Paguyuban Ojek Menara Kudus Bakal Seragamkan Kendaraan

Pengguna jalan melintas di area Menara Kudus, Kamis, (8/12/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna jalan melintas di area Menara Kudus, Kamis, (8/12/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua Paguyuban Ojek Menara Kudus M Aris mengatakan, pihaknya sangat lega Bupati Kudus Musthofa masih memperbolehkan ojek beroperasi. Bahkan pihaknya menjamin akan memenuhi syarat dari bupati yang ditentukan agar tetap beroperasi.

“Kami mendukung keinginan pemkab untuk menata para ojek dan becak. Dan kami bersedia untuk ditata asalkan kami masih boleh beroperasi. Kami mengikuti bupati,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Kamis (8/12/2016).

Menurutnya, beberapa persyaratan bupati di antaranya, pengojek dan pengayuh becak harus tertib berlalu lintas di jalan raya. Pengojek dan pengayuh becak, tak diperbolehkan kebut-kebutan dan tidak boleh saling mendahului di jalan raya. “Jadi harus urut, jangan mengganggu pengguna jalan lain. Bahkan kami juga diminta untuk menyeragamkan kendaraan, dan itu bisa kami penuhi,” ujarnya.

Hanya, untuk jenis kendaraan masih belum diketahui karena belum ada pembahasan. Soal modal mendapat kendaran baru, juga belum diketahui lantaran harus ada pembahasan khusus. Tak hanya itu, menurut Aris, Bupati juga meminta agar paguyuban memberikan sanksi tegas kepada para anggota yang melanggar kesepakatan. Jika ada yang melanggar, hukuman yang diberikan tak tanggung-tanggung, melainkan langsung dikeluarkan. Jadi tidak hanya sekadar teguran saja.

Mengenai permintaan adanya relawan yang turut mengatur lalu lintas, saat terjadi kepadatan arus kendaraan, menurut Aris, pihaknya masih menunggu aturan dari Dishub. sebab tanpa adanya aturan, maka relawan akan diremehkan pihak lainnya. “Intinya kami siap, namun pemkab juga harus ada payung hukum dan menjalankan aturan pula,” tambahnya

Termasuk juga, lanjutnya, untuk mensterilkan kawasan sekitar Menara Kudus dari roda empat. Karena selain memicu kemacetan, jalan itu bisa digunakan para ojek dan becak untuk melintas.

Editor : Akrom Hazami

Para Awak Angkutan Menara Kudus Demo di Depan Kantor Pemkab

demo-alun

Para pendemo memadati depan pagar kantor Pendapa Pemkab Kudus, Selasa (12/6/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tak puas dengan aksi di Gedung DPRD, ratusan tukang ojek dan becak Menara Kudus melakukan long march ke pendapa pemkab setempat. Akibatnya, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus bagian utara sesak lantaran dipenuhi dengan becak dan juga kendaraan sepeda motor.

Aksi tersebut merupakan luapan kemarahan paguyuban tentang sikap pemerintah yang akan melarang mereka beroperasi dan menggantinya dengan mobil wisata. Kedatangan ke pendapa, dimaksudkan guna bertemu dengan Bupati Kudus Musthofa.

Ketua SPSI Kudus Wiyono mengatakan, pemerintah harusnya dapat mengakomodasi angkutan wisata tersebut.  Becak,dan dokar, khususnya, bisa menjadi ikon Kudus yang mengena bagi para peziarah di Sunan Kudus.

“Seharusnya bisa ditawar, mungkin dengan mengadakan lomba desain becak khusus peziarah. Itu merupakan hal baik bagi pemerintah di Kudus,” katanya saat audiensi dengan Bupati.

Sementara, Bupati Kudus Musthofa menyampaikan kalau pihaknya menyayangkan aksi tersebut. Melihat ratusan tukang ojek dan becak yang demo, maka mereka tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

“Harusnya cukup perwakilan, jadi yang lainnya masih bisa bekerja seperti biasanya. Tidak semuanya begini dengan tidak kerja. Kecuali kalau bupati susah ditemui dan seenaknya sendiri,” kata Musthofa.

Dia mengatakan, kalau mereka merupakan duta bagi Kudus bagi warga luar Kudus. Sehingga jika pelayanan buruk dan mengecewakan peziarah, maka Kudus yang akan kena masalah dan dicap jelek. Untuk itulah pemkab tidak ingin membiarkan hal tersebut, d iantaranya dengan melakukan penataan.

Hanya, Bupati juga memberikan kesempatan untuk tetap beroperasi. Dengan beberapa catatan. Di antarnya adalah guna harus mampu berperilaku serta bersikap baik dan memberikan layanan terbaik.

“Pertama, sarpras kendaran harus dipenuhi, mereka juga harus taat dan tertib lalu lintas yang berdampak pada nyaman pengguna jasa transportasi,” ungkapnya.

Selain itu, tentang tarif juga harus dijelaskan dan disepakati. Sebab banyak peziarah makam Sunan Kudus yang mengeluhkan mahalnya ongkos angkutan wisata. Pihaknya tidak melihat, apakah mereka asli Kudus ataukah luar Kudus. Hanya, jika masih bersedia bekerja di Kudus harus mau mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Itu merupakan syarat mutlak yang dipenuhi.

“Nanti akan dievaluasi oleh Dishubkominfo bersama Satlantas. Dan tugas SPSI adakah mengkordinir paguyuban agar dapat mentaati peraturan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, paguyuban juga menciptakan suasana yang aman dan nyaman. Di antaranya dengan membentuk relawan tertib berlalu lintas, yang mana dapat dilakukan bergantian.

Editor : Akrom Hazami

Ketua DPRD Kudus Bakal Panggil Dishubkominfo

Ketua DPRD Kudus Masan saat menemui perwakilan pagyuban ojek dan becak di kantor dewan setempat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ketua DPRD Kudus Masan saat menemui perwakilan pagyuban ojek dan becak di kantor dewan setempat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Masan bakal memanggil Dishubkominfo Kudus, terkait rencana penggantian becak dengan mobil wisata. Pemanggilan diagendakan secepatnya beserta dengan perwakilan paguyuban.

“Nanti akan kami panggil, bukan hanya saya dengan Dishub, namun pula dengan perwakilan masing-masing paguyuban. Jadi bisa dibicarakan dengan tuntas nanti,” katanya kepada paguyuban saat aksi.

Mengenai proses yang dilakukan oleh Dishub, kata Masan, bukanlah penggusuran, Melainkan sebuah penataan. Tapi jika penataan menimbulkan permasalahan, maka semua pihak harus dipertemuan.

Dia juga menjawab tentang perumusan APBD yang menganggarkan tentang mobil wisata. Dikatakan kalau penganggaran sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku sehingga tidak ada kesalahan dalam pembahasan hingga pengesahan.

“Kami tidak bisa membatalkan anggaran, yang bisa adalah dengan tidak menjalankan jika masyarakat menolak. Dan itu juga harus dievaluasi terlebih dahulu,” ujarnya.

Dia mengancam bakal mengusulkan mencopot kepala Dishubkominfo  jikalau ada permainan pungli di Krapyak. Hal itu sama dengan yang dilakukan kepada Satpol PP saat tidak tertib ketika menutup keberadaan karaoke di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Tukang Becak, Ojek dan Kusir Wisata Menara Berdemo di Depan Kantor DPRD Kudus

Para pendemo dari kalangan tukang becak, dokar, dan ojek kawasan Menara, di kantor DPRD Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para pendemo dari kalangan tukang becak, dokar, dan ojek kawasan Menara, di kantor DPRD Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan tukang becak unjuk rasa di kantor DPRD Kudus, Selasa (6/12/2016). Bahkan ratusan ojek dan juga dokar serta angkutan lain juga ikut andil dalam aksi tersebut.

Abdillah, salah satu anggota paguyuban becak mengatakan dia beserta ratusan temannya menolak keras kebijakan pelarangan becak dari area wisata Menara Kudus tersebut.

Dia juga mengungkapkan soal kabar jika becak kemungkinan hanya bekerja malam hari.  Yang dibagi dengan kalender genap dan ganjil. Pihaknya menolak lantaran dianggap memangkas penghasilan sebagai jasa angkutan peziarah Sunan Kudus.

“Apakah kalian mau jika gaji kalian dipangkas sebagian? Kami menolak dengan adanya kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Dia juga mengeluhkan soal lamanya lampu traffic yang ada di perempatan Jember. Bagi dia itu terlalu lama dan seharusnya dapat disesuaikan dengan kepadatan lalu lintas. Tidak seperti sekarang yang dianggap lampu merah terlalu lama dan hijau sangat singkat.

Ulung Suharto, Ketua Paguyuban Ojek Bakalan Krapyak mengatakan, kemacetan yang banyak muncul di daerah kawasan Menara diakui karena keberadaan ojek, becak dan angkutan lainnya. Namun itu bukanlah tanpa alasan, lantaran pihaknya menilai petugas tidak tegas dalam bertindak.

“Kami meminta daerah Menara ke utara dapat dikosongkan. Dengan demikian kami dapat melalui jalan tersebut saat kembali ke Krapyak. Dan itu tidak akan membuat macet di kawasan Jember,” katanya di hadapan pimpinan dewan.

Selain itu, dia juga mengungkapkan kalau petugas tidak selalu siaga di titik macet. Seperti perempatan Jember misalnya, yang membuat para anggota paguyuban menjadi tak sungkan saat melanggar lalu lintas.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Dukung Penataan Angkutan Menara

Penarik becak menungu penumpang di kawasan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Penarik becak menungu penumpang di kawasan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kudus mendukung upaya pemkab dalam hal penataan angkutan peziarah di kawasan Menara Kudus. Hal itu dianggap sebagai langkah penataan angkutan umum yang lebih baik lagi.

Ketua DPRD Kudus, Masan, mengatakan pihaknya mendukung rencana penataan angkutan wisata yang merupakan gagasan yang dimulai dari Bupati Kudus Musthofa ini. “Itu merupakan rencana bagus. Sebab nantinya bisa digunakan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan juga membuat peziarah lebih nyaman,” katanya singkat.

Senada dikatakan Sekretaris Komisi C DPRD Kudus Ahmad Fatkhul Aziz. Menurutnya, cara tersebut dapat membuat lalu lintas lebih nyaman. Itu merupakan terobosan yang dianggap bagus.

“Sebenarnya kewenangan terdapat dalam dinas yang menangani ini.  Namun kami dukung program dari pemerintah daerah Kudus,” ujarnya.

Dikatakan dengan pergantian angkutan wisata bakal mampu mengurangi kemacetan. Sebab dia melihat masih banyak keluhan dari masyarakat terkait keluhan yang muncul dari sektor angkutan peziarah makam Sunan Kudus.

Jika nantinya diganti, kata dia, maka dampak positif akan muncul dengan jalan yang agak tertata. Sebab lalu lalang ojek dan becak akan diganti dengan mobil wisata.

Hanya saja, dia juga mengatakan kalau penataan juga harusnya memerhatikan warga yang mengais rejeki di lokasi itu. Sehingga dia menganggap lebih pas kalau ada wacana ojek masih diperbolehkan beroperasi pada malam hari.

Diharapkan dengan adanya penataan tidak membuat ricuh satu sama lain. Sebab bagaimanapun penataan dilakukan untuk memperbaiki hal yang dirasa masih kurang bagus.

Editor : Akrom Hazami

Paguyuban Becak Krapyak : Beri Rp 20 Juta Per Jiwa Jika Ingin Usir Kami dari Sini

Sejumlah penarik becak yang biasa beroperasi di Menara Kudus menunggu penumpang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah penarik becak yang biasa beroperasi di Menara Kudus menunggu penumpang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Becak menjadi hal yang tidak diuntungkan dalam hal rencana penggusuran angkutan wisata Menara Kudus. Karena penarik becak rencananya akan dilarang beroperasi.

Muhaemin, Wakil Ketua Paguyuban Becak Bakalan Krapyak mengatakan,  pihaknya menolak keras kebijakan tersebut. Hal itu disebabkan mereka sudah lama menggantungkan nasib sebagai pengayuh becak.

“Mau bayar kami berapa dengan mengusir kami, kami ada 100 lebih tukang ojek, jika kami pergi dari sini boleh diganti dengan Rp 20 juta per becak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mengatakan kalau penghasilan sebagai becak memang tidaklah banyak. Rata-rata hanya mampu mengisi sekitar Rp 20 hingga Rp 30 ribu per hari. Jumlah itu dianggap lebih baik dibandingkan dengan dikasih uang beberapa juta lalu digusur.

Ia berharap pemerintah mampu memikirkan hal itu lagi. Sebab selama ini, kata dia, anggota paguyuban sudah mau ditata dengan baik. Sehingga tak ada alasan untuk meniadakan becak dari angkutan wisata.

“Kami mau makan apa jika diusir dari sini. Apa pemerintah tidak kasihan kepada kami sebagai warga kecil di Kudus ini?,” ungkapnya.

Tentang tindakan yang akan dilakukan, jelas paguyuban becak akan menolak kebijakan itu. Namun bentuk upaya yang akan dilakukan, hingga kini  masih belum ditemukan. Sebab pembahasan dari paguyuban becak juga belum dilakukan.

Selain itu, pihaknya tidak ingin anarkis dalam bertindak. Jika masih bisa dibicarakan dengan baik maka pihaknya menginginkan berbicara dengan cara yang baik.

Editor : Akrom Hazami

Pertengahan Bulan, Sosialisasi Ojek Menara Dilakukan

Tukang ojek Menara Kudus baru saja menurunkan peziarah Makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

Tukang ojek Menara Kudus baru saja menurunkan peziarah Makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Sosialisasi terkait digantinya transportasi peziarah Makam Sunan Kudus dengan mobil wisata, hingga kini masih belum dilaksanakan. Rencananya, sosialisasi baru akan dilaksanakan pada pertengahan Desember ini.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kudus Didik Sugiharto mengatakan, hingga kini memang belum ada sosialisasi terkait hal itu. Namun perwakilan ojek, dokar, dan becak sudah dipanggil untuk membicarakan hal tersebut. “Kami akan sosialisasikan dalam waktu dekat nanti. Paling tidak tiap perwakilan akan kami panggil, mulai dari ojek, becak dan juga dokar,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (1/12/2016).

Saat pemanggilan itu, pihaknya menjelaskan soal keberadaan angkutan wisata menara dan kelangsungan ojek dan becak yang ada di kawasan Menara Kudus. Selama ini, diakui kalau tidak ada retribusi dari para tukang ojek dan juga becak terkait pengelolaan Keuangan Daerah (PKD). Namun para tukang ojek ditarik retribusi parkir secara harian dengan jumlah Rp 1000. Selebihnya tidak ada pemasukan untuk kas daerah. 

“Kami tidak bisa menjalankannya jika tidak ada perda. Jadi tidak ada retribusi lain lain untuk ojek dan becak. Justru nanti dengan adanya mobil wisata malahan ada pemasukan PKD,” jelasnya

Dia menambahkan untuk awak ojek dimungkinkan masih tetap beroperasi pada malam hari. “Kami tidak menggusur mereka, namun kami hanya menatanya saja. Jadi kami carikan solusinya,” imbuhnya.

Ulung Suharto, Ketua Paguyuban Ojek Bakalan Krapyak membenarkan kalau pihaknya beserta paguyuban lain pernah dipanggil Dishubkominfo. Dan tuntutannya tetaplah sama yakni untuk mempertahankan keberadaan mereka sebagai tukang ojek. “Dulu kan perjanjiannya kami masih boleh beroperasi dengan adanya terminal ini. Jadi kami tidak ingin digusur,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Rencana Penggantian Angkutan Wisata Menara Belum Final

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggantian moda transportasi umum di wisata Menara Kudus masih terus dimatangkan. Pemkab Kudus melalui Dishubkominfo masih mempersiapkan skema lalu lintas, khususnya kawasan Menara.

Sebagaimana diketahui, pos pemberhentian peziarah yang dulu di bawah pohon beringin besar, kini sudah menjadi sebuah taman. Dengan demikian, Dishubkominfo dipaksa mencari lokasi lain yang dapat dengan mudah menampung mobil tersebut.

“Lokasi paling mudah ya itu, di jalan masuk peziarah atau lapak PKL Menara. Sama seperti tukang ojek dan juga becak yang kini menurunkan dan mengangkut penumpang,” kata Kabid LLAJ Dishubkominfo Kudus, Putut Sri Kuncoro, kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/11/2016).

Menurut dia, kondisi tersebut akan mengurangi badan jalan. Terlebih dengan jumlah kendaraan yang lebih dari satu. Hanya itu semua dianggap bisa untuk disiasati dengan cara menambah rambu lalu lintas

Selain itu, hal lainnya juga bisa ditambah dengan penyiagaan petugas yang khusus berjaga di kawasan Menara Kudus. Petugas tersebut juga dimaksudkan untuk mengatur angkutan umum yang datang. “Di sana juga dapat dijadikan sebagai tempat menunggu penumpang. Yang mana, peziarah yang hendak balik ke terminal bisa langsung menuju lokasi di mana mereka datang,” ungkapnya.

Soal arus lalu lintas dari terminal Krapyak dan juga halte, kata dia, tidak terlalu bermasalah. Sebaliknya, kebijakan itu justru membuat kawasan jalan semakin terkontrol dan lancar . Hal itu dapat diatur dengan memperbanyak rambu lalu lintas. Aturan demikian dianggap efektif untuk diterapkan guna mengatur pengguna jalan di kawasan yang kerap padat tersebut.

“Sebenarnya ini belum final, sebab persiapan masih dilakukan. Dan jika nanti jadi dan, masih membutuhkan waktu lagi untuk menyiapkan rambu dan juga memasangnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami