapat melakukannya karena arus yang terlalu kuat,” jelasnya.

Kedua saksi akhirnya meminta tolong kepada warga sekitar dan melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Mlonggo. Nahas, keduanya ditemukan tewas.

“Keduanya ditemukan secara terpisah. Korban pertama atas nama Amroy ditemukan sekitar pukul 19.10 WIB dan korban kedua ditemukan sekitar pukul 19.13 WIB,” urainya.

Berdasarkan pemeriksaan visum yang dilakukan oleh dr. Itut Anggraini, penyebab kematian murni karena tenggelam. Pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan.

Editor: Supriyadi

Anggaran Pemeliharaan Jalan di Kudus Tahun 2018 Capai Rp 5 Miliar

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus mengalokasikan dana infrastruktur jalan mencapai Rp 5 miliar, di tahun 2018. Tidak hanya untuk jalan saja, dana itupun akan digunakan untuk pemeliharaan jembatan hingga pengairan.

Pada minggu ini, beberapa ruas jalan di Kota Kudus mendapatkan giliran diperbaiki. Di antaranya di Jl A.Yani, HM Basuno dan Jl dr Ramlan.

Adapun, panjang ruas jalan yang diperbaiki memiliki dimensi yang berbeda. Jl A. Yani memiliki panjang 778 meter dengan lebar 4,5 meter, Jl dr. Ramlan memiliki panjang 250 meter dengan lebar 8 meter. Sedangkan, Jl HM Basuno memiliki tiga ruas yang memiliki panjang masing-masing 50 meter, dengan lebar yang berbeda-beda, dua ruas selebar 6,25 meter dan satu ruas 6,40 meter.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Samani Intakoris mengatakan, tiga jalan tersebut merupakan area penting bagi lalu lintas warga. Jalan Ahmad Yani menurutnya, merupakan akses utama menuju pusat kota. Sedangkan di Jl dr. Ramlan dan HM Basuno terdapat banyak lubang.

“Perbaikan dilakukan dari akhir pekan lalu. Perbaikan tidak pernah tuntas, karena setiap ada kerusakan langsung kami coba perbaiki,” tuturnya.

Ia mengatakan, kebijakan untuk melakukan pemeliharaan jalan bukan saja di ruas jalan kabupaten. Bahkan untuk ruas jalan nasional pun turut disasar untuk diperbaiki.

“Pertimbangan ini (perbaikan jalan nasional) dilakukan karena kami sudah berkoordinasi dengan instansi terkait,” urainya.

Editor: Supriyadi

Gus Yasin Janjikan Dana Rp 331 M untuk Guru Madin dan Pesantren

MuriaNewsCom, Solo – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Ganjar Pranowo-Taj Yasin kembali menegaskan keberpihakan mereka pada madrasah diniah (madin) dan pondok pesantren. Komitmen itu akan ditandai dengan program kesejahteraan guru madin, TPQ dan ponpes.

Taj Yasin menyatakan, pihaknya akan menyiapkan dana sebesar Rp 331 miliar untuk program ini. Menurutnya, program itu akan langsung dimasukkan dalam APBD Pemprov Jateng 2019 atau setelah dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur.

Gus Yasin menyebut, program kesejahteraan guru di sejumlah lembaga pendidikan Islam sudah diperhitungkan secara matang. Pihaknya menghitung secara rinci, mempertimbangkan jumlah guru dan kekuatan anggaran Pemprov Jateng.

“Kami akan siapkan dana dalam APBD untuk madin dan pesantren. Tepatnya Rp 331 miliar,” katanya, di Konsolidasi Pemenangan Ganjar-Yasin DPC PPP se-Solo Raya di Hotel Sahid,Surakarta, Jumat (30/3/2018).

Dalam membuat program ini pihaknya sudah berdiskusi dengan pakar hukum tata negara. Sebab selama ini untuk lembaga pendidikan Islam sudah menjadi kewenangan Kementerian Agama.

Maka ketika Pemprov Jateng akan memberikan bantuan, harus dicarikan program yang cocok dan tidak menyalahi ketentuan.

“Kami sudah  memanggil dan mengajak musyawarah pakar hukum tata negara. Bertanyan boleh gak ini dibiayai pemerintah daerah? Alhamdulillah semua sepakat bisa dibiayai pemerintah daerah,” ujarnya.

Selain itu, politisi muda PPP itu juga  memikirkan santri-santri dan anak-anak penghafal kitab suci Alquran. Pihaknya sangat mengapresiasi para penghafal Alquran.

Dalam konsolidasi itu, Gus Yasin berjanji memikirkan para penghafal alquran. Ia sering mendengar penghargaan untum siswa beprestasi menonjol di sekolah formal,  tapi perhatian untuk penghafal Quran masih kurang.

“Pada 2109  insyaallah akan kami pikirkan (para santri atau siswa penghafal Alqrua ) dan bantu beasiswa,” tuturnya.

Ia menyatakan bahwa PPP adalah partai yang memikirkan pendidikan keagamaan. Ia ingin seluruh kader PPP menjunjung kembali ke masjid waktu maghrib untuk mengaji bersama-sama. Hal itu merupakan salah satu cara mendidik karakter masyarakat Jawa Tengah.

Ketua DPW PPP Jawa Tengah, Masrukhan Samsurie memyatakan PPP Solo Raya siap merapatkan barisan tidak sekadar memenangkan Ganjar-Yasin, tapi juga bertekad melawan black campaign seperti hoax.

“Jangan sampai kemenangan Ganjar-Yasin dinodai dengan cara-cara yang tidak ber martabat dan merusak persatuan bangsa,” ujarnya.

Ia mengajak semua kader dan Pimpinan PPP se Jateng untuk berusaha memenangkan Ganjar-Yasin dengan semangat menjaga persaudaraan dan menghargai perbedaan pilihan.

Editor : Ali Muntoha

Hendak Berziarah ke Makam Sunan Muria, Warga Jombang Meninggal Usai Shalat Subuh

MuriaNewsCom, Kudus – Karni (63) meninggal saat hendak berziarah ke Makam Sunan Muria, Kudus. Warga Desa Bugasur Kedalaman, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang-Jawa Timur,  itu meninggal sesaat setelah melakukan salat subuh, Jumat (30/3/2018).

Sutriani (40), pedagang di area terminal Colo, Kecamatan Dawe mengatakan, korban saat itu selesai melakukan salat subuh, di musala dekat terminal. Namun kemudian, tubuh korban mendadak lemas.

“Selesai salat subuh saya melihat dia yang terlihat lemas, kemudian 15 menit berselang, ia tidak sadarkan diri dan meninggal dunia,” kata dia.

Mengetahui hal itu, peziarah lain kemudian meminta pertolongan warga sekitar untuk melaporkannya kepada Polsek Dawe.

Aiptu Suratno KASPK Polsek Dawe mewakili Kapolsek Dawe AKP Suharyanto mengatakan, pihaknya telah melakukan olah TKP dan identifikasi terhadap korban. Polisi yang datang bersama dokter dari Puskesmas Dawe. Dari pemeriksaan medis, tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

“Tidak ada tanda penganiayaan pada tubuh korban,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Nyemprot Kacang, Petani di Sukorejo Grobogan Temukan Mayat Tanpa Identitas di Kebun Jati

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa penemuan mayat terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Jumat (30/3/2018). Mayat seorang lelaki tua itu ditemukan tergeletak di areal kebun jati sekitar pukul 07.00 WIB.

Mayat tersebut kali pertama ditemukan petani setempat yang bernama Sardi (50). Ceritanya, pagi itu Sardi sedang berada di kebun untuk menyemprot tanaman kacang.

Tidak lama setelah melakukan aktivitasnya, Sardi melihat ada sosok orang yang tergeletak di bawah pohon jati. Lokasi kebunnya dengan areal jati itu memang bergandengan.

Ketika diamati, sosok orang yang tergeletak itu tidak ada gerakan sama sekali. Merasa takut, Sardi kemudian mengabarkan peristiwa itu pada ketua RT dan warga lainnya.

Saat warga melakukan pengecekan, sosok orang yang tergeletak itu sudah dalam kondisi meninggal dunia. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Sosok mayat itu mengenakan celana panjang warna biru, kaos hitam bergaris dan rangkapan baju panjang warna hijau seperti seragam Hansip. Saat ditemukan, tidak ada identitas yang melekat pada tubuh korban.

Meski demikian, jati diri mayat itu akhirnya berhasil terungkap. Korban diketahui seorang pencari katak bernama Suroto, warga Desa Kunjeng, Kecamatan Gubug.

Pria berusia 70 tahun itu diketahui sudah meninggalkan rumah untuk mencari katak, sejak Rabu (28/3/2018) sekitar pukul 05.00 WIB.

“Sejak pamit pergi mau cari katak, korban tidak kunjung pulang. Pihak keluarga sudah berupaya mencari ke beberapa tempat tetapi tidak berhasil,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Maryoto.

Ia menjelaskan, dari pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan tanda kekerasan atau bekas penganiayaan pada tubuh korban. Diperkirakan korban meninggal karena serangan jatung. Hal itu diperkuat keterangan pihak keluarga yang menyebutkan kalau korban memang punya riwayat penyakit jantung.

Editor: Supriyadi

Duuh! 70 Ribu Warga Jateng Ternyata Gila

MuriaNewsCom, Semarang – Jumlah orang mengalami gangguan kejiwaan di Provinsi Jawa Tengah ternyata sangat banyak. Catatan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah, setidaknya 70 ribu warga di provinsi ini menderita skizofrenia atau kegilaan.

Dari 35 ribu warga Jawa Tengah, setiap 1.000 orang dua di antaranya diketahui mengalami kegilaan. Kepala Dinsos Jateng, Nur Hadi Amiyanto kepada wartawan menyebut, tingkat kegilaan puluhan ribu orang tersebut bervariasi.

Bentuk gangguan kejiwaannya juga beragam, mulai dari stres tanpa sebab, kesulitan tidur, hingga melihat orang kesususahan juga masuk kategori kegilaan. ”Kalau yang menderita gangguan kejiwaan ringan sampai berat ada satu dari empat penduduk,” katanya.

Ia mencontohkan di Kebumen, jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan cukup besar. Jumlahnya mencapai sekitar 3.000 orang. Di daerah ini pemerintah sudah menyiapkan rumah singgah untuk melakukan prawatan, meski kapasitasnya terbatas.

Menurut dia, dari 35 kabupaten/kota di Jateng tidak semuanya daerah memiliki rumah singgah untuk merawat orang gila. Keterbatasan fasilitas dan anggaran membuat penanganan terhadap orang gila tersebut kurang maksimal.

Ia menyebut, Pemprov Jateng hanya mempunyai 12 panti rehabilitasi dengan kapasitas 100 jiwa. Meskipun pada realitasnya, jumlah penderita yang dirawat di panti tersebut selalu melebihi dari kapasitas.

“Sesuai aturan, pemprov hanya merehabilitasi yang ditampung di panti. Yang di luar panti, menjadi kewajiban pemkab/pemkot setempat,” ujarnya.

Sesuai alur, petugas yangmenemukan orang gila memang harus ditampung terlebih dahulu di rumah singgah di tiap kabupaten/kota. Rumah singgah merupakan tempat awal pemeriksaan dan mengetahui kondisi mereka Setelah mendapatkan perawatan pertama, mereka yang sadar bisa dikembalikan ke keluarga.

Dengan catatan mereka harus diberikan perawatan dan obat secara rutin. Namun jika kondisi mereka benar-benar gila, maka dikirim ke panti milik provinsi. ”Kenyataannya, tak semua pemerintah kabupaten/ kota memiliki rumah singgah. Hanya Kebumen,” terangnya.

Untuk melakukan perawatan kepada orang gila diakuinya tidak mudah. Pasalnya, selain memberikan obat dan kebersihan, petugas juga harus memperhatikan kebutuhan biologis para penderita.

Nur Hadi menyebut, meski gila namun mereka tetap mempunyai dan membutuhkan kebutuhan biologis. Oleh karenanya, petugas selalu menyuntikkan obat KB secara reguler pada penderita perempuan.

Editor : Ali Muntoha

Talud Sungai Longsor, 5 Rumah Warga di Sambongwangan Blora Terancam Roboh

MuriaNewsCom, Blora – Bencana longsor yang menimpa talud sungai Butbanyu di Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung perlu mendapat penanganan segera. Ini lantaran, tingkat longsoran yang terjadi sejak beberapa pekan lalu makin bertambah parah.

Bahkan, talud longsor akibat abrasi sungai saat ini sudah mengancam pemukiman warga. Sedikitnya, sudah ada lima rumah warga yang terdampak karena lokasinya sangat dekat dengan titik longsoran.

Rumah yang terangcam masing-masing milik Suseno (50), Ralim (50), Sawit (45), Karmin (55), dan Yudi Hartono (50). Kelima rumah yang lokasinya berada di Dusun Butbanyu itu tinggal berjarak beberapa meter saja dari titik longsor.

“Hari Rabu kemarin, sudah ada petugas dari BPBD Blora yang mengecek kondisi bencana longsor. Kami berharap, longsornya talud segera ditangani karena sudah mendekati kawasan perkampungan,” kata sejumlah warga setempat.

Kondisi longsornya talud sungai memang terlihat sudah parah. Panjang longsoran mencapai 200 meter, tinggi 15 meter dan lebarnya berkisar 15 sampai dengan 20 meter.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Blora Hanung Murdaka menyatakan, pihaknya sudah melakukan inventarisasi dan identifikasi di lokasi bencana. Secara keseluruhan, ada 25 rumah yang bisa terdampak longsoran jika tidak segera ditangani. Untuk penanganan longsor, ada dua usulan yang akan disampaikan ke DPU Blora, selaku SKPD teknis.

Usulan yang disampaikan adalah melakukan normalisasi sungai. Adapun caranya bisa dilakukan dengan penyudetan sungai untuk pelurusan alur. Satu lagi dengan cara pembangunan bronjong batu sehingga pelurusan alur sungai akan terjadi secara alami.

Editor : Supriyadi

Ganjar dan Ida Janjikan Bantu Bocah yang Wajahnya Dimakan Kanker dan Tumor

MuriaNewsCom, Semarang – Huda Nur Rosyid (5) bocah dari Batang yang wajah dan kepalanya rusak terkena kanker dan matanya kena tumor, kini mulai dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang. Perkembangan psikologis bocah itu mengalami peningkatan.

Orang tua bocah itu Ruslan Abdul Gani (34) dan Patimah (29) mengaku cukup senang dengan banyaknya pihak yang perhatian pada anaknya. Terlihat dua kontestan pada Pilgub Jateng, sama-sama memberi perhatian pada anaknya.

Setelah beberapa waktu lalu Calon Wakil Gubernur Jateng Ida Fauziyah mengunjungi bocah ini di rumahnya di Desa Denasri Kulon RT 02 RW 04, Kabupaten Batang, dan menjanjikan akan memberi bantuan, Jumat (29/3/2018) gilirian Calon Gubernur (Cagub) Ganjar Pranowo yang menjenguk.

Ganjar menemui bocah ini yang tengah dirawat di Ruang Anak Gedung Rajawali RSUP dr Kariadi Semarang. Pria berambut putih itu tak menyangka mendapat sambutan antusias dari anak yang sekujur muka dan kepalanya menghitam itu.

Bersama isterinya, Siti Atikoh, Ganjar berbincang dengan orang tua Huda. Sementara orang-orang membicarakan penyakitnya yang langka, Huda hanya diam di atas pangkuan ibunya.

Dari pengakuan Ruslan, anaknya menderita penyakit tersebut sejak usia empat bulan. “Anak saya lahir normal. Tapi sejak umur 4 bulan, muncul luka di bagian pipinya. Hingga meluas seperti saat ini,” kata Ruslan.

Semula Ruslan mengira luka pipi itu biasa saja. Ternyata kian lama malah menjalar ke seluruh wajah dan leher anaknya. Merasa gatal luar biasa, Huda menggaruknya hingga mengakibatkan luka terus melebar. Akhirnya dokter memvonis Huda terkena kanker.

Ketika upaya pengobatan tak juga membuahkan hasil, mata Huda mulai memerah. Belakangan dokter mendiagnosis mata Huda terkena tumor. Dari mata kanan, kemudian menjalar ke mata kirinya.

Kini kondisi kedua mata Huda semakin parah. Bagian bola mata huda nampak memerah. Tidak heran bila Huda kerap menangis, karena menahan rasa sakit di bagian bola mata dan wajahnya yang gatal-gatal.

Ruslan bersyukur kini semakin banyak yang perhatian pada anaknya. Sebelumnya, meski biaya pengobatan sudah ditanggung BPJS, namun pekerja sales makanan ringan itu merasa keberatan dengan biaya hidup di rumah sakit dan ongkos transportasi.

Sementara isterinya, Patimah, tidak bekerja. Perempuan tuna wicara itu setiap saat hanya di rumah menjaga Huda.

Dari penuturan dokter, kondisi Huda masih terus dipantau. Senin pekan depan, dokter akan mengambil sampel kulit dan mata untuk diteliti detil penyakitnya.

“Mudah-mudahan Senin besok sudah bisa diketahui penyakitnya dan tindakan selanjutnya kita serahkan dokter,” kata Ganjar.

Baca : Derita Bocah 5 Tahun di Batang yang Wajahnya Dimakan Kanker dan Tumor

Kepada pihak RSUP dr Kariadi, Ganjar menyampaikan agar penanganan dilakukan seintensif mungkin. Ia meminta jika ada  biaya perawatan yang belum dicover BPJS agar dikomunikasikan kepadanya.

Ganjar juga menyampaikan untuk menanggung biaya hidup orang tua Huda selama menunggui di rumah sakit. “Iya kalau BPJS ada, yang mungkin kita coba bantu adalah harian bapak ibunya selama menunggui,” katanya.

Ketika Ganjar berpamitan, Huda kembali menyodorkan tangannnya meminta salaman. Bahkan sampai dua kali. Anak yang belum bisa bicara itu melambaikan tangannya ketika Ganjar berjalan menuju pintu keluar kamar perawatan.

Sebelumnya Ida Fauziyah, cawagub yang berpasangan dengan Sudirman Said juga menjanjikan akan membantu perawatan bocah malang tersebut. Ida menjanjikan akan membantu agar tindakan operasi dan penyembuhan Huda segera dilakukan.

“Nanti ada teman-teman dari Batang dan Semarang yang akan berkoordinasi membantu pengobatannya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Bikin Ribet, Warga Minta Penutupan Jalan di Desa Sambung Grobogan Dibongkar

MuriaNewsCom, GroboganDampak penutupan perlintasan sebidang di Desa Sambung, Kecamatan Godong sejak empat hari lalu makin dirasakan warga sekitar. Ini lantaran, penutupan perlintasan yang menyebabkan aktivitas warga menjadi terhambat.

“Waduh, jalannya kok dipasangi portal. Saya harus lewat mana, ya?” tanya Setyowati, warga dari Kecamatan Gubug yang hendak ke Puskesmas Godong II, Kamis (29/3/2018).

Puskesmas yang dituju pengendara motor itu berada di Desa Sambung. Jaraknya sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan yang ditutup pilar besi itu.

Sejumlah warga dari luar Desa Sambung juga masih banyak yang kecele saat lewat di situ. Soalnya, mereka tidak tahu kalau perlintasan sebidang yang dilewati jalur kereta api tersebut sudah ditutup.

Lantaran jalan tertutup, warga harus menempuh jalur lain menyusuri jalan kampung hingga sampai jalan raya. Namun, kondisi jalan kampung ini relatif sempit dibandingkan ruas jalan yang ditutu. Hal ini cukup menyulitkan bagi warga yang menggunakan kendaran roda empat atau lebih.

Terkait dengan kondisi tersebut, warga meminta agar penutupan jalan dibatalkan dan pilar besi yang sudah terpasang dicabut lagi. Selain aktivitas warga terganggu, ruas jalan yang ada perlintasan sebidangnya tersebut statusnya adalah milik kabupaten yang kondisi jalannya sudah dicor dan lebar.

Baca Juga:

“Saya heran kok yang ditutup malah ruas jalan kabupaten. Di beberapa desa lainnya, perlintasan sebidang yang ditutup adalah jalan kecil atau jalan milik desa. Saya harap, jalan ini bisa diaktifkan lagi karena ada ratusan orang yang lewat tiap hari dari berbagai kecamatan,” cetus Ansori, warga setempat.

Posisi jalan di Desa Sambung ini memang sangat strategis. Jika menyusuri jalan ini ke arah utara sepanjang 5 km dari titik penutupan, akan menembus jalan raya Purwodadi-Semarang. Sedangkan 200 meter arah selatan akan bertemu dengan jalan raya Penawangan-Gubug yang biasanya dijadikan jalan alternatif jika jalur Purwodadi-Semarang terjadi kemacetan atau lonjakan kendaraan.

Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto saat dimintai komentarnya menyatakan, kewenangan penutupan jalan ada pada Kementerian Perhubungan. Pihaknya, tidak mendapat pemberitahuan saat dilakukan penutupan.

Penutupan perlintasan sebidang pada ruas jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong memang sudah jadi usulan pihak desa setempat. Jumlah perlintasan di Desa Sambung ada dua titik. Yakni, pada KM 39 dan KM 42.

“Dari data yang kita miliki, untuk perlintasan yang diusulkan ditutup oleh pihak desa adalah di titik KM 39. Sedangkan yang tetap dibuka di titik KM 42,” jelasnya.

Terkait usulan warga agar perlintasan sebidang itu dibuka lagi, Agung menegaskan, pihaknya akan menampung aspirasi tersebut. Ia menegaskan, pada tanggal 6 April mendatang kebetulan ada undangan rapat di Daop 4 Semarang.

“Nanti saya akan coba komunikasikan terkait penutupan perlintasan sebidang dalam kesempatan itu. Untuk ruas jalan yang ditutup memang statusnya milik kabupaten,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Respon Pertumbuhan Ekonomi , PLN Kudus Percepat Penyambungan Pelanggan Baru

MuriaNewsCom, Kudus – PT PLN (Persero) Area Kudus merespon perkembangan area industri baru di Eks Karisidenan Pati. Hal ini dibuktikan dengan percepatan penyambungan pelanggan tegangan menengah, di awal 2018 hingga kini yang telah mencapai 10.000 kilo Volt Ampere (kVA).

Manajer PT PLN (Persero) Area Kudus Darmadi mengatakan, area industri baru tersebar di beberapa titik. Satu di antaranya di daerah Mayong, Jepara dan menyebar dari Kudus hingga Cepu.

Sementara itu, hingga Februari 2018 sudah ada 8900 pelanggan baru, dengan pertumbuhan kwh jual, mencapai 12,24 persen. Adapun, rayon yang berkontribusi terhadap pertumbuhan tertinggi adalah Rembang, Jepara dan Kudus Kota.

Disamping itu, untuk mempercepat pelayanan penyambungan, ada program penyambungan melalui Account Executive dan pemberian konseling bagi pelanggan baru.

“Saat ini PLN Area Kudus telah bertransformasi menjadi perusahaan listrik yang mengutamakan kualitas pelayanan. Melalui Account Executive yang ada, PLN mampu menjadi konsultan bagi pelanggan maupun calon pelanggan. Selain memberikan kemudahan dalam memperoleh pasokan energi listrik, PLN Area Kudus juga memberikan pelayanan yang transparan sehingga diharapkan calon pelanggan tidak ada keraguan lagi dalam mengeluarkan investasi”, ujar Darmadi, Kamis (29/3/2018), dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Selain itu, saat ini tim jaringan juga sedang gencar melakukan perbaikan dan pemeliharaan sebagai bentuk preventif menjaga kehandalan pasokan listrik. Diharapkan dengan pemeliharaan rutin, pelanggan semakin yakin untuk menggunakan listrik PLN, tidak ada lagi yang menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

PLN pun siap memberikan konseling bagi pelanggan yang hendak beralih dari genset ke listrik PLN untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Editor: Supriyadi

3 Hari Menghilang, Kardi Ditemukan Tak Bernyawa di Perairan Pandangan Rembang

MuriaNewsCom, Rembang – Setelah tiga hari menghilang di lautan, Kardi (36) nelayan asal Desa Kragan RT 02 RW 03, Kecamatan Kragan, ditemukan tanpa nyawa. Jenazahnya berhasil ditemukan Tim SAR gabungan pada pukul 10.00 WIB, Kamis (29/3/2018).

“Korban ditemukan di perairan Pandangan Kabupaten Rembang dengan jarak dari bibir pantai lebih kurang empat nautical mile. Jenazahnya selanjutnya diserahkan kepada keluarga, untuk dimakamkan,” tutur Whisnu Yugo Utomo Koordinator Basarnas Pos SAR Jepara, dalam siaran pers yang diterima MuriaNewsCom.

Menurutnya, upaya pencarian melibatkan tim SAR gabungan. Terdiri dari Polsek Kragan, koramil Krangan, BPBD, Pos AL, Tagana, PMI, Banser, Dishub, KRI PATREM Rembang dan nelayan setempat.

Kardi sendiri dlaporkan menghilang di perairan Kragan, Rembang pada Selasa (27/3/2018). Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga, korban pergi melaut pada Selasa dinihari pukul 04.00 WIB. Namun, perahu yang digunakan korban ditemukan dalam keadaan kosong oleh nelayan lain, di Pantai Pandangan.

“Menurut keterangan dari keluarga, korban memiliki  riwayat penyakit epilepsi. Dimungkinkan epilepsi korban kambuh lalu jatuh dan tenggelam diperairan kragan.”tutur Whisnu.

Editor: Supriyadi

Polres Kudus Sterilisasi Gereja Jelang Hari Raya Paskah

MuriaNewsCom, Kudus – Hadapi perayaan Paskah, Polres Kudus sterilisasi gereja. Hal itu guna meminimalisir gangguan pada saat umat melakukan ibadah misa Tri Hari Suci.

Kepala Bagian Operasional Polres Kudus AKBP Tugiyanto menjelaskan. Ada puluhan gereja yang mendapatkan penjagaan dari personel polri.

“Jumlah polisi yang disiagakan seluruhnya mencapai 200 personel,” katanya, disela-sela sterilisasi di Gereja Santo Yohanes Evangelista, Jl Sunan Muria, Kudus Kamis (29/3/2018).

Tugiyanto menyebut, sterilisasi gereja dilakukan utamanya yang memiliki jemaat yang banyak. Selain menggunakan anjing pelacak, polisi juga menyiapkan pendeteksi logam atau metal detector.

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh, mulai dari altar, kursi umat hingga mimbar. “Kegiatan sterilisasi ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi jemaat yang melaksanakan ibadah. Kami berharap pada saatnya tidak ada ancaman.” urainya.

Ketua Wilayah Betlehem Gereja Santo Yohanes Evangelista Andreas Bambang Ruyanto mengatakan, jumlah jemaat di tempat tersebut mencapai 3500 orang. Ia mengatakan, kegiatan misa dimulai pada hari ini, hingga Minggu (1/4/2018).

Editor: Supriyadi