Ratusan Santri di Pati Diajari Wirausaha Berbasis Teknologi Informasi

Santri, pelajar dan mahasiswa mengikuti workshop technopreneurship di Ponpes Al Falah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri, pelajar dan mahasiswa diajari wirausaha berbasis teknologi informasi (IT) dalam workshop technopreneurship bertajuk “Membangun Spirit Technopreneurship Pelajar dan Santri di Era Teknologi Informasi” di Ponpes Al Islah, Desa Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/8/2017).

Kegiatan tersebut diadakan Java Literacy School bekerja sama dengan PC IPNU IPPNU Pati dan Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Tengah.

Tiga narasumber yang hadir, antara lain Hasan Chabibie dari Pusat Teknologi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, internet marketer Rifan Heryadi, dan santripreneur IPNU Pati Irham Shodiq.

“Arus teknologi informasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ini tidak bisa dihindari sehingga harus ditangkap dengan baik oleh para santri, pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan usahanya,” kata Hasan.

Lebih dari itu, Hasan menjelaskan, pelaku wirausaha berbasis IT di Indonesia masih sebatas menggunakan karya orang lain, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sejenisnya. Mereka belum memiliki kemampuan untuk memproduksi teknologi untuk pengembangan usaha.

Kendati demikian, sikap melek IT sangat diperlukan agar para santri tidak tertinggal dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan IT sebagai usaha memasarkan produk dianggap sangat penting untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Sementara itu, Rifan menambahkan, warga Indonesia memiliki pengguna media sosial tertinggi se-Asia. Karena itu, kondisi itu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasarkan produk-produk usahanya melalui IT.

“Generasi muda, para santri, pelajar dan mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan bekal keterampilan untuk menyongsong arus teknologi informasi yang semakin tinggi. Terlebih, dunia masa depan akan menggunakan basis teknologi sehingga harus dipersiapkan sejak sekarang,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Semangat Mariatun Ini Dapat Menjadi Teladan untuk Dirimu Bisa Sukses

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

MuriaNewsCom, Kudus – Namanya Mariatun, (27), warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Apa yang dilakukannya demi membuat hidupnya lebih baik, patut diacungi jempol dan ditiru.

Ibu satu anak tersebut, mengatakan jika perjalanan hidupnya memang tidak mudah. Keinginannya untuk meraih pendidikan tinggi layaknya teman-temannya yang lain, terhalang kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan.

Namun, Mariatun tidak menyerah. Setelah menikah, dia berpikir untuk ikut membantu keluarganya, meningkatkan taraf kesejahteraan. Caranya, dia mendaftar di Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus, dan mendapat beragam pelatihan.

Itulah yang membuatnya bersyukur sekarang ini, karena sudah memiliki usaha sendiri. Bahkan, sangat terbantu dengan segala bentuk pelatihan dan fasilitas yang didapatnya dari BLK Kudus.

Cerita selengkapnya Mariatun ini, bisa disaksikan di video yang satu ini. Sebuah video yang mengungkap bagaimana bermanfaatnya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang didapatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dari Pemerintah Pusat.

Video ini adalah video Bagian Humas Setda Kudus, yang dibuat sebagai salah satu cara sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, termasuk juga sosialisasi Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Jadi, inilah kisah Mariatun yang begitu tangguh menjalani hidup, dan terbantu dengan dana cukai. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

 

Fahturozi Minta Anak Muda Kudus Bisa Tonton Videonya

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Sosialisasi Permenkeu Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Perbup Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

MuriaNewsCom, Kudus – Namanya Fahturozi, salah seorang warga Kabupaten Kudus. Anak-anak muda yang ada di wilayah ini, harusnya bisa mencontoh apa yang dilakukan Fahturozi.

Pasalnya, Fahturozi adalah salah satu contoh anak muda yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang wirausahawan muda. Semuanya, berkat kerja kerasnya untuk berusaha, melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus.

Mau tahu bagaimana Fahturozi memulai usahanya sehingga bisa menekuni pekerjaan yang sesuai keingiannya? Ada baiknya, Anda saksikan video yang memperlihatkan bagaimana Fahturozi bisa mendapatkan aneka pelatihan, berkat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

Video cukai ini dibuat Bagian Humas Setda Kudus, sebagai salah satu cara sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, termasuk juga sosialisasi Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Ada banyak hal yang dipelajari Fahturozi saat mengikuti kegiatan di BLK. Karena dana cukai memang dipergunakan untuk siapa saja anak muda di Kudus, yang menginginkan bisa berwiraswasta dengan usahanya sendiri.

Penasaran dengan apa yang dialami dan diikuti Fahturozi, ada baiknya untuk menyimak video ini. Pastinya, akan sangat menginspirasi. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

Mau Jualan Online, Ngaca Dulu

Peserta pelatihan marketing online sedang mendengarkan pemaparan dari narasumber (MuriaNewsCom/Merie)

Peserta pelatihan marketing online sedang mendengarkan pemaparan dari narasumber (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak orang yang ingin memulai usaha. Hanya saja, bagaimana memasarkan produknya, terkadang hal itu menjadi kendala.

Jualan secara online, saat ini dianggap menjadi salah satu cara berjualan paling efektif. Namun, harus pula diketahui, bagaimana cara jualan secara online.

Inilah yang kemudian diajarkan dalam kelas bernama “bpreneur Kelas Wirausaha Online”, yang digelar di Angkringan Cekli, Selasa (19/4/2016).

Tommy Arno Funz, pemilik rajagamis.com yang menjadi pembicara mengatakan, untuk memilih jenis usaha, bahkan bisa “berkaca” terlebih dahulu.

“Coba Anda ngaca dulu. Lihat dari atas sampai bawah. Kira-kira dari keseluruhan tubuh kita itu, yang kemudian bisa menjadi inspirasi untuk jualan itu, yang mana,” katanya.

Dikatakan Tommy, dari kepala sampai ke kaki, bisa dijadikan inspirasi untuk jualan. Termasuk apa yang kemudian bisa menjadi lahan usaha.

“Karena memang kadang orang bingung mau usaha apa. Makanya paling gampang itu ya, lihat diri kita dulu. Mana yang kemudian bisa menjadi inspirasi jualan kita,” jelasnya.

Pembicara lainnya, Lereng Cahyo Handoko yang merupakan owner grosirgamisanak.com mengatakan, setela mengetahui usaha apa yang bisa dilakukan, maka jalan berikutnya adalah memilih nama yang tepat.

“Ini kaitannya dengan jualan di online. Gunakan mesin pencari. Kita harus tahu kata kunci apa yang paling sering diketik orang, terkait dengan jenis jualan kita,” katanya.

Nama itu sangat penting, menurut Lereng, karena akan membuat sebuah produk menjadi dikenal. Mesin pencari menjadi komponen atau bagian yang penting, karena akan bisa memunculkan produk-produk yang dijual.

“Orang saat ini memang memilih jalan yang mudah. Yaitu mencari apa yang mereka inginkan di mesin pencari. Sehingga kalau produk kita memiliki nama yang termasuk dalam nama yang sering diketik, maka akan semakin dikenal produk kita,” tuturnya.

Jualan online memang bisa sangat luas hasilnya. Menurut Lereng, bukan hanya terkenal di satu daerah saja, melainkan di seluruh dunia. “Dan itulah yang saat ini terjadi. Kita bisa memilih produk kita dikenal di mana saja. Hebatnya online ya begitu,” imbuhnya.

Editor: Merie

Jadi Entrepreuner, Orang Cerdas Tidak Pilih Jalan Mudah

Tommy Arno Funz memaparkan bagaimana menjadi seorang entrepreuner yang baik, di Angkringan Cekli, Selasa (19/4/2016). (MuriaNewsCom/Merie)

Tommy Arno Funz memaparkan bagaimana menjadi seorang entrepreuner yang baik, di Angkringan Cekli, Selasa (19/4/2016). (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom – Dunia entrepreuner memang sangat luas dan menantang. Tapi, orang cerdas tidak akan memilih jalan yang mudah.

Hal itu disampaikan Tommy Arno Funz, owner rajagamis.com, dalam acara bpreuner kelas wirausaha online, yang berlangsung di Angkringan Cekli, Selasa (19/4/2016).

Tommy mengatakan, ketika sesuatu mudah, maka tidak akan ada ilmu yang menantang yang bisa diperoleh di dalamnya.

“Makanya orang cerdas itu tidak akan memilih yang mudah. Akan ada berbagai halangan dan rintangan yang kemudian membuatnya semakin bagus dalam melangkah,” jelasnya di depan peserta.

Dikatakan Tommy, bekerja keras akan sangat bagus. Semakin banyak karya yang dihasilkan, akan semakin kaya orang tersebut.

“Dalam kata “karya” sendiri, ada kata “kaya” di dalamnya. Jadi, semakin banyak karya, semakin kaya kita,” jelasnya.

Karena itu, Tommy menegaskan bahwa semakin sering kita bekerja keras, semakin banyak hasil yang akan didapat.

“Salah satu kendala dari melakukan sebuah usaha adalah melawan rasa malas. Karena itu yang akan menghambat. Malas terhadap apapun itu harus dilawan. Karena kalau malas, akan semakin ketinggalan kita,” tegasnya.

Kelas entrepreuner ini sendiri memang diikuti mereka-mereka yang ingin melakukan usaha. Terutama usaha online. Mereka saling berbagi pengalaman bagaimana mengembangkan usahanya.

“Kita memang ingin supaya makin banyak usahawan-usahawan yang mampu mengembangkan usahanya. Terutama melalui media online. Karena pasarnya memang luas. Itu tugas kita bersama-sama untuk pengembangannya,” imbuhnya.

Editor: Merie

Remaja Masjid di Pati Digembleng Agar ‘Melek Bisnis’

Sejumlah remaja masjid tengah belajar teknik menanam dan bisnis tanaman dengan hidroponik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah remaja masjid tengah belajar teknik menanam dan bisnis tanaman dengan hidroponik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Puluhan remaja masjid yang tergabung dalam Forum Aktivitas Remaja Masjid Agung Baitunnur, Forum Komunikasi Remaja Masjid se-Kabupaten Pati dan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama mengikuti Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

Ketua Forum Komunikasi Remaja Masjid Se-Kabupaten Pati Irsyaduddin kepada MuriaNewsCom mengatakan, takmir masjid saat ini harus mulai melek dengan bisnis. Dengan bisnis akan menjadi kaya.

“Setelah kaya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup umat di sekitar lingkungan masjid. Setidaknya, peran masjid juga bisa memerangi kemiskinan di sekitar masjid,” ujarnya, Selasa (29/12/2015).

Ia menekankan, saat ini banyak sekali masjid megah, tetapi tak sedikit lingkungan di sekitarnya banyak yang kurang mampu. Hal itu yang harus diantisipasi agar masjid juga punya peran sosial dan ekonomi.

“Jangan sampai masjid megah, tetapi lingkungan di sekitarnya sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jangan hanya mengandalkan infaq dari jamaah, tetapi juga harus melek bisnis agar bisa mandiri,” imbuhnya.

Ia menambahkan, hampir seluruh masjid di Kabupaten Pati sudah memiliki takmir. Sayangnya, banyak di antara takmir yang belum bisa memfungsikan masjid secara optimal, lebih dari sekadar tempat ibadah.

“Masjid mestinya punya peran multifungsi. Selain tempat ibadah, juga harus punya peran sosial, pendidikan, hingga ekonomi,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Puluhan Santri Pati Belajar Kewirausahaan di Kudus

Sejumlah santri tampak berjalan di kebun buah naga untuk belajar kewirausahaan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah santri tampak berjalan di kebun buah naga untuk belajar kewirausahaan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 60 santri yang tergabung dalam Forum Komunikasi Remaja Masjid Kabupaten Pati, Forum Aktivitas Remaja Masjid Agung Baitunnur, dan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama mengikuti kegiatan Orientasi Kewirausahaan untuk Masjid Mandiri.

Mereka dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara teoritis dan praktis. Hal itu diharapkan agar santri dan masjid tidak sebatas berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga fungsi pemberdayaan umat.

“Masjid mestinya bisa memiliki banyak fungsi. Tak sekadar sebagai tempat ibadah, masjid harus dihidupkan sebagai pendidikan, kaderisasi keislaman, dan pemberdayaan umat,” kata Ketua Forum Komunikasi Remaja Masjid Kabupaten Pati Irsyaduddin kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/12/2015).

Usai mengikuti workshop, puluhan santri tersebut dikenalkan dengan dunia kewirausahaan secara praktis dengan berkunjung ke Pesantren Enterpreneur Al Mawaddah di Honggosoco, Jekulo, Kudus.

“Para santri diajarkan tentang spiritual business kemudian dilanjutkan pelatihan kewirausahaan, seperti pengenalan budidaya sayur dan buah organik, proses pembuatan tepung mocaf dan aneka produknya, misalnya keripik dan aneka kue,” tuturnya.

Tak hanya itu, mereka juga dilatih dengan budidaya buah naga dan aneka macam produk yang dibuat dari buah naga, seperti sirup dan keripik buah naga. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para santri untuk terjun di dunia kewirausahaan. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Mantap! Bisnis Handmade Warga Pati Ini Tembus Hingga ke Swiss dan Hongkong

Aksesoris bros yang terbuat dari pita (facebook : Ayun Tampati)

Aksesoris bros yang terbuat dari pita (facebook : Ayun Tampati)

 

PATI – Tak ada yang lebih membahagiakan hati, ketika bisa berbisnis dari rumah, apalagi income dari bisnis yang tengah dibangun juga terus menggalir. Hal inilah mungkin yang dirasakan oleh women entrepreneur, Marzuni.

Berawal dari sekedar hobi bergonta-ganti aksesoris, Marzuni kini berhasil membangun sebuah usaha aksesoris rumahan yang beromzet “lumayan”, bahkan bisnis rumahan pita sulam dan kain perca ini mampu tembus pasar global.

“Dari kesukaan saya akan benda-benda handmade, saya kemudian mencoba berkreasi dari sulaman pita, kain perca dan lainnya,” Ungkap perempuan asal Desa Gesengan RT 4 RW 1 Kecamatan Cluwak, Pati.

Kreasi sulaman pita dan kain perca tak hanya berhenti pada satu produk saja. Di tangan mungil Marzuni, kreasi sulaman pita dan kain perca bisa diaplikasikan pada pembuatan taplak meja cantik, bros, jepit rambut, dan lain sebagainya. Setelah banyak menyelesaikan produk, dirinya kemudian memberikan sampel buah karyanya kepada teman dan tetangga.

“Sungguh diluar dugaan, ternyata banyak kolega dan tetangga yang tertarik dengan produk saya. Menurut mereka aksesori buatan saya cukup inovatif. Dari situ kemudian ide wirausaha saya muncul, dan ingin mengembangkan lebih serius lagi dengan menekuni bisnis rumahan handmade ini,” katanya.

Bahkan, menurutnya, beberapa aksesoris kreasinya banyak diminati warga bukan hanya dari Indonesia, tapi juga mancanegara. Di antaranya, Swiss, Hongkong, Malaysia dan Cina. “Ya alhamdulillah, ternyata dari luar negeri banyak yang berminat,” imbuhnya.

Menurutnya, produk miliknya yang bisa tembus pasar global tersebut tidak lepas dari pemasaran yang dilakukan secara online. Namun memang, katanya, terkadang ada beberapa kendala ketika melakukan transaksi, di antaranya terkait bahasa.

Dirinya mengatakan, bisnis aksesoris ini peluangnya cukup besar. Yang dibutuhkan, katanya, adalah inovasi dan kreasi. Semakin kreatif, maka produk tersebut diyakini mampu bersaing di pasaran. Karena, aksesoris sudah menjadi bagian dari perempuan untuk kebutuhan fashion. “Saya yakin ke depan, bisnis handmade peluangnya tetap tinggi. Makanya, saya optimis menekuni bisnis ini,” katanya.

Untuk itu, dirinya berupaya mendorong perempuan-perempuan di Pati untuk menekuni bisnis ini. Bahkan, dirinya telah membentuk Komunitas Crafter Perempuan Pati (KCPP). Komunitas ini, dibentuk sebagai wadah bagi perempuan pati untuk berkreasi di bidang handmade.

“Secara berkala, kita mengadakan Kopdar. Di sana, biasanya kita berdiskusi dan berbagi mengenai inovasi dan kreasi aksesoris ini.Dan kami bersyukur, dengan adanya komunitas ini kita semua bisa bertukar pikiran untuk lebih maju,” imbuhnya.

Jika ada yang berminat untuk berlatih membuat kerajinan ini, katanya, dirinya juga bersedia memberikan pelatihan dengan tarif bervariasi. Bahkan, pada momen tertentu dirinya juga memberikan pelatihan gratis. (KHOLISTIONO)

Modal Awal Rp 50 Ribu, Kini Perempuan Kreatif Asal Pati Ini Sudah Menghasilkan Omzet Jutaan Rupiah

Marzuni (facebook : Ayun Tampati)

Marzuni (facebook : Ayun Tampati)

 

PATI – Tanpa aksesoris,penampilan wanita rasanya kurang lengkap. Tak hanya kalangan wanita dewasa yang menyukai aksesoris, namun juga kalangan anak-anak hingga remaja. Seiring tren fashion yang terus berputar, aksesoris wanita juga mengikuti tren, apalagi keinginan wanita untuk gonta-ganti model aksesoris yang dikenakannnya juga cukup besar.

Untuk mendukung hal tersebut kini banyak aksesoris wanita terbaru mulai dari tas, kalung, gelang, anting, bando atau bandana, bros, jepit rambut dan lainnya yang semakin banyak diminati wanita. Seiring perkembangan tren fashion, desain aksesoris wanita pun semakin beragam.

Saat ini aneka aksesoris wanita tak hanya didominasi oleh bahan dari batu-batuan alam seperti Sapphire (nilam), American Diamond, Swarovski, hingga mutiara. Namun aksesoris dari bahan-bahan yang mudah dijumpai di lingkungan seperti kain perca, baik dari jenis kain batik, katun, satin dan lainnya yang kemudian dibuat secara handmade justru lebih keren.

Bahkan kreasi kain perca mampu menghasilkan aksesoris wanita yang menawan dengan harga jual puluhan kali lipat lebih mahal dari harga bahannya. Saat ini aksesoris dari bahan perca tengah menjadi tren, terutama di pasar kalangan menengah atas.

Peluang bisnis ini tak disia-siakan oleh perempuan asal Desa Gesengan RT 4 RW 1 Kecamatan Cluwak, Pati, yakni Marzuni. Dengan modal awal hanya Rp 50 ribu, kini dirinya sudah mampu menghasilkan jutaan rupiah dari bisnis aksesoris yang dibuat secara handmade. “Modal awal saya dulu Cuma Rp 50 ribu, itu sudah termasuk alat dan bahannya. Kini, untuk omzet alhamdulillah sudah lumayan. Berkisar Rp 4-5 jutaan lah,” ujarnya.

Bisnis handmade yang ditekuni, katanya, berawal ketika dirinya kuliah dan kerja di Bogor beberapa tahun lalu. Saat itu, dirinya yang kerja kantoran dengan hari kerja hanya lima hari, kemudian hari libur dimanfaatkan untuk belajar merangkai aksesoris.

“Setiap hari Sabtu saya pergi ke Jakarta untuk belajar merangkai aksesoris berbahan akrilik. Karena ini bagian dari hobi saya, jadinya saya senang melakukan ini. Kemudian, ilmu yang saya dapat itu, saya praktikkan di rumah dan aksesorisnya saya pakai sendiri,” ungkapnya.

Tak disangka, ketika aksesoris itu dipakai dan teman-temannya melihat, ternyata banyak yang tertarik dan kemudian pesan untuk dibuatkan. Karena semakin banyaknya pesanan, kemudian, dirinya memutuskan untuk lebih serius menekuni bisnis handmade ini.

Bahkan pada tahun 2009 lalu, dirinya rela untuk resign dari tempatnya bekerja di Bogor sebagai akuntan dan kembali ke kampung halaman. Namun, ketika sampai di rumah dirinya cukup kesulitan untuk memulai bisnis tersebut, karena kendala tidak adanya tenaga yang membantunya dan bahan akrilik yang sulit didapatkan di Pati.

Pada akhirnya, dirinya memutuskan untuk bekerja kembali sebagai akuntan di sebuah perusahaan di Jepara. Namun, pada 2013, dirinya mencoba kembali untuk menekuni kerajinan tersebut. Dan secara perlahan, hasilnya cukup menggembirakan. Bahkan, kini usaha tersebut terus berkembang hingga sekarang ini. (KHOLISTIONO)

Ini yang Membuat Perajin Puzzle Optimistis Usahanya Makin Besar

Sholikin sedang membuat puzzle di rumahnya dengan peralatan sederhana. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sholikin sedang membuat puzzle di rumahnya dengan peralatan sederhana. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Usaha pembuatan puzzle yang digeluti Sholikin (50), warga Desa Loram Wetan, RT 3 RW 6, Kecamatan Jati memang bisa dikatakan berhasil. Meski begitu, pelaku usaha juga ingin lebih mengembangkan usahanya lebih maju dan besar. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan modal yang cukup besar.

Keberadaan Kredit Usaha Produktif (KUP) menjadi salah satu solusi bagi para pengusaha seperti Sholikin. ”Kami sangat gembira dengan adanya program KUP oleh Bupati Kudus Musthofa,” katanya.

Permodalan yang dibiayai Bank Pembangunan Daerah Jawa tengah (BPD) cabang Kudus ini, sudah dirasakan Sholikin satu bulan terakhir, dalam mengembangkan usahanya. ”Kami mendapatkan bantuan modal dari KUP Rp 20 juta, dan mengambil jangka waktu selama 3 tahun,” ujarnya.

Sholikin melanjutkan, untuk angsuran pembayarannya sekitar Rp 700-an ribu per bulan, dan dalam jangka waktu 3 tahun bunganya sekitar Rp 6 juta.

Dengan adanya modal dari pemkab tersebut, pihaknya berharap usahanya berjalan lancar. ”Semoga usaha saya terus maju dan besar. Sebab saya mendapatkan modal KUP ini baru satu bulan, yaitu di awal November 2015 kemarin,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Ayo Warga Kudus, Gelorakan Lagi Semangat Gusjigang

Bupati Kudus H Musthofa memperlihatkan produk unggulan yang dimiliki Kabupaten Kudus kepada khalayak ramai. Semangat Gusjigang yang melekat di diri warga Kudus, menjadi salah satu semangat untuk menumbuhkan para wirausaha baru yang lebih maju. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa memperlihatkan produk unggulan yang dimiliki Kabupaten Kudus kepada khalayak ramai. Semangat Gusjigang yang melekat di diri warga Kudus, menjadi salah satu semangat untuk menumbuhkan para wirausaha baru yang lebih maju.
(ISTIMEWA)

 

KUDUS – Kabupaten Kudus memiliki sebuah falsafah atau semangat warisan Sunan Kudus yang kemudian sangat bagus. Yakni falsafah bernama Gusjigang, yang berarti Bagus, Pinter Ngaji dan Berdagang.

Semangat inilah yang lebih digelorakan lagi oleh Bupati Kudus H Musthofa, dalam masa kepemimpinannya yang sudah memasuki periode kedua. Pasalnya, falsafah warga Kudus itu memiliki semangat dan makna yang sangat bagus.

”Falsafah itu memang cocok bagi warga Kudus yang mayoritasnya adalah wirausahawan. Istilah tersebut diartikan, bagus sebagai sosok yang bermental baik, ngaji artinya mau terus belajar, dan dagang yang bermakna pandai berwirausaha,” tuturnya.

Bupati mengatakan, semua orang memiliki potensi menjadi pelaku wirausaha. Bahkan menurutnya, berwirausaha bisa dilakukan tanpa modal atau materi, yang terpenting memiliki mindset atau pola pikir, dan niat untuk melakukan.

”Dengan perubahan mindset, niat, dan memaksimalkan daya ungkit untuk menggali potensi diri, semua orang bisa menjadi seorang wirausahawan,” ujar bupati yang akrab disapa Kang Mus itu.
Bupati yang juga seorang pengusaha itu menyampaikan bahwa berusaha tidak selalu menggunakan modal uang. Dengan yang sudah kita miliki, semuanya bisa dimaksimalkan.

Bekal berikutnya adalah mau untuk belajar dan terus belajar. Tahapan ini bisa diraih dengan pendidikan formal maupun pendidikan nonformal seperti pendidikan keterampilan.
Pemkab Kudus sendiri, telah memfasilitasi ini dengan pendidikan keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK) untuk seluruh warga Kudus. Dan tahapan belajar ini merupakan proses panjang tanpa henti, termasuk dalam pengalaman berwirausaha.

”Juga ada bantuan modal berupa alat dan adanya pembentukan kelompok usaha. Manfaatkan ini sebaik-baiknya untuk saling menciptakan usaha yang produktif dan prospektif,” katanya.
Yang tak kalah penting dalam berusaha adalah kemampuan untuk negosiasi. Di sini dibutuhkan komitmen dan kejujuran pada diri sendiri. Tanpa kejujuran untuk melihat potensi diri tentunya tidak akan mampu membangun usaha dengan baik hingga tumbuh besar. ”Tentunya pula hal ini penting dalam sebuah jaringan atu relasi yang baik dan kuat,” jelasnya.

Kang Mus menambahkan bahwa semuanya harus disertai dengan selalu memohon doa pada Allah SWT. Karena hanya atas kehendak-Nya kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk melakukan semuanya upaya ini. Asal dilakukan dengan sungguh-sungguh maka Allah SWT akan memberikan petunjuk dan keberhasilan atas usaha yang telah dilakukan.

”Sebenarnya tidak ada orang yang gagal asal mau terus berusaha tanpa menyerah dan segera bangkit ketika jatuh. Kegagalan sesungguhnya adalah ketika kita menyerah dan tidak mau berusaha serta menggali potensi diri kita,” pungkasnya. (MERIE / ADS)

Mau jadi Pengusaha Sablon Hebat? Sekolah Ini Siap Mewujudkan

Siswa dilatih menjadi pengusaha sablon di Kudus. (MuriaNewsCOm/Edy Sutriyono)

Siswa dilatih menjadi pengusaha sablon di Kudus. (MuriaNewsCOm/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain memberikan pembelajaran secara akademik, SMP N 3 Satu Atap (Satap), Kecamatan Undaan, Kudus, juga memberikan pendidikan kepada siswanya untk bisa mencari uang.

Pembelajaran mencari uang tersebut dibalut dengan cara melakukan kegiatan ekstrakurikuler sablon. Sehingga siswa siswi yang mengikuti kegiatan tersebut dapat mencari uang untuk keperluan pribadinya di saat bersekolah.

Salah satu pembina kegiatan sablon SMP N 3 Satap Undaan Panti Baridatussyifa mengtakan, selain mengembangkan kreativitas anak, kegiatan ini juga bisa membuat mereka mendapatkan rezeki. Sebab terkadang kegiatan sablon ini juga menerima pesanan dari luar untuk membuat beberapa hal. Seperti contoh menggambar taplak meja, kertas penutup makanan ringan dan sejenisnya.

Kegiatan yang biasanya digelar pada Selasa dan Kamis ini biasanya akan diikuti oleh sekitar 25 anak.

“Setidaknya kegiatan ini juga bukan sekadar sebagai formalitas eksttrakurikuler saja. Namun juga bisa dijadikan sebagai acuan untuk bisa berkembang menciptakan usaha di saat lulus nanti,” paparnya.

Selain itu, lanjut panti, dalam pembuatan karya taplak meja atau kertas bergambar tersebut, siswa biasanya akan mendapatkan uang saku atau uang jasa sebesar Rp 1.000 per bijinya. Sehingga yang Rp 1000 lagi untuk uang kas kegiatan siswa untuk membeli tinta sablon, perawatan screen (papan sablon), perawatan hairdraiyer (pengering rambut/sablon), dan sejenisnya,” paparnya.

Hal senada juga diiyakan oleh salah satu peserta Anisa. Dia berkata, pihaknya mengikuti ini memang bisa menambah pengetahauan dan kreativitasnya.

Dia menilai, kegiatan ini memang bermanfaat sekali bagi siswa. Khususnya siswa yang nantinya tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya untuk bisa mandiri menciptakan usaha kecil di bidang sablon di rumahnya.

Dengan adanya, kegiatan semacam itu, maka secara otomatis dapat memberikan peluang pendidikan kewirausahaan terhadap siswa. Sehingga ke depannya bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk bisa maju di dunia industri serta menciptakann usaha secara mandiri. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Ajak Kaum Muda Jadi Pengusaha,  Plan Indonesia Gelar Student Preneur

plan (e)

Kegiatan seminar bertajuk Student Preneur dalam rangka acara penutupan Progam Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda (YEE) di Kabupaten Rembang yang digelar oleh Plan Internasional Indonesia di Fave Hotel pada Sabtu (11/7/2015). (MuriaNewsCom/AHMADFERI)

REMBANG – Sebagai salah satu rangkaian acara penutupan Progam Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda (YEE) di Kabupaten Rembang, Plan Internasional Indonesia menggelar kegiatan seminar bertajuk Student Preneur “Ayo Usaha, Ayo Mandiri”. Lanjutkan membaca

SMA 1 Kudus Kembali Aktifkan Materi Kewirausahaan

Ari Wijaya, guru TIK SMA 1 Kudus yang menginspirasi siswa untuk berwirausaha mandiri. (MURIANEWS/HANA RATRI)

Ari Wijaya, guru TIK SMA 1 Kudus yang menginspirasi siswa untuk berwirausaha mandiri. (MURIANEWS/HANA RATRI)

KUDUS – Ari Wijaya, guru SMA 1 Kudus mengakui usaha yang dilakukan siswanya berbeda dengan berjualan online yang diajarkan. Namun, guru mata pelajaran TIK ini percaya mereka dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Mengenai keuntungan yang mereka dapatkan, Ari mengatakan sudah pernah menjelaskan tentang laba atau rugi yang diterima jika menjalankan usaha. Dengan begitu, pihaknya percaya siswanya dapat mengelolanya dengan baik. Lanjutkan membaca

Siswa SMA 1 Kudus Aplikasikan Ilmu Wirausaha Sejak Dini

Wirausaha 1 (e)KUDUS – Libur sekolah bukan menjadi penghalang bagi Yasinta dan kawan-kawannya yang masuk dalam kelompok Karya Anak Bangsa (KAB). Kelompok yang terdiri 34 siswa kelas XI IPA 2 yang akan naik kelas XII IPA 2 SMA 1 Kudus. Seperti yang diberitakan Murianews.com, mereka tengah berwirausaha dengan berjualan takjil jelang buka puasa, ternyata tidak diketahui oleh sebagian guru-gurunya. Lanjutkan membaca