Genjot Ekonomi Daerah, Pemkab Jepara Benahi Infrastruktur Destinasi Wisata

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi (berpeci) saat meninjau hutan wisata Wana Pinus Setro yang berada di Desa Batealit, Kecamatan Batealit, Selasa (8/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mulai serius menggarap infrastruktur pendukung pariwisata. Tidak hanya wisata mainstream seperti pantai, wilayah pegunungan juga akan mendapatkan porsi serupa dalam pembangunan akses jalan. 

Seperti yang dilakukan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi, Selasa (8/8/2017), ia meninjau hutan wisata Wana Pinus Setro yang berada di Desa Batealit, Kecamatan Batealit. Menurutnya, lokasi hutan milik Perhutani cocok dikembangkan sebagai wisata alam. 

“Maka pembangunan infrastruktur menuju tempat yang berpotensi wisata seperti ini penting dilakukan. Dalam lima tahun ke depan untuk pembangunan infrastruktur menuju tempat yang memiliki potensi wisata akan kita percepat,” ujarnya.  

Ia berujar, untuk mengoptimalkan potensi alam di hutan pinus Batealit pihaknya akan bekerjasama dengan pihak Perhutani. Selain itu, dengan pelestarian hutan ini, bisa menjadi paru-paru bagi Kota Jepara dalam menghadapi pemanasan global, ungkap Dian. 

Politisi PDIP itu mengatakan, pariwisata merupakan denyut perekonomian kabupaten Jepara. Namun dalam pengembangannya, sektor infrastruktur mutlak dibenahi. 

“Pariwisata harus ditopang dengan bidang lain, satu di antaranya adalah infrastruktur. Sebab dengan infrastruktur yang baik tentu akan memudahkan pelancong lokal maupun mancanegara datang dan berkunjung ke lokasi wisata,” tutur dia.

Selain itu, Dian juga menyoroti pentingnya sumber  daya manusia dalam mendorong berkembangnya sektor pariwisata.

“Masyarakat juga penting untuk ditingkatkan kesadarannya dalam kepariwisataan. Berkembangnya kelompok masyarakat sadar wisata merupakan pelopor yang akan menyosialisasikan dan memromosikan sejumlah obyek wisata di daerah ini,” paparnya.

Editor: Supriyadi

 

Memagut Mentari ke Peraduan di Pantai Bondo

Suasana matahari tenggelam di Pantai Bondo Jepara yang begitu memikat hati. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bila berbicara wisata Jepara, pasti yang terbersit adalah pantai. Tentu saja, Kabupaten di utara Pulau Jawa ini memiliki deretan pantai yang menawan, dengan pasir putih dan ombak yang tenang. 

Oh iya, satu yang tak boleh terlewat adalah momen tenggelamnya matahari atau sunset. Satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmatinya, adalah Pantai Bondo atau pantai Ombak Mati, yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.

Pantai berpasir putih itu, bisa ditempuh dengan berkendara motor atau mobil. Bagi yang belum pernah ke lokasi itu, jangan takut karena sign board telah terpasang. Pantai Bondo sendiri berada di deretan obyek wisata serupa, yakni Pantai Pailus dan Pantai Empurancak.

Sebelum ke obyek wisata, pelancong akan dimanja pemandangan pedesaan, lengkap dengan sawah padi yang menghijau. Ketika hendak memasuki lokasi, pengunjung akan diminta membeli karcis masuk sebesar Rp 2500, per orang.

Saat Lebaran seperti ini, pantai ini tentu saja dipadati pelancong. Namun tenang, banyak spot untuk menatap sunset di ufuk barat. 

Pengunjung Pantai Bondo asyik bermain dan berenang saat matahari mulai tenggelam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Bila mentari belum ke peraduan, pelancong bisa menyewa kano, ban atau menunggang kuda. Untuk tarifnya lumayan terjangkau, sewa ban hanya dengan Rp 5000. Untuk berkano pelancong cukup merogoh Rp 50.000 untuk durasi sejam, sementara untuk 30 menit ditawarkan Rp 30 ribu. 

Bila hendak berkuda, sekali putaran dikenai tarif Rp 30.000. Jika lapar atau haus, namun tak membawa bekal silakan mampir di warung-warung yang tersedia. Tapi ingat, jangan segan untuk bertanya berapa harga jajanan sebelum membeli.

Kalau itu tak cukup, tentu saja pengunjung bisa menceburkan diri di laut. Airnya tak terlalu dalam, namun tentu saja harus berhati-hati. Pengelola tempat telah menetapkan batas aman dengan bendera merah.

Pengunjung bisa menikmati jasa berkuda saat berlibur di Pantai Bondo. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Waktu yang tepat jika ingin ber-sunset adalah sore hari. Lokasi pantai bisa ditempuh sekitar 60 menit hingga 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Jepara, bergantung pada kepadatan lalulintas. 

Catat waktunya, matahari mulai terbenam di Pantai Bondo mulai pukul 17.00. Di waktu tersebut, bolehlah sekadar duduk memandang ke ufuk, atau berswafoto. 

Seperti yang dilakukan oleh Andi, warga Tahunan-Jepara. Sepulang kerja, ia mengaku menyempatkan diri ke lokasi itu. Menenteng sebuah kamera digital, ia banyak mengabadikan foto-foto berlatar matahari yang tenggelam.

“Sengaja menyempatkan waktu datang ke sini setelah bekerja,” katanya, Kamis (29/6//2017) sore.

Di liburan Lebaran seperti ini, pantai tersebut kerap kali menjadi spot yang menarik untuk dikunjungi. Bahkan hingga malam pukul 21.00. 

“Hari pertama Lebaran, sore harinya sudah mulai meningkat kunjungannya. Perkiraannya nanti hingga kupatan pasti akan ramai,” ucap seorang penjaga parkir di lokasi tersebut. 

Yang perlu diingat, ketika mengunjungi pantai tersebut adalah tak menyampah dan tetap mendampingi keselamatan putra-putri yang dibawa.

Editor : Ali Muntoha

 

Lakukan Pungli, 6 Juru Parkir di Tempat Pariwisata Jepara Dicokok Polisi

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho melakukan interogasi kepada jukir yang lakukan pungli, di Mapolres Jepara, Kamis (29/6/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Diduga melakukan pungutan liar (pungli) parkir, enam juru parkir di obyek wisata pantai Bandengan, Empurancak dan Teluk Awur dicokok polisi. Mereka diketahui memanfaatkan momen libur lebaran, untuk mengeruk keuntungan dari jasa parkir ataupun penitipan kendaraan tanpa seizin resmi pemerintah daerah.Sulistyono (47) seorang operator penitipan mobil di Pantai Teluk Awur mengatakan, untuk momen lebaran, harga tiket parkir sebesar Rp 10 ribu. Sedangkan diwaktu normal, hanya sebesar Rp 5000. 

Kepada pewarta ia mengakui tiket penitipan mobil adalah cetakannya sendiri, bukan berasal dari pemerintah kabupaten ataupun kelurahan. Untuk momen lebaran kali ini, dirinya telah mencetak 10 bendel tiket, yang masing-masing berisi sekitar 100 lembar karcis. 

“Sudah tiga kali lebaran ini. Kalau sebelumnya kan belum seramai sekarang pantainya. Kalau uang dari parkir ini kami setorkan juga ke Kelurahan setiap bulan Rp 150 ribu,” kata dia.

Ia mengatakan, setiap kali masuk ke obyek wisata pantai tersebut, dikenai tiket masuk sebesar 1000 rupiah. Lalu jika membawa mobil, dikenai biaya tambahan sebesar Rp 10 ribu di hari Lebaran. Sementara untuk motor, tidak dikenai biaya parkir. Dengan besaran itu, ia mengaku sempat ada keluhan dari warga juga.

“Ya ada keluhan dari warga, biasanya Rp 5000 untuk penitipan, ini kok sampai Rp 10.000, tetapi tidak banyak. Kalau mobilnya rusak kami ya ikut bertanggungjawab kok, ikut membetulkan,” kilahnya. 

Sementara itu, pengelola parkir liar di Pantai Pasir Putih Bandengan Sukri menyebut, tarif penitipan mobilnya lebih ringan. Hanya saja, untuk momen lebaran, dikenai biaya pergundul.

“Kalau harga Rp 5000 itu per orang. Namun untuk harga tersebut kami juga memberikan kompensasi kepada lingkungan RW setempat,” akunya.

Sementara itu, Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho menyampaikan, keenam orang ini terbukti memungut tanpa izin resmi pemerintah daerah.

“Berdasarkan laporan dari masyarakat, bahwa telah terjadi tindakan pungli di tempat masuk wisata, yang tidak berdasarkan persetujuan pemerintah. Hasilnya pun tak disetorkan kepada pemerintah. Selanjutnya akan kita lakukan pemeriksaan berdasarkan ketentuan yang berlaku,” tegas Kapolres Jepara.

Dirinya juga mengimbau agar warga masyarakat tak enggan melapor, bila merasa menjadi korban pungli. Ia memberikan dua saluran pengaduan yakni lewat hotline dan media sosial.

“Silakan melapor melalui hotline Saber Pungli di 081229739081 atau melalui instagram @humas.resjepara. Silakan laporkan jika ada pungli, bila dimintai uang tanpa kejelasan, ataupun tiket tanpa cap atau dasar nomornya. Bisa direkam ataupun difoto. Tidak hanya terbatas pada tempat wisata, tapi pada saat rekam ktp atau apa saja,” pesan AKBP Yudianto.

Selain meminta keterangan pengelola parkir, polisi juga menyita uang hasil pungli sejumlah Rp 4.026.000, yang berasal dari ketiga obyek wisata tersebut. 

Editor: Supriyadi

Pemkab Jepara Akan Prioritaskan Pembangunan Berwawasan Pariwisata

Pantai Kartini Jepara. Kedepan, Pemkab Jepara bakal memprioritaskan pembangunan berwawasan pariwisata. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara akan berfokus pada pembangunan fasilitas pariwisata dan penunjangnya. Hal itu lantaran, kunjungan wisatawan tahun sebelumnya meningkat drastis. 

Plt Bupati Jepara Sholih memaparkan, ada kenaikan turis yang datang ke pesisir utara Jawa Tengah itu. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan untuk meningkatkan fasilitas yang menyangkut pariwisata. 

“Pada 2013 lalu Jepara dikunjungi 1,3 juta wisatawan domestik dan 14.417 wisatawan mancanegara (wisman). Sedangkan pada tahun 2016 lalu, jumlah itu meningkat menjadi 1,7 juta wisatawan domestik dan 21.288 wisman,” ujarnya, Rabu (26/4/2017). 

Dirinya mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan turis. Di antaranya ditetapkannya Karimunjawa sebagai satu dari empat destinasi utama di Jawa Tengah. Di samping itu, potensi pariwisata pesisir menjadi daya tarik tersendiri. 

Hal itu dengan garis pantai Jepara yang mencapai 82 kilometer. Dari panjang tersebut, 75 persen di antaranya berpasir putih. “Selain itu, masih ada potensi wisata lain berupa religi, sejarah, budaya, belanja dan wisata alam,” Kata Sholih. 

Dirinya menegaskan, Pemkab Jepara telah menetapkan enam strategi pengembangan pariwisata. Di antaranya pengembangan infrastruktur meliputi peningkatan jalan provinsi menjadi jalan nasional, peningkatan sarana dan prasarana di objek wisata, peningkatan promosi, peningkatan kapasitas SDM pariwisata dan penguatan kerjasama dengan stakeholder serta pemberdayaan masyarakat. 

Satu di antara upaya promosi wisata yang dilakukan adalah, keikutsertaan Jepara dalam Jawa Tengah Travel Mart (JTTM). 

“JTTM adalah kegiatan yang menawarkan sebuah konsep pertemuan bisnis yang dilakukan secara santai rekreatif, akan tetapi nonformal. Dengan konsep ini, diharapkan makin memudahkan buyer (pembeli) dan seller (penjual) di sektor wisata mendapatkan informasi dan menangkap peluang bisnis yang ada,” kata DPP Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Indonesi (ASPPI) Dhimas Herlambang.

Perlu diketahui, ajang JTTM telah diadakan tiga kali. Pada tahun keempat, ajang ini diadakan di tiga tempat yakni Jepara, Demak dan Kudus.

Editor : Kholistiono

Disparbud Jepara : Desa Wisata Perlu Bikin Paket Wisata

Pantai Bandengan. Salah satu potensi wisata yang dimiliki Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Jepara – Untuk meningkatkan pelayanan wisatawan yang berkunjung ke Jepara, desa wisata di Jepara diminta untuk paket wisata. Hal itu disampaikan Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Zamroni Listiaza.

Menurutnya, dengan adanya paket wisata, pengunjung akan lebih lengkap menikmati wisata di tempat yang dikunjunginya. Bukan hanya sekadar wisata alam atau sejarah, tetapi, wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas desa setempat.

“Misalkan saja di Desa Tempur,Kecamatan Keling. Di sana ada panorama alam. Nah, pengelola wisata harus bisa membuat paket wisata. Sehingga pengunjung tidak hanya menikmati alamnya saja, tetapi juga bisa menikmati kuliner khas tempur, cara menanam padi secara tradisional dan lainya,” katanya.

Dirinya menyatakan, setidaknya di Jepara ada sembilan desa yang mempunyai wisata yang menarik untuk bisa diekspos ke luar. Di antaranya yakni Desa Tempur,Kecamata Keling yang mempunyai wisata alam pegunungan, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji mempunyai wisata Gong Perdamaian, akar seribu dan rumah kaca. Kemudian ada Desa Bandengan yang mempunyai wisata pantai, Mulyoharjo mempunyai sentra patung, Petekeyan mempunyai sentra ukir, Troso mempunyai sentra tenun, Karimunjawa dan Kemojan juga mempunyai wisata alamnya berupa pantai.

“Dengam adanya paket wisata, secara otomastis para pengunjung akan bisa merasa teredukasi, bukan berwisata saja. Misalkan saja, di Plajan, itu menurut pengamatan sudah mulai memberikan paket wisata. Dengan cara seperti itu, akan bisa saling mendongkrak tempat lainnya yang belum dikenal oleh masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Desa Wisata di Jepara Diminta Buat Perdes Tentang Pariwisata

Gong Perdamaian yang terdapat di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Untuk meningkatkan pengelolaan pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara mengharapkan kepada desa wisata untuk membuat peraturan desa mengenai kepariwisataan.

Kabid Destinasi Pariwisata Disparbud Jepara Zamroni Listiaza mengatakan, saat ini pihak dinas mengadakan pembinaan kepada 9 desa yang sudah ditunjuk sebagai desa wisata. “Kesembilan desa itu yakni Desa Tempur, Kecamatan Keling, Desa Plajan,Kecamatan Pakis Aji, Bandengan dan Mulyoharjo Kecamatan Jepara, Petekeyan dan Teluk Awur, Kecamatan Tahunan, Desa Troso, Kecamatan Pecangaan serta Karimunjawa dan Kemojan, Kecamatan Karimunjawa,” kata Zamroni.

Menurutnya, sembilan desa itu mempunyai wisata yang menarik untuk bisa diekspos keluar. Di antaranya yakni Desa Tempur yang mempunyai wisata alam pegunungan, Desa Plajan mempunyai wisata Gong Perdamaian, akar seribu dan rumah kaca. Sedangkan Bandengan mempunyai wisata pantai, Mulyoharjo mempunyai sentra patung, Petekeyan mempunyai sentra ukir, Troso mempunyai sentra tenun kain, Karimunjawa dan Kemojan juga mempunyai wisata alamnya berupa pantai.

“Dengan adanya perdes, diharapkan bisa meningkatkan pada kelangsungan wisata. Yakni, nantinya pengelolaan dikerjakan secara bersama-sama dengan warga, kelompok sadar wisata(pokdarwis) atau elemen lainnya,” ungkapnya.

Dia menilai, selama ini, ketika wisata belum dikenal masyarakat luas, semua elemen masyarakat harus bisa bekerja sama untuk memperkenalkannya. “Misalkan saja, ketika tempat wisata masih sepi, biasanya jarang yang memberikan support. Tetapi, ketika sudah ramai dikunjungi orang, maka banyak yang berlomba-lomba mengakui bahwa itu merupakan kerja kerasnya. Untuk itu, pihak desa harus membuat perdes. Sehingga perdes itu nantinya bisa mengikut sertakan semua elemen , untuk sama-sama memperkenalkan wista kepada dunia luar,” ucapnya.

Dia menambahkan, dari perwakilan sembilan desa wisata tersebut, juga pernah diajak untuk studi banding ke luar daerah.”Tahun lalu kita juga mengajak pengelola desa wisata studi banding, di antaranya ke Telaga Sarangan Jawa Timur dan ke Yogyakarta.Diharapkan pengelola bisa saling berkoordinasi dengan elemen yang ada,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ganjar : Kembangkan Wisata di Jepara Dengan Hati dan Ide

Gubernur Ganjar Pranowo saat hadir dalam sarasehan Ngopi Bareng membahas tempat wisata di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Gubernur Ganjar Pranowo saat hadir dalam sarasehan Ngopi Bareng membahas tempat wisata di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir di sarasehan bertajuk Ngopi Bareng Ganjar dengan para pegiat wisata Jepara di halaman parkir pantai Bandengan, Kamis (6/10/2016) petang.

Dalam obrolannya, Ganjar meminta agar wisata di Jepara dikembangkan melalui hati dan ide yang kreatif. “Kembangkan wisata di Jepara ini melalui hati dan ide yang kreatif. Tidak mengandalkan tuntutan dan perbaikan infrastruktur saja,” kata Ganjar.

Ia mencontohkan salah satu daerah yang berhasil mengembangkan potensi wisata demikian, yakni di salah satu desa di wilayah NTB. Di sana, kata Ganjar, menguatkan karakter pedesaannya. Beberapa aktivitas masyarakat desa dijadikan objek wisata, seperti aktivitas mengaji di sore hari, panjat pohon kelapa dan beberapa aktivitas masyarakat desa lainnya.

“Semua aktivitas desa itu ditulis sedemikian rupa kemudian dipublikasikan dengan baik. Hasilnya luar biasa, mampu menarik banyak wisatawan asing. Sampai-sampai ketika wisatawan ikut kegiatan masyarakat desa itu diberi tarif yang mahal. Kemudian mewajibkan wisatawan mengenakan sarung, dan itu justru semakin menarik minat turis,” terang Ganjar.

Ia mengatakan, itu yang dimaksud menggunakan hati dan ide kreatif. Pikiran para turis itu justru banyak yang ingin berwisata di tempat dan suasana yang tenang, alami dan menyediakan kegiatan yang asing bagi mereka.

“Sekarang eranya tehnologi. Banyak sekali media sosial yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan promosi potensi wisata. Semuanya bisa dikemas dengan baik. Semisal aktivitas di pedesaan mengaji, itu bisa dipromosikan sedemikian rupa dengan visualisasi yang bagus. Itu justru bisa menarik minat wisatawan asing untuk datang,” jelasnya.

Selain memberikan masukan itu, Ganjar juga mendengarkan banyak keluhan dan gambaran mengenai potensi wisata di Kabupaten Jepara. Ganjar juga meminta agar wisata kuliner seperti kopi khas juga bisa dikembangkan melalui kemasan yang lebih menarik.

“Jepara ini menjadi salah satu dari empat daerah yang menjadi konsen saya dalam mengembangkan sektor pariwisata. Sebab Jepara memiliki Karimunjawa. Selain itu ada Borobudur dan Dieng. Saya harap ke depan dapat semakin maju dengan pesat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Waterpark Mororejo Jepara Dibuka Gubernur Ganjar

Pintu gerbang Jepara Waterpark yang resmi dibuka pada hari ini, Minggu (10/4/2016), bersamaan dengan HUT ke-467 Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

Pintu gerbang Jepara Waterpark yang resmi dibuka pada hari ini, Minggu (10/4/2016), bersamaan dengan HUT ke-467 Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara Ocean Park (JOP) dibuka secara resmi pada Minggu (10/4/2016) siang ini. Wahana bermain waterpark terbesar dan terlengkap di Jawa Tengah ini dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Ganjar dijadwalkan hadir setelah mengunjungi Pendapa Kabupaten Jepara. Selain bakal dihadiri Ganjar, pembukaan JOP yang terletak di Desa Mororejo Kecamatan Mlonggo, ini juga akan dimeriahkan artis ibu kota Cita Citata.

Dari pantauan MuriaNewsCom, menjelang dimulainya acara pembukaan dan peresmian ini. Sejumlah warga dari berbagai daerah telah hadir. Nampak area parkir telah dipenuhi kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Selain warga, aparat keamanan baik dari internal JOP maupun dari pihak kepolisian Polres Jepara juga telah berjaga-jaga. Sementara panggung utama yang akan digunakan untuk acara ini terletak di depan pintu masuk ke dalam wahana bermain.

JOP ini merupakan wisata bahari terlengkap, dengan desain bangunan yang mengusung tema istana Rusia dan Mediterania pada tower seluncurnya. Sehingga membuat tampak menarik dibanding dengan wisata bahari lainnya.

”Kami miliki 36 slide watermark. Lahan yang kami gunakan sekitar 11 hektar, dengan dilengkapi berbagai fasilitas dan wahana bermain lainnya,” ujar CEO JOP, Andy Nur Prasetyo.

Menurutnya, beberapa wahana bermain yang tersedia adalah gokart circuit, paintball, outbond area, olympic pool, bom-bom car, flying elephant, Komidi putar, bianglala, mini train, kora-kora. Selain itu juga ada wahana bermain di laut yakni banana boat, jet ski, kapal tradisional, kapal mesin dan water Jetpack.

Editor: Merie

Wahana Wisata Air Terlengkap di Jawa Tengah Bakal Hadir di Jepara

Pekerja masih melakukan aktivitasnya di salah satu seluncuran air di Jepara Ocean Park (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Pekerja masih melakukan aktivitasnya di salah satu seluncuran air di Jepara Ocean Park (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara yang selama ini terkenal sebagai tempat wisata alam yang indah, kali ini bakal hadir tempat wisata buatan berupa water park yang dipadukan dengan keindahan wisata pantai. Ya, yang bakal hadir adalah wahana air Jepara Ocean Park (JOP), yang digadang-gadang menjadi tempat wisata air terlengkap di Jawa Tengah.

CEO JOP Andy Nur Prasetio mengatakan, secara resmi tempat wisata ini bakal dilaunching pada 10 April 2016 nanti. Saat ini, proses jelang dibuka sudah mencapai 90 persen lebih. Diharapkan, dengan adanya tempat wisata ini bakal semakin melengkapi objek wisata yang ada di Kabupaten Jepara.

“Luas lahan JOP ini sekitar 11 hektar, dengan sekian banyak pilihan tempat bermain. Ada 36 luncuran bermain air, kemudian ada wahana water sport seperti jet ski, banana boat dan wisata perahu, baik yang tradisional maupun modern, karena kami juga menawarkan wisata laut,” ujar Andy kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/3/2016).

Menurutnya, yang menjadi unggulan di tempat wisata ini nantinya adalah adanya menara center yang tingginya mencapai 26 meter. Sehingga, pengunjung bisa melihat pemandangan semua wahana bermain dan melihat pemandangan laut Jepara.

“Kami juga menyediakan tempat berenang, dan juga wisata laut, seperti naik perahu sampai di pulau panjang dan sampai di pantai Kartini,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, dengan lahan yang luas dan banyaknya pilihan wahana bermain,pihaknya memastikan bisa menampung sebanyak-banyaknya pengunjung. Pihaknya sendiri juga memperkirakan bisa dikunjungi sekitar 10 ribu pengunjung dalam satu kali tempo.

Tentu saja tidak hanya itu, ada wahana lain yaitu kolam dengan 2 ember tumpah, kolam arus 400 meter, dan replika kapal dengan air mancur. Wahana seru untuk anak-anak ada di titik Kiddy Play antara lain flying elephant, kura-kura, mini train, komedi putar, bianglala, dan bombom car, bahkan arena gokart.

Ada juga dua studio keren yaitu theater 6 dimensi dengan kapasitas 48 orang dan 60 orang. Bagi yang hobi menembak, ada juga arena paint ball yang bisa dinikmati beramai-ramai. Wisatawan juga bisa meluncur dari ketinggian 20 meter dengan fasilitas flying fox. Banyak wahana lain yang bisa dinikmati wisatawan di sana dan mungkin seharian tidak akan cukup untuk menjelajahi semua.

Harga tiketnya, Rp 60 ribu untuk hari biasa dan menjadi Rp 75 ribu saat akhir pekan. Lokasi JOP berada di Desa Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, tak jauh dari Pantai Bandengan atau 6 kilometer dari pusat Kota Jepara.

Editor : Kholistiono

Ingin Tradisi di Desamu Terkenal Seperti di Bali? Ini Caranya

Lomban di Jepara beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Lomban di Jepara beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Hampir semua desa yang berada di Kabupaten Jepara memiliki tradisi yang setiap tahun digelar. Bahkan, sebagian diantaranya memiliki kepercayaan tertentu yang menjadi tradisi lokal. Hanya saja tidak seperti tradisi yang ada di Bali. Disana, tradisi seolah melekat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Agus Tri Harjono mengatakan, Kabupaten Jepara sebenarnya bisa seperti Bali. Tradisi yang ada di masyarakat dapat dijadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, sampai saat ini memang diakuinya belum bisa maksimal.

“Hampir semua desa di Jepara memiliki tradisi. Jika dikelola dengan baik, maka bukan sesuatu yang mustahil bisa seperti di Bali,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, caranya agar mengarah seperti di Bali,setiap tradisi baik besar maupun kecil dapat dikemas dan dikelola secara lebih serius. Selain itu, harus didesain atau dikelola yang sebaik-baiknya supaya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.

“Selama ini masih banyak yang dikelola secara seadanya. Padahal memiliki potensi yang besar untuk menarik minat wisatawan,” kata dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, pengemasan tradisi di masing-masing desa yang seadanya tersebut, membuat perayaannya hanya bisa dinikmati oleh internal masyarakat desa itu sendiri. Maksimal, hanya desa tetangga dan belum bisa menarik warga desa lain di penjuru Jepara untuk datang dan melihat. Terlebih bisa menarik wisatawan.

Dia berharap, desa bisa memanfaatkan anggaran dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan dana desa yang jumlahnya cukup besar untuk mengemas tradisi secara lebih baik. Pasalnya, Dinas Pariwisata memiliki keterbatasan anggaran untuk membantu penyelenggaraan.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Wow! 6 Agenda Festival Kartini Bakal Jadi Even Nasional

Wisata di Jepara Berkembang, Peluang Bisnis Terbuka Lebar

Objek wisata pantai Kartini Jepara dipenuhi pengunjung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Objek wisata pantai Kartini Jepara dipenuhi pengunjung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Saat ini dunia pariwisata di Kabupaten Jepara sudah berkembang pesat. Hal itu terbukti dari semakin banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke kota ukir. Bahkan tak hanya wisatawan yang menuju ke kepulauan Karimunjawa, tetapi juga wisata yang ada di daratan Jepara. Hal itu membuat peluang bisnis di Jepara semakin terbuka lebar.

Hal itu juga dirasakan salah satu marketing di salah satu perusahaan oleh-oleh khas Jepara, Ernawati. Menurut dia, potensi wisata yang tinggi di Kabupaten Jepara, saat ini tidak hanya ada di kepulauan Karimunjawa. Tetapi juga banyak yang berada di daratan kota Jepara. Misalnya, pantai Bandengan, pantai Kartini, Benteng Portugis, Pantai Blebak, dan sejumlah objek wisata lainnya.

”Kami biasa bekerjasama dengan PO Bus, banyak rombongan wisatawan yang memang berminat ke tempat-tempat wisata di Jepara,” kata Erna kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/12/2015).

Menurutnya, potensi dan perkembangan dunia pariwisata di Kabupaten Jepara ini belum banyak yang memanfaatkan potensi bisnisnya. Misalnya saja, meski dia bukan seorang pemandu pariwisata, dia mengaku kerap diminta menjadi Tour Guide oleh sejumlah bus.

”Di Jepara sendiri belum ada tour guide yang dikelola secara professional. Selain itu biro pariwisata di daratan Jepara juga belum banyak. Padahal itu potensinya besar seiring dengan perkembangan wisata di Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)