Pelancong Mulai Berdatangan Hendak Berlibur ke Karimunjawa

Calon penumpang KMC Express Bahari sedang menunggu jam keberangkatan di Pelabuhan Kartini, Jumat (14/04/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pelancong memadati Pelabuhan Kartini Jepara, di hari pertama libur panjang akhir pekan, Jumat (14/4/2017). Wisatawan didominasi oleh warga luar Jepara yang hendak menikmati eksotisme Pulau Karimunjawa. 

Seperti Sofari (25) dan Uswatun (25) pasangan ini mengaku hendak ber-honey moon selama tiga hari di pulau tersebut. Untuk mendapatkan tiket, mereka mengaku telah melakukan pemesanan sejak dua minggu sebelum keberangkatan. 

“Kami berdua dari Tegal hendak ke Karimun. Rencananya mau menginap di sana selama tiga hari dua malam. Kalau untuk tiket, kami serahkan pada teman yang menangani. Namun sudah jauh-jauh hari kami memesannya,” ujar Sofari.

Pasangan suami istri itu mengaku, mendapatkan jatah berlayar dengan menggunakan Kapal Express Bahari, yang berangkat pukul 13.00 WIB dari Pelabuhan Kartini. “Kalau kami nanti kembali Minggu siang dari Karimun Jawa,” tambah Sofari. 

Wisatawan lain, Ari (28) mengaku datang dengan ketujuh rekannya dari Pati. “Kami datang berdelapan. Rencananya mau berlibur ke Karimunjawa. Kalau untuk tiket sudah ada yang mengurus sendiri. Kita tinggal berangkat hari ini,” kata dia. 

Pantauan MuriaNewsCom, pelancong kebanyakan warga luar Jepara. Hal itu dilihat dari nomor kendaraan yang non Karisidenan Pati. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan sarana bus pariwisata. 

Sementara itu, pelayaran penyeberangan wisata ke Karimunjawa baru bisa dilayani oleh satu kapal, yakni KMC Express Bahari. Sementara armada milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) yakni KMP Siginjai masih belum mengantongi izin berlayar. 

Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, mengungkapkan pihaknya selama liburan akhir pekan, menambah frekuensi perjalanan kapal Bahari Express.

Editor : Kholistiono

 

Disparbud Jepara : Desa Wisata Perlu Bikin Paket Wisata

Pantai Bandengan. Salah satu potensi wisata yang dimiliki Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Jepara – Untuk meningkatkan pelayanan wisatawan yang berkunjung ke Jepara, desa wisata di Jepara diminta untuk paket wisata. Hal itu disampaikan Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Zamroni Listiaza.

Menurutnya, dengan adanya paket wisata, pengunjung akan lebih lengkap menikmati wisata di tempat yang dikunjunginya. Bukan hanya sekadar wisata alam atau sejarah, tetapi, wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas desa setempat.

“Misalkan saja di Desa Tempur,Kecamatan Keling. Di sana ada panorama alam. Nah, pengelola wisata harus bisa membuat paket wisata. Sehingga pengunjung tidak hanya menikmati alamnya saja, tetapi juga bisa menikmati kuliner khas tempur, cara menanam padi secara tradisional dan lainya,” katanya.

Dirinya menyatakan, setidaknya di Jepara ada sembilan desa yang mempunyai wisata yang menarik untuk bisa diekspos ke luar. Di antaranya yakni Desa Tempur,Kecamata Keling yang mempunyai wisata alam pegunungan, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji mempunyai wisata Gong Perdamaian, akar seribu dan rumah kaca. Kemudian ada Desa Bandengan yang mempunyai wisata pantai, Mulyoharjo mempunyai sentra patung, Petekeyan mempunyai sentra ukir, Troso mempunyai sentra tenun, Karimunjawa dan Kemojan juga mempunyai wisata alamnya berupa pantai.

“Dengam adanya paket wisata, secara otomastis para pengunjung akan bisa merasa teredukasi, bukan berwisata saja. Misalkan saja, di Plajan, itu menurut pengamatan sudah mulai memberikan paket wisata. Dengan cara seperti itu, akan bisa saling mendongkrak tempat lainnya yang belum dikenal oleh masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Desa Wisata di Jepara Diminta Buat Perdes Tentang Pariwisata

Gong Perdamaian yang terdapat di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Untuk meningkatkan pengelolaan pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara mengharapkan kepada desa wisata untuk membuat peraturan desa mengenai kepariwisataan.

Kabid Destinasi Pariwisata Disparbud Jepara Zamroni Listiaza mengatakan, saat ini pihak dinas mengadakan pembinaan kepada 9 desa yang sudah ditunjuk sebagai desa wisata. “Kesembilan desa itu yakni Desa Tempur, Kecamatan Keling, Desa Plajan,Kecamatan Pakis Aji, Bandengan dan Mulyoharjo Kecamatan Jepara, Petekeyan dan Teluk Awur, Kecamatan Tahunan, Desa Troso, Kecamatan Pecangaan serta Karimunjawa dan Kemojan, Kecamatan Karimunjawa,” kata Zamroni.

Menurutnya, sembilan desa itu mempunyai wisata yang menarik untuk bisa diekspos keluar. Di antaranya yakni Desa Tempur yang mempunyai wisata alam pegunungan, Desa Plajan mempunyai wisata Gong Perdamaian, akar seribu dan rumah kaca. Sedangkan Bandengan mempunyai wisata pantai, Mulyoharjo mempunyai sentra patung, Petekeyan mempunyai sentra ukir, Troso mempunyai sentra tenun kain, Karimunjawa dan Kemojan juga mempunyai wisata alamnya berupa pantai.

“Dengan adanya perdes, diharapkan bisa meningkatkan pada kelangsungan wisata. Yakni, nantinya pengelolaan dikerjakan secara bersama-sama dengan warga, kelompok sadar wisata(pokdarwis) atau elemen lainnya,” ungkapnya.

Dia menilai, selama ini, ketika wisata belum dikenal masyarakat luas, semua elemen masyarakat harus bisa bekerja sama untuk memperkenalkannya. “Misalkan saja, ketika tempat wisata masih sepi, biasanya jarang yang memberikan support. Tetapi, ketika sudah ramai dikunjungi orang, maka banyak yang berlomba-lomba mengakui bahwa itu merupakan kerja kerasnya. Untuk itu, pihak desa harus membuat perdes. Sehingga perdes itu nantinya bisa mengikut sertakan semua elemen , untuk sama-sama memperkenalkan wista kepada dunia luar,” ucapnya.

Dia menambahkan, dari perwakilan sembilan desa wisata tersebut, juga pernah diajak untuk studi banding ke luar daerah.”Tahun lalu kita juga mengajak pengelola desa wisata studi banding, di antaranya ke Telaga Sarangan Jawa Timur dan ke Yogyakarta.Diharapkan pengelola bisa saling berkoordinasi dengan elemen yang ada,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemkab Wacanakan Pengelolaan 4 Lokasi Wisata di Jepara Diserahkan Swasta, Ini Alasannya

Tempat wisata Kura-kura Park Jepara. Tempat wisata ini, menjadi salah satu lokasi wisata yang pengelolannya diwacanakan diserahkan kepada swasta. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tempat wisata Kura-kura Park Jepara. Tempat wisata ini, menjadi salah satu lokasi wisata yang pengelolannya diwacanakan diserahkan kepada swasta. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mewacanakan ada empat lokasi wisata yang selama ini dikelola pemerintah daerah (pemda), nantinya pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta.

Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Zamroni Listiaza mengatakan, keempat tempat pariwisata tersebut adalah Pantai Bandengan, Pantai Kartini, Kura-kura Park dan Benteng Portugis.

Menurutnya, munculnya wacana tersebut, salah satu alasannya adalah, biaya perawatan tempat wisata tersebut yang nilainya cukup besar. Setiap tahunnya, pemkab mengeluarkan anggaran sebesar Rp 750 juta untuk empat tempat tersebut.

“Setiap tahunnya memang dianggarkan sekitar Rp 750 juta untuk perawatannya saja. Dan anggaran itu pun masih kurang maksimal. Terlebih di Kura-kura park. Sebab di Kura-kura park itu masih memberikan pakan ikan, perawatan aquarium, membayar listrik per bulan sebesar Rp 30 juta dan lainnya,” kata Zamroni.

Ia menilai, anggaran itu juga belum bisa memaksimalkan fasiltas yang ada di tempat pariwisata. Sehingga, agar tidak memberatkan pemerintah, maka akan diwacanakan diserahkan ke pihak swasta. Sehingga, nantinya bisa dikembangkan dengan baik lagi.

“Bila dikelola pemerintah, secara otomatis penjualan tiketnya juga sangat murah. Sebab kalau dikelola pemda, memang misinya ialah tidak terfokus pada keuntungan saja, melainkan juga sosial,” ucapnya.

Dia melanjutkan, rata-rata keempat tempat wisata yang dikelola pemerintah itu, harga tiket masuknya sama. Seperti halnya untuk hari biasa sebesar Rp 5 ribu, Sabtu-Minggu Rp 7 ribu dan hari besar atau liburan sekitar Rp  10 ribu.

“Kita mengakui bahwa kalau dikelola swasta juga akan menjadi mahal tarifnya. Namun nantinya akan bisa berkembang,  baik fasilitas sarana dan prasarananya maupun yang lain,” ujarnya.

Sementara itu saat disinggung mengenai target pendapatan dari destinasi wisata di tahun 2016, pihaknya memaparkan bahwa di tahun tersebut bisa mencapai target dengan maksimal.

“Dari target pariwisata di Jepara tahun 2016 sebesar Rp 3 miliar, saat ini sudah bisa nutup. Namun untuk rinciannya saya belum dapat datanya.  Dan nantinya target di tahun 2017 akan naik sebesar 20 persen atau sebesar Rp 3,6 miliar,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Lihat Ini! Disparbud Jepara Sudah Pasang Tarif Makanan dan Minuman di Lokasi Wisata

Spanduk milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara yang berisi informasi mengenai besaran harga menu makanan di lokasi wisata . (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Spanduk milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara yang berisi informasi mengenai besaran harga menu makanan di lokasi wisata . (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Untuk mengantisipasi adanya pedagang “nakal” yang kenakan tarif makanan dan minuman di luar kewajaran di area wisata yang ada di Jepara, kini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara memasang spanduk yang berisi informasi mengenai besaran tarif makanan dan minuman.

Dengan begitu, diharapkan nantinya tidak ada lagi penjual yang nakal, sehingga, banyak pengunjung yang datang ke tempat wisata mengeluh soal tingginya harga makanan dan minuman, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, dan sempat viral di media sosial.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Zamroni Listiaza mengatakan, pemasangan spanduk yang berisi tentang informasi tarif makanan dan minuman tersebut, saat ini sudah di tempatkan di beberapa titik.

“Di antara lokasi wisata di Jepara yang sudah kami pasangi spanduk mengenai besaran tarif makanan dan minuman, yakni di Pantai Kartini, Pantai Bandengan dan Benteng Portugis. Diharapkan, informasi ini bisa membantu pengunjung, sehingga tahu perkiaraan harga kuliner yang ada di area wisata,” ujarnya.

Dirinya juga mengimbau agar pengunjung menanyakan terlebih dahulu tarif makanan atau minuman, sebelum dipesan. Sehingga, pengunjung tahu berapa besaran harga yang dikenakan pedagang untuk makanan atau minuman tersebut.

Dari pantauan MuriaNewsCom, informasi harga makanan dan minuman yang tertera di spanduk milik Disparbud di antaranya, untuk harga es teh sebesar Rp 3 hingga Rp 5 ribu per gelas. Sedangkan untuk per tekonya seharga Rp 25 hingga Rp 30 ribu. Sedangkan untuk es jeruk dengan harga Rp 5 hingga Rp 7 ribu per gelas, dan satu teko seharga Rp 30 hingga Rp 35 ribu. Sedangkan untuk minuman kelapa seharga Rp 12 hingga Rp 15 ribu.

Selain minuman, pihak Disparbud juga mencantumkan harga menu makanan jenis seafood. Adapun rincian harganya, kerang seharga Rp 20 hingga Rp 30 ribu per porsi, kepiting Rp 140 hingga Rp 180 ribu per kilogram, udang Rp 140 hingga 180 ribu per kilogram, cumi-cumi Rp 120 hingga Rp 170 ribu per kilogram, ikan Rp 100 hingga 150 ribu per kilogram. Sedangkan untuk nasi seharga Rp 4 hingga Rp 6 ribu per piring dan Rp 35 hingga Rp 50 ribu per bakul untuk ukuran 10 porsi.

“Daftar menu tersebut merupakan hasil survei yang ada di lapangan. Namun untuk saat ini, menurut survei yang ada, dari tiga tempat wisata yang ada di Benteng Portugis, Bandengan dan Pantai Kartini, memang pantai Bandengan agak sedkit mahal. Selain itu, daftar menu makanan juga kita harapkan dapat di pasang di warung-warung,” bebernya.

Dengan adanya informasi yang sudah dipasang di tempat wisata tersebut, pihaknya juga akan selalu memantau warung-warung yang ada di sekitar wisata. Sehingga nantinya tidak ada lagi komplain dari pengunjung wisata.

Editor : Kholistiono